Home / Genre / Teenlit / 1. Perkenalkan, Cinta

1. Perkenalkan, Cinta

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 2 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Kota kecil lainnya dan pameran kerajinan UMKM lainnya. Kali ini Cinta dan mamanya di Jawa Timur, di suatu tempat bernama Batu. Cuacanya kering, tetapi tidak panas menyengat dan membuat orang ingin menanggalkan pakaian di tengah jalan seperti di Pasuruan beberapa hari yang lalu. Jawa Timur umumnya lembap dan panas. Kecuali Batu.

Konon katanya di Jawa Timur banyak sapi, yang artinya banyak peternak sapi juga.

Cinta sedang menatap salah satunya sekarang. Bapak-bapak setengah baya, kelebihan berat badan, dan mengenakan celana jins gelap dan sepatu bot. Topi koboi berwarna hitam dan meskipun terlihat konyol, topi itu tampaknya berfungsi dengan baik untuk melindungi matanya dari terik matahari.

Cinta bersimpati dengan orang itu meskipun mereka tidak memiliki banyak kesamaan. Bapak itu terjebak di sini seperti dia, di sebuah pameran kerajinan yang diadakan di tempat parkir alun-alun kota kecil. Istrinya menjajakan dagangannya: lilin hias beraroma dalam stoples kaca.

Mama Cinta juga menjajakan barang-barangnya. Lonceng angin antik dari perunggu dan perhiasan yang terbuat dari beling. Dia tidak akan memberi tahu siapa pun bahwa sebagian besar kaca itu adalah botol bir yang ditumbuk kasar dalam gelas batu lalu mamanya mengaku menemukan pecahan-pecahan berwarna biru, hijau, dan cokelat berserakan di pantai-pantai indah di seluruh Nusantara.

Dini adalah orang yang berjiwa bebas. Mamanya benar-benar telah menjelajahi negeri ini, tetapi juga sekaligus harus mencari nafkah, dan entah bagaimana pantai-pantai tidak dipenuhi pecahan kaca laut seperti yang dikatakannya.

Cinta jelas tahu karena dia telah menghabiskan seluruh hidupnya mengikuti Dini, mengenakan gaun boho yang serasi dari toko trifting, menjelajahi pasir pantai untuk mencari harta karun yang terkubur. Tujuan utama mamanya adalah menjelajahi dunia, tetapi perjalanan keliling dunia itu mahal dan harus memberi makan mulut lain, yaitu Cinta.

Dini adalah mama Cinta. Dia tidak suka dipanggil Mama. Cinta memanggilnya Mama hanya dalam hati, karena kalau menurut mamanya wajar saja mengemasi koper mereka dalam semalam dan nasuk ke dalam bus untuk pindah ke kota baru setiap beberapa bulan, maka wajar juga bagi Cinta untuk memanggil mamanya dengan sebutan Mama.

Namun, Cinta tidak bisa mengatakannya langsung kepadanya.

Umur Cinta tujuh belas tahun. Dini baru berusia tiga puluh tiga beberapa minggu yang lalu.

Tidak usah dihitung. Sedihlah, pokoknya.

Dini tidak pernah ingin menjadi seorang ibu, tetapi dia juga tidak ingin menyerahkan Cinta kepada seseorang yang tidak layak menjadi orang tua, atau begitulah yang selalu mamanya katakan ketika mereka di restoran, mendapatkan makanan gratis dari seorang pria menarik yang menatap mamanya dengan mata terbelalak.

Mamanya selalu sukses menceritakan kisah ini kepada setiap pria yang dia kencani. Sebenarnya, mamanya ingin menyerahkan Cinta untuk diadopsi, tetapi tidak pernah punya nyali untuk melakukannya. Mamanya selalu mengingatkan Cinta bahwa Cinta harus bangga bahwa mamanya memiliki standar yang tinggi untuk dirinya atau semacamnya.

Cinta sadar bahwa hidupnya aneh. Setiap sekolah yang pernah dia datangi, pasti ada setidaknya satu anak yang selalu mengingatkan dia bahwa dia aneh.

Ada beberapa hal yang dianggap normal oleh orang-orang yang tidak aneh seumurannya. Misalnya, punya lemari besar yang penuh dengan berbagai macam pakaian yang bisa dipadupadankan untuk membuat penampilan baru setiap hari.

Cinta dan mamanya tidak pernah membawa lebih dari yang bisa mereka masukkan ke dalam satu koper. Itu membuat Dini sering memakai barang yang sama berulang-ulang. Orang-orang menyebutnya aneh. Cinta menyebutnya inilah hidupku.

Kalau melihat celana jins Cinta yang sudah pudar dan robek di bagian lutut, Mansetnya digulung agar terlihat pendek dan modis, bukan hanya karena Cinta sudah terlalu tinggi untuk memakainya. Celananya terlalu longgar karena Cinta berat badannya turun karena jarang makan. Beruntung bagi Cinta, celana jins robek sedang tren saat ini.

Seharus dia senang, kan?

Jempol dan telunjuk mamanya menyadarkan Cinta dari lamunannya.

“Jangan seperti mayat hidup, Nak. Gimana supaya terlihat menarik. Kamu tidak pernah tahu kapan pangeran tampanmu akan bertemu denganmu.”

Mata mamanya hijau jernih, hampir sepenuhnya tidak berwarna ketika dia menatap Cinta. Ekspresi seperti itu di wajah Dini seperti sedang memberi Cinta nasihat yang sangat berharga.

Mata Cinta hijau gelap, dalam, hampir seperti tidak memiliki warna sama sekali, hanya dua pupil besar. Itu adalah hadiah genetik dari cowok mana pun yang memutuskan untuk menghamili seorang gadis berusia lima belas tahun. Dini tidak akan memberitahuku siapa dia, tetapi menurut perkiraan Cinta itu karena mamanya tidak tahu persis siapa ayahnya, bukan karena Dini mencoba merahasiakannya darinya.

Mereka cukup terbuka satu sama lain.

Cinta sudah cukup sering menonton TV untuk mengetahui bahwa kebanyakan orang tua tidak akan sering memberi tahu anak-anak mereka betapa mereka sangat berharap mereka mengadopsi anak-anak itu alih-alih memeliharanya.

“Aku tidak yakin mengapa seorang pangeran tampan muncul di sini,” kata Cinta sambil melihat ke sekeliling kerumunan pengunjung pameran kerajinan. Kebanyakan emak-emak tua dan beberapa anak berjalan dari satu stan ke stan lainnya. “Aku yakin itulah yang dikatakan setiap perawan tua tentang setiap tempat yang pernah mereka kunjungi,” kata mamanya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi sambil menyesuaikan salah satu lonceng angin di tenda kanvas yang dapat ditarik, yang berfungsi sebagai etalase sementara.

“Aku tujuh belas tahun, lho. Masih jauh dari ‘hampir menjadi perawan tua.’”

Mamanya tersenyum. Bibirnya yang mungil dan cemberut sama sekali tidak meninggalkan pertanyaan mengapa begitu banyak pria menganggapnya sangat cantik.

“Itu juga yang dikatakan setiap perawan tua waktu umurnya sudah tujuh belas tahun.”

Cinta mendengus dan kembali menatap pameran kerajinan. Paameran kecil akhir pekan, dengan hanya sekitar lima puluh stan yang didirikan di alun-alun. Ada jalan setapak kecil di antara semuanya dan stan mereka berdiri di antara ibu yang penjual lilin dan perempuan lain yang menjual pakaian bayi rajutan.

Seorang wanita dan suaminya berjalan bergandengan tangan, bersorak-sorai di depan lonceng angin milik mamanya. Cinta melihat mamanya berjalan santai ke arah mereka, entah mengapa tampak seperti teman lama, bukan penjual. Mamanya punya pesona tersendiri yang selalu berhasil membujuk orang untuk membeli apa yang dijualnya.

Dalam kasus ini, ada tiga lonceng angin yang terjual. Wanita itu membeli satu untuk dirinya sendiri dan dua untuk saudara perempuannya, lalu Cinta melayani mereka dengan aplikasi pembaca kartu yang terpasang di ponselnya. Dengan harga masing-masing enam ratus ribumereka berhasil mendapatkan cukup uang untuk menginap seminggu lagi di hotel melati di pinggiran kota.

Jumlah itu juga cukup untuk membeli tiket bus, kalau mamanya memutuskan untuk berkemas lagi.

Musim liburan semester baru saja dimulai, tepatnya tiga hari yang lalu, jadi siapa yang tahu seberapa sering mereka akan pindah sekarang.

Percayalah Padaku Cinta

Percayalah Padaku Cinta . Mengumpulkan Makanan yang Tersisa

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image