Nadia dan Leon melanjutkan perjalanan, Nadia siap dengan peta lusuh yang selalu dibawa dalam ranselnya. Leon memperhatikannya dengan rasa ingin tahu, peta itu bukan hasil cetakan modern, melainkan salinan tangan yang penuh coretan, tanda panah, dan catatan kecil.
“Kita ke mana lagi?” tanya Leon sambil menyeruput kopi hitam yang aromanya pekat.
“Situs Potro,” jawab Nadia singkat, matanya masih tertuju pada peta.
“Potro?” Leon mengernyit, tangannya sibuk menggeser-geser layar ponsel.
“Aku tak menemukan di Google,”
Nadia tersenyum tipis. “Itu sebabnya kita ke sana, melukis jejak yang masih samar dan diabaikan orang.”
Keduanya berangkat dengan mobil tua Nadia yang setia menempuh jalan sempit. Jalanan berkelok membawa mereka menjauh dari keramaian, melewati sawah yang hijau berkilau dan deretan pohon yang berdiri seperti penjaga waktu. Leon menempelkan wajah ke jendela, menikmati setiap detail yang merupakan hal baru baginya. petani yang sibuk bermain lumpur, anak-anak bersepeda di tepi sawah, dan langit yang perlahan memucat oleh sinar matahari.
“Di Jerman, semuanya tercatat rapi, tapi di sini, seperti ada rahasia yang sengaja disembunyikan.”
“Bukan disembunyikan, kadang hanya belum diceritakan,” sanggah Nadia.
Nadia memarkir mobil di tepi jalan tanah, lalu berjalan kaki memasuki hutan pinus. Situs Potro tak memiliki papan petunjuk resmi. Situs yang secara administratif terletak di Dusun Potro, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman ini merupakan bagian dari lingkungan yang alami dengan pepohonan pinus yang rimbun.
Hanya ada batu-batu besar yang sebagian tertutup lumut, serpihan andesit yang terserak, dan sebuah pohon-pohon tua yang akarnya menyembul di permukaan tanah. Udara terasa lebih dingin, seakan tempat itu menyimpan napas panjang masa lalu.
Saat mendekat, samar terdengar lantunan kidung yang dalam dan bergetar. Suaranya bukan seperti nyanyian biasa, ada irama yang teratur, berulang, dan menenangkan. Leon berhenti melangkah.
“Kamu dengar itu?” bisiknya.
Nadia mengangguk. “Sepertinya kita tidak sendirian.”
Di balik pohon, mereka melihat sekelompok orang duduk melingkar, mereka seperti sedang melakukan ritual. Nyanyian terhenti oleh langkah kaki Leon yang tak sengaja menginjak ranting kering.
“Selamat datang,” kata seorang laki-laki ramah. “Jarang ada yang mampir ke Potro.”
Nadia membalas salam. “Kami hanya ingin melihat-lihat. Kalian … teman-teman Mas Nanang, kan?”
Pria itu tersenyum pada Leon. “Saya Agung. Kami dari komunitas Dewa Siwa.”
Leon menatap dengan rasa ingin tahu yang memuncak. “Komunitas… Dewa Siwa?”
“Ya,” jawab Agung sambil tersenyum, “Kami mempelajari dan merawat nilai-nilai sejarah sebagai simbol keseimbangan, penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Siwa disini bukan dewa Siwa, tapi singkatan dari situs dan watu candi.”
“Apa kabar Nadia?” Seseorang tiba-tiba muncul dan menyapa, senyum Nadia melebar saat bersalaman dengan laki-laki yang menyapanya.
“Akhirnya kita bertemu juga di sini,” jawab Nadia.
“Ini … yang tadi kita ketemu di resto?” tanya Leon saat menyambut uluran tangan Nanang, ketua komunitas Dewa Siwa.
“Ya, Ini Nanang, dan yang menyanyi Agung, Tadi pagi kita ketemu di hotel,” ujar Nadia mengenalkan rombongan pecinta eksplorasi candi tersebut.
Seorang perempuan dari lingkaran itu menyodorkan air dalam cangkir tanah liat. “Silakan minum dulu. Kalian pasti haus setelah menempuh perjalanan jauh.”
Leon menerimanya dengan dua tangan. Air itu dingin dan segar, seakan berasal dari mata air tersembunyi. “Terima kasih,” katanya, sedikit canggung.
“Ohya ini Mbak Yuni, dia istri Mas Nanang,” Nadia menjelaskan.
“Wah, hebat, suami istri sama-sama eksplorer,” komen Leon. Mbak Yuni tertawa renyah sambil mengisi kembali cangkir tanah liat yang sudah kosong.
Percakapan mengalir tanpa terasa. Mereka duduk di tanah, mendengarkan cerita tentang Situs Potro yang konon pernah menjadi tempat pemujaan kecil pada masa lampau.
Menurut Nanang, tidak diketahui secara pasti sejarah situs ini, oleh penduduk sekitar situs ini dinamai Pancuran Buto karena bentuknya menyerupai kepala raksasa dengan mulut terbuka, gigi bertaring, dan ukirannya menyerupai naga. Situs ini berupa Jaladwara atau pancuran air berbentuk Kalamakara, ukiran yang berwujud Buto atau wajah raksasa yang biasanya ada di atas pintu candi sebagai tolak bala.
“Jaladwara …?” ulang Leon dengan alis bertaut.
“Jaladwara berasal dari bahasa sansekerta, jala yang berarti air, dwara yang berarti pintu. Jaladwara dimaknai sebagai pintu masuk atau keluar untuk air. Sebagai salah satu komponen penting candi atau petirtaan,” ulas Nanang. Leon mengangguk paham.
Masih menurut Nanang jika Jaladwara ditemukan biasanya ia akan memulai babak baru sebagai penghuni pekarangan museum
Namun, di pedukuhan Potro, Jaladwara yang hadir melanjutkan fungsi dan tugasnya bagi sekitar. Konon Jaladwara ini ditemukan di sungai Denggung, kemudian warga membawanya ke dukuh Potro dijadikan saluran air untuk keperluan sehari-hari.
.
Ia tidak menempati ruangan yang menjadikannya berjarak dengan masyarakat, tapi benar-benar hadir di tengah kehidupan. Seperti halnya Yoni yang menempati lahan pertanian merupakan simbol dan pengharapan akan hasil panen yang melimpah, hendaknya memang ditempatkan di mana ia ditemukan sehingga bisa melanjutkan tugasnya sebagaimana ia diciptakan
Selain Jaladwara ditemukan juga peripih, yaitu wadah berbentuk kotak atau bejana yang di dalamnya tersimpan benda-benda persembahan. Umumnya peripih ditemukan di sumuran candi, menunjukkan bahwa dulunya kedua benda tersebut merupakan bagian dari candi atau bisa juga sebuah petirtaan kuno.
Di situs ini tidak ada prasasti, tak ada catatan resmi, hanya ingatan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Komunitas itu datang bukan untuk mengklaim, melainkan menjaga.
“Bagi kami tempat ini hidup. Bukan museum yang mati,” kata Agung melanjutkan.
Leon mengangguk pelan. Di universitas, ia belajar arkeologi dengan metode ketat, pengukuran, katalog, publikasi. Namun, di sini ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia temukan di ruang kelas, sebuah kehadiran yang hangat dan manusiawi.
Nadia menimpali, “Itu sebabnya aku suka tempat seperti ini. Sejarahnya bernapas.”
Salah satu anggota komunitas tertawa kecil. “Dan kadang mengajak bicara.”
Leon tersenyum, merasakan getaran aneh di dadanya. Ia menatap batu berbentuk wajah itu, lalu memejamkan mata sejenak saat kidung kembali dilantunkan. Ada rasa damai yang merambat perlahan, seperti jatuh cinta yang datang tanpa peringatan.
“Boleh aku bertanya?” Leon membuka mata. “Apa arti Potro?”
Wira berpikir sejenak. “Dalam cerita lama, potro berarti peralihan. Tempat orang berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.”
Leon menoleh ke Nadia. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat dunia terasa menyempit hanya pada lingkaran itu. Ia menyadari bahwa yang membuatnya jatuh cinta bukan situs atau ritual, melainkan pengalaman yang utuh, jalan yang tak tercatat, orang-orang yang tulus, dan rasa menemukan makna di luar peta digital.
Sebelum meninggalkan lokasi, komunitas yang dipimpin oleh Nanang itu mengajak mereka duduk hening selama beberapa menit. Bukan melakukan ritual, di sana tidak ada mantra, tidak ada arahan, hanya diam. Leon mengikuti, membiarkan pikirannya kosong. Dalam keheningan itu, ia merasa lebih dekat pada dirinya sendiri.
Saat mereka melangkah pergi, Agung berkata, “Ceritakan Potro dengan caramu.”
Leon mengangguk mantap. “Aku akan.”
“Setelah ini kemana?” tanya Nanang sebelum berpisah.
“Hmmm, belum tahu,” jawab Nadia.
“Kalau gitu, ikut kami aja,” ajak NanaNg sambil mengajak rombongannya menuju mobil. Nadia mengikuti mobil Nanang yang berjalan pelan di depan.
Di perjalanan pulang, Leon tak henti tersenyum. “Nadia, aku rasa aku mengerti sekarang.”
“Mengerti apa?”
“Kenapa kamu selalu memilih jalan yang tidak ada di Google.”
Nadia tertawa kecil. Mobil melaju perlahan, meninggalkan Situs Potro yang kembali sunyi. Namun, bagi Leon, sunyi itu telah berubah menjadi suara yang akan terus ia ingat, setiap suara dari bebatuan adalah pengalaman baru yang membuatnya jatuh cinta dalam sekejap, pada Indonesia, pada perjalanan, dan pada kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.










