Home / Fiksi / Cerpen / Ulang Tahun

Ulang Tahun

Ulang Tahun
1

“Kalau Ibu bisa melakukan apa saja di dunia ini untuk ulang tahunmu—apa saja — apa yang akan Ibu lakukan?”

Putri saya, Leyla, mencerminkan pertanyaan yang saya ajukan bulan lalu tentang ulang tahunnya ketika saya mencari petunjuk tentang apa yang harus saya berikan padanya. Pesta seperti apa yang harus saya adakan untuknya. Dia baru berusia lima tahun, terlalu muda untuk mencari petunjuk.

Kalau saya berkata, “Saya akan menghabiskan hari di lapangan yang penuh dengan anak kucing, anak anjing, anak harimau, dan anak singa, bermain dan berguling-guling di rumput, anak kucing di mana-mana!”, tidak ada yang akan menganggapnya sebagai petunjuk bahwa keinginan terdalam saya adalah anak kucing dan kemudian menghabiskan waktu mencari tahu apakah pengelola apartemen akan mengizinkannya, berapa biaya adopsinya, apakah kami mampu memberinya makan dan membawanya ke dokter hewan. Dan kemudian memberinya makan setiap hari, dan membawanya ke dokter hewan. Saya tidak ingin anak kucing.

Kalau saya bilang, “Jadilah dinosaurus! Raaarh!”, Layla akan memekik dan menjerit, menggemaskan dan gelisah sampai saya menemukan energi untuk menenangkannya lagi.

Saya merasa terlalu lelah untuk berimajinasi, untuk bilang, “Naik unicorn ke bulan dan main sepatu roda di atas pelangi.”

Saya tak mau main sepatu roda. Segala hal fantastis entah mustahil atau malah berubah menjadi sesuatu yang sebenarnya tak ingin saya lakukan.

Yang ingin saya lakukan hanyalah tidak menghadapi pertanyaan ini, melewati satu hari lagi tanpa menangis atau berteriak di depan Leyla. Mungkin mengambil sebatang cokelat hitam dari simpanan rahasia yang saya simpan di atas lemari dapur. Tapi dia terus mengikuti saya di apartemen kami seperti anak anjing seharian, aleman sejak ayahnya meninggalkan kami. Aku tak bisa mengambil sebatang cokelat tanpa membocorkan rahasia itu—satu-satunya rahasia yang menyatukan diri saya.

“Ibu tak tahu apa yang Ibu inginkan untuk ulang tahun Ibu,” kata saya.

Dengan mata terbelalak polos dan keegoisan yang naif, Leyla bertanya, “Bagaimana dengan yogurt beku?” Dia suka kedai yogurt itu—dia bisa mengambil sendiri dan mengoles yogurt dengan topping permen.

Saya tidak pernah suka yogurt, tapi tempat itu ramah anak. Lebih mudah mengajaknya ke sana daripada restoran mewah dengan dessert asli—kue cokelat, crème brûlée. Lebih murah daripada liburan atau bahkan jalan-jalan ke pantai. Bensin mahal. Dan—bagi Leyla—itu akan terasa seperti perayaan.

Dia mengharapkan sebuah perayaan.

“Tentu, kita bisa pergi ke Sour Sheila untuk merayakan ulang tahun Ibu.”

Bandung, 25 Juli 2025

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image