Home / Genre / Teenlit / 4. Keluarga Bakri Bakri

4. Keluarga Bakri Bakri

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
1
This entry is part 5 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Kinan menghentikan putranya yang melangkah ke dapur. 

“Aku butuh bantuan,” katanya dari penggorengan. Dia sedang membuat ayam goreng yang merupakan salah satu makanan favorit Adam sepanjang masa.

“Bisa nanti aja?” tanya Adam, mencomot sepotong mentimun dari salad di atas meja. “Aku harus mandi.”

“Ini tidak bisa menunggu.”

Kinan membuka kulkas dan mencari-cari, lalu muncul dengan sebongkah keju cheddar. Dia mengulurkannya pada Adam. 

“Noni butuh ini, rupanya mereka Cuma punya Colby Jack dan keluarga Bakri membenci Colby Jack.”

Kinan tersenyum. Teman-teman Adam menyebutnya macan—mama cantik, tetapi bagi Adam dia adalah mamanya yang membesarkannya, bekerja dan kuliah sambil meninabobokannya setiap malam ketika Adam masih kecil.

“Tentu saja,” jawabnya sambil meraih keju itu.

Keluarga Bakri adalah tetangga mereka, meskipun rumah mereka agak jauh karena kami berdua memiliki lahan yang luas dan lintasan balap di antara mereka. 

Adam naik motor bebek dari garasi, menyalakan mesin, dan mengendarainya ke rumah keluarga Bakri. Dia sudah mengenal mereka sepanjang hidupnya, dan mereka seperti orang tua kedua baginya, karena mereka tidak punya anak. Bakri dulunya juga seorang pembalap motorcross profesional, tetapi menurut Adam, Om Bakri tidak galak seperti Irfan Satria, papanya. Adam tidak tahu mengapa Om Bakri berhenti balapan, tetapi dia pikir pasti ada hubungannya dengan Tante Noni.

Adam menaiki tangga ke teras besar yang melingkar dan mengetuk pintu. Rumah bergaya Victoria itu mungkin umurnya sekitar lima miliar tahun dan meskipun mereka telah merenovasi bagian dalam, Tante Noni bersikeras mempertahankan bagian luar rumah yang asli dengan dekorasi kayu yang rumit dan jendela-jendela tua yang besar.

“Masuk, masuk,” kata Tante Noni, sambil membuka pintu.

Dia mengulurkan keju. “Aku cuma nganterin ini, Tante nggak akan mau aku masuk. Aku bau.”

Noni tersenyum. Adam melihat dia berpakaian lebih rapi dari biasanya dan masih belum menghapus makeup-nya. Tante Noni pasti masih punya urusan dengan pameran kerajinan UMKM. 

“Maaf, kamu pasti punya urusan lain, tapi masuklah dulu,” kata Noni sambil mengambil keju.

Adam mengikutinya ke dapur dan keluar dari pintu belakang menuju teras. Om Bakri sedang berdiri di depan panggangan, berbicara dengan seorang wanita yang belum pernah dilihatnya. Seorang cewek, mungkin seumuran dengannya, duduk di kursi teras, menatap kuku-kukunya yang polos dan alami, tidak dihiasi berlian imitasi dan cat kuku seperti Vindy.

Cewek itu menatapnya dan Adam tersenyum padanya. Tapi cewek itu melengos membuang muka.

Baiklah, siapa peduli cewek sombong gitu?

“Untuk apa kejunya?” tanya Adam pada Noni. Dia menoleh ke suaminya.

“Mana yang rasanya lebih enak?” tanyanya, sambil mengangkat dua potong daging hamburger.

Ada makan satu lalu yang satunya lagi. “Entahlah, yang pertama?”

“Sudah kubilang!” Om Bakri berkata sambil menunjuk istrinya. “Aku adalah penyedap daging terbaik.”

“Halah,” kata Tante Noni sambil menatap Adam. “Nak, kamu seharusnya lebih menyukai masakan Tante.”

Adam mengangkat bahu, bertanya-tanya apakah pasangan suami istri itu akan berhenti memanggilnya ‘Nak’ karena dia bukan lagi anak-anak. 

“Maaf, Tante. Coba tadi Tante kasih kode.”

“Kamu mau tinggal untuk makan malam?” tanya Tante Noni sambil menunjuk ke arah meja teras. “Mereka teman-teman kami, Dini dan Cinta.”

Adam tidak yakin nama mana yang dipunyai oleh orang yang mana. Si Tante hippie atau gadis super ceking yang terlihat seperti ingin membakar tempat ini. Kinan—mamanya menolak dipanggil mama, sedang memasak di rumah tentu saja, tetapi dia bisa makan burger lalu makan ayam buatan mamanya. Hampir saja dia bilang ya untuk tinggal sebentar ketika ponselnya berbunyi.

Pesan dari Vindy.

Maaf soal tadi. Biar aku menebusnya.

Sial, hanya beberapa kata di layar ponsel dan Adam sudah ingin terbang menemui Vindy. Dia menelan ludah. “Maaf, aku maunya sih, tinggal. Tapi aku harus pulang.”

***

Huh, orang kaya. Apakah rumah ini bisa lebih besar lagi? Perabotannya lebih bagus lagi? Orang-orang ini punya dapur lengkap di dalam rumah dan satu lagi di luar rumah, Cinta terkagum-kagum dalam hati.

Mereka duduk di dek kayu besar dengan perabotan teras yang mewah, pemanggang, dan dapur dengan meja dapur granit di luar. Bahkan ada bar dan televisi layar datar yang terpasang di dinding.

Tuan rumah memutar musik dari pengeras suara yang tersembunyi di atap. Malam itu sungguh indah, dan aroma burger di pemanggang membuat air liurnya menetes, tetapi sulit untuk tidak merasa cemburu karena ada orang yang menjalani hidup seperti ini setiap hari.

Seperti cowok yang baru saja datang ke sini membawqa sebongkah keju. Mencicipi burger seperti bukan masalah besar, seperti keluarga dan teman serta makanan gratis selalu datang kepadanya. Astaga, punya keju sebesar itu di kulkas seperti itu bukan masalah besar—bahkan itu sulit dipahami Cinta.

Noni baru saja menghabiskan lima menit terakhir berbicara tentang dia. Namanya Adam rupanya. Nama macam apa itu? Kurasa itu nama yang diberikan orang kaya kepada anak-anak mereka. Noni terus-menerus mengatakan bahwa dia anak yang hebat. Apa Noni tidak melihat bahwa tingginya sekitar satu meter delapan puluh dan tangannya yang kekar? Itu bukan lagi anak-anak.

Cinta mengabaikan sebagian besar obrolan sopan setelah suami Noni, yang dipanggil Bakri, memberinya burger. Noni mengatakan nama belakangnya juga Bakri, jadi nama lengkapnya Bakri Bakri. 

Cinta tidak repot-repot bertanya apa masalahnya, karena sepertinya dia tidak akan bertemu orang-orang itu lagi setelah malam ini.

Dia mengisi burgernya dengan keju dan mayones ekstra, saus tomat, acar, dan bahkan selada. Sebodo, dia menaruh semua yang mereka punya di burgernya karena sudah tersedia dan setelah satu gigitan dia menyadari ini jauh lebih enak daripada burger kaki lima mana pun yang pernah dia beli bersama mamanya. Dia bahkan meremas beberapa keripik kentang di dalamnya lalu menghancurkan roti di atasnya untuk menahan semuanya. Makanannya sangat enak. Dia bahkan tidak bisa berpikir jernih.

Lalu mamanya mulai bicara dan panca indra Cinta menjadi sangat waspada. Mata Dini tampak seperti sedang melamun dan Cinta mempersiapkan dirinya untuk apapun hal memalukan apa pun yang akan dikatakan mamanya.

Hanya saja, ketika Dini bicara, itu tidak seburuk dugaannya.

“Sejauh ini aku mencintai Pulau Jawa,” kata mamanya, sambil mengambil segenggam keripik kentang dari mangkuk di tengah meja. “Ketika kami pindah ke sini dari Sumatra, aku tahu aku tidak ingin menetap di kota besar lainnya, tahu? Aku menginginkan sesuatu yang kecil, lebih sederhana dengan orang-orang yang ramah.”

Noni mengangguk setuju dan butuh banyak hal agar dia bisa menutup mulut. 

Dini hidup di kota kecil? Ya, benar. Kota kecil adalah kutukan dalam hidupnya. Mamanya selalu berbicara tentang bagaimana mereka akan mengunjungi setiap kota besar dan menjual karyanya di sana. Mengapa tiba-tiba berubah pikiran?

“Itulah yang kusuka dari Batu,” kata Noni. “Hanya berjarak empat puluh lima menit dari Malang dqan satu setengah jam dari Surabaya, kalau-kalau kami butuh sesuatu. Tapi cukup jauh sehingga punya banyak ruang terbuka yang luas.”

Dini mengangguk. Kemudian bibirnya mengerucut dan dia menggelengkan kepalanya sedikit, seakan-akan kecewa dengan sesuatu. 

“Sungguh, sayang sekali. Aku berharap bisa menetap dan tinggal di sini, tapi sepertinya kami akan pergi besok pagi.”

“Kenapa begitu?” tanya Noni, sambil mengisi ulang cangkir teh manis Cinta dengan teko dari atas meja.

“Apa kamu akan memakannya, Sayang?” tanya Bakri, sambil mengangguk ke arah sisa burgernya. 

Noni menggelengkan kepalanya dan menyodorkan piringnya ke arah Bakri.

Di ni mendesah panjang dan dramatis. 

“Yah, seni adalah cara hidupku, tentu saja, tapi kalau kami ingin punya cukup uang untuk membayar uang muka dan sewa bulan pertama, aku butuh pekerjaan.”

Ya Tuhan… di sinilah mamaku memohon orang-orang baru yang baik hati ini untuk mempekerjakannya. 

Perut Cinta langsung mules.

“Dan kabar baiknya adalah aku menemukan pekerjaan konsultan seni yang bagus dengan bonus yang besar dan pekerjaan itu memungkinkanku bekerja dari rumah.”

Wah. Cinta tidak menyangka itu akan terjadi.

Mata Noni berbinar. “Bagus sekali, Dini!”

Dini menggelengkan kepala. “Sayangnya, aku harus melakukan wawancara dan mengurus dokumen secara langsung, dan itu di Semarang, enam jam perjalanan dari sini kalau tidak salah. Aku berharap aku tidak harus menyeret Cinta yang malang bersamaku, tetapi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di hotel.”

Percayalah Padaku Cinta

. Trek Balap . Kamar Pribadi Cinta

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image