Kung Kung adalah seekor anjing campuran ras-kampung jantan berbulu cokelat milik anak 12 tahun bernama Nehemia. Kung Kung seringkali diikat saja dengan rantai, hanya sesekali dilepas untuk menjaga halaman rumah keluarga Nehemia. Sehari-hari Nehemia sibuk di sekolah sehingga sering lupa pada Kung Kung. Yang memberi makan seringkali papa dan mama, Nehemia hanya sesekali saja mengajak Kung Kung jalan-jalan.
Kung Kung adalah hewan peliharaan keluarga satu-satunya. ‘Teman-teman’-nya sehari-hari hanyalah burung-burung gereja yang kerap singgah di halaman, di sekitar wadah nasinya. Burung-burung gereja itu tidak takut pada Kung Kung yang sering menggonggong karena diganggu anak-anak tetangga iseng di luar pagar. Mereka hinggap sebentar, mematuk beberapa butir nasi sisa, lalu terbang kembali.
“Huh, burung-burung kecil, alangkah beruntungnya kalian!” keluh Kung Kung yang sore itu masih dirantai di halaman, “Kalian bebas terbang ke mana saja, sedangkan nasibku begini malang. Dirantai, gak pernah disayang-sayang majikan, jarang pula diajak jalan-jalan!”
Salah satu burung-burung gereja itu tak sengaja mendengar keluhan Kung Kung. “Hai, perkenalkan, namaku Cip Cip. Oh iya, maaf ya kami belum permisi meminta beberapa butir nasimu.”
“Namaku Kung Kung. Oh, gak apa-apa, kok. Gak usah minta maaf. Silakan saja kalian makan sepuasnya.”
“Terima kasih.” Cip Cip dan teman-temannya melanjutkan makan di bawah sorot mata Kung Kung yang tampak sayu.
“Kalian gak punya majikan, rumah, tempat tinggal?” Anjing itu agak heran melihat burung-burung gereja itu makan dengan lahap dan riang gembira, “Mengapa kalian sepertinya gak khawatir? Sedangkan aku punya semua itu, namun hatiku gundah gulana.”
“Kami burung-burung liar membuat sarang di mana saja. Sewaktu-waktu manusia bisa saja menggusur sarang kami yang ada di bawah atap rumah, di dahan-dahan pohon. Telur kami sering pecah karena terjatuh atau disingkirkan manusia. Sedih, memang. Hidup kami gak mudah.” Cip Cip bercerita sambil sesekali mematuk nasi, “Akan tetapi kami percaya Tuhan, pemilik alam semesta, Pencipta semua makhluk hidup selalu memelihara kami.”
Rasa malu menguasai Kung Kung. Namun ia masih belum puas dengan jawaban Cip Cip. “Kalau begitu, kalian enak dong. Sedangkan aku gak pernah merasa dipelihara dengan baik oleh Nehemia, majikanku. Ia gak mau main denganku, jarang sekali aku dibawa jalan-jalan.”
“Jangan begitu, Kung. Coba saja kamu sekali-kali pergi dari rumah, mencari petualangan seru. Apakah Nehemia akan mencarimu?”
Usul Cip Cip itu didengarkan dan dipikirkan baik-baik oleh Kung Kung. “Benar juga ya, bagaimana jika aku coba sekali-sekali aja pergi dan hidup seperti burung-burung gereja itu?”
Cip Cip dan teman-temannya berpamitan setelah berterima kasih dan berjanji akan datang lagi besok-besok.
Beberapa hari pun berlalu. Kung Kung diam-diam menantikan saat keluarga Nehemia lengah, pintu pagar dibiarkan terbuka. Anjing cokelat itu buru-buru menyelinap keluar. Alangkah senangnya ia karena bisa bebas berjalan-jalan di kompleks tanpa perlu menunggu Nehemia membawanya. Ia berkelana dari satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya, mengais-ngais sisa makanan. Meskipun tidak lezat, ia mulai merasa seperti burung-burung gereja itu. Bebas lepas, mau ke mana saja gak ada yang mengatur.
Akan tetapi kemudian perut Kung Kung mulas. Ia ingin buang air, namun tak terbiasa sembarangan. Ia ingin pulang ke rumah Nehemia. “Tapi, jalannya ke mana ya?” Kung Kung sadar jika ia tersesat. “Aduh, langit mendung! Hari mulai malam! Nehemia, tolooong!”
Anjing itu mulai panik. Ia terus berkeliling sambil berusaha keras mengingat jalan pulang ke rumah. Dalam hatinya timbul penyesalan. Hujan mulai turun cukup deras. Kung Kung hanya bisa berteduh di bawah naungan pos ronda kecil di tepian. Bulu-bulunya mulai basah, ia menggigil kedinginan.
“Kung Kung!” Suara anak laki-laki berpayung mengejutkan dirinya. Ternyata Nehemia mengenalinya dari kejauhan. Anak itu berlari-lari dan memeluknya.
“Akhirnya ketemu juga! Kukira kamu hilang untuk selamanya! Maafkan aku, lalai memeliharamu selama ini, Kung Kung!”
“Guk guk guk!” Kung Kung gak kalah menyesal. Ia gak pernah segembira itu bertemu kembali dengan majikannya yang selama ini cuek.
Di bawah hujan, mereka segera pulang ke rumah. Kung Kung dikeringkan majikannya dengan handuk bersih, lalu segera mencari tempat di mana ia biasa buang air. Nehemia memberinya makan dan minum. Dalam hati anak itu bersyukur masih bisa menemukan anjingnya yang hilang. “Terima kasih, Tuhan! Aku menyesal udah lalai memelihara anjingku, semoga belum terlambat untuk kembali memperhatikan peliharaanku. Berikanlah aku kesempatan sekali lagi, Tuhan.”
Kung Kung gak kalah bersyukur. “Ternyata Tuhan memelihara semua makhluk-Nya dengan cara-Nya sendiri. Maafkanlah aku, kurang bersyukur selama ini dengan apa yang kumiliki.”
Tangerang, 24 Juli 2025











