Home / Genre / Fiksi Sejarah / 11. Setelah Perang Kosovo Kedua

11. Setelah Perang Kosovo Kedua

Muhammad al-Fatih
This entry is part 13 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Perang Kosovo kedua, atau Perang Kosovo 1448 kiranya akan menjadi perang terakhir yang dilakukan oleh Sultan Murad II. Sebab, setelah itu, pasukan Salib harus melakukan recovery habis-habisan dengan cara bertahap, dan cukup memakan waktu. Melihat betapa hancurnya kekuatan pasukan Salib, Sultan Murad II melakukan perayaan besar—salah satunya mengadakan pesta pernikahan secara resmi, antara Şehzade Mehmed II dengan Gülbahar Hatun—yang sebelumnya telah menjadi selir Şehzade Mehmed II pada tahun 1446.

“Inilah pesta dua pernikahan.” Begitulah kata Sultan Murad II.

Seluruh pemuka negara, dan agama diundang ke istana. Tak lupa juga, seluruh rakyat pun diikutsertakan dalam perayaan ini. Semua bersuka cita—menyaksikan kemegahan pesta Kesultanan Turki Utsmani. Tak terlewatkan pula, semua anak-anak diberi hadiah berupa pedang kayu. Filosofi pedang kayu untuk hadiah anak-anak, selain sebagai perayaan bahagia, agar generasi penerus memahami arti perjuangan para leluhurnya. Inilah yang ditanamkan oleh negara yang berperan sebagai ayah bagi rakyatnya.

“Perayaan ini bukan hanya kemeriahan semata, tapi juga menumbuhkan anak-anak untuk berjiwa ksatria.” Syekh Aaq Samsedin.

Kopuz¹ pun dimainkan oleh Emre Can, seorang seniman musik pada saat itu, yang berbunyi:

“Ceddin deden, neslin baban
Ceddin deden, neslin baban
En kahraman Türk milleti
Orduların, pek çok zaman
Vermiştiler dünyaya şan
Orduların, pek çok zaman
Vermiştiler dünyaya şan
Türk milleti, Türk milleti
Türk milleti, Türk milleti
Aşk ile sev milliyeti
Kahret vatan düşmanını
Çeksin o mel’un zilleti
Kahret vatan düşmanını
Çeksin o mel’un zilleti”


Lagu ini berjudul Ceddin Deden, lagu yang menggetarkan dada pasukan Bizantium pada saat berjalan menuju medan perang melawan pasukan Bizantium. Ceddin Deden pun membuat suasana di Turki Utsmani meningkatkan moral seluruh kalangan. Laki-laki, perempuan, dewasa, hingga anak-anak bersuka cita. Pengantin, Şehzade Mehmed, dengan Gülbahar Hatun tetap memperlihatkan wajah yang bersahaja. Menyapa dengan ramah ke seluruh rakyat Turki Utsmani. Börek, Dolma, dan Sarma, menjadi suguhan istimewa di penjuru negeri Utsmani. Tak lupa juga kendi-kendi yang berisi Serbat², dibagikan dengan menggunakan kereta logistik yang disebut Karavan.

Pertunjukan adu pedang, menjadi salah satu hiburan yang tak boleh terlewatkan dalam pesta pernikahan—yang sudah ada secara turun temurun. Ini menjadi simbol harapan, bahwa kelak saat pengantin memiliki keturunan, bila keturunannya laki-laki akan menjadi seorang ksatria yang gagah, dan berani. Bila keturunannya perempuan, akan menjadi seorang yang anggun, namun tak hilang keberaniannya. Setelah itu, pengantin diarak menuju tenda oleh pasukan Akinji, sebagai simbol, bahwa pengantin adalah raja, dan ratu yang sudah memberi kebahagiaan bagi banyak orang.

Selama dua hari berturut-turut, perayaan kemenangan, dan pernikahan berlangsung dengan meriah, hingga terdengar ke Kota Konstantinopel. Itu membuat Kaisar Konstantinos XI Palaiologos Dragas sedikit terpukul, dan marah. Karena merasa tersaingi yang selama ini, kemegahan Konstantinopel selalu dipuji-puji selama bertahun-tahun. Maka, ia memanggil Megaduke Loukas Notaras.

“Notaras, aku ingin kekuatan Konstantinopel kembali seperti semula. Kau panggil saudaraku, Demetrios yang berada di Yunani untuk mendukungku mengembalikan kekuatan kota ini.”

“Baiklah, tuanku.” Jawab Notaras.

Megaduke Loukas Notaras pun berangkat menuju Yunani untuk menjemput Demetrios bersama Salvador, tangan kanannya Notaras. Setelah sampai di Yunani, Notaras menuju ruang pribadi Demetrios. Mereka mendiskusikan perihal Konstantinopel, dan permintaan Kaisar Konstantinos.

“Baiklah, Notaras. Aku akan mendukung saudaraku untuk mengembalikan kekuatan, dan kejayaan kota lagi.”

“Tapi, kita harus menemukan cara untuk menghancurkan Sultan Murad, Demetrios,” kata Notaras.

“Aku dengar, salah satu dari mereka berada di pihak kita. Siapa namanya, Notaras?” tanya Demetrios.

“Oh, ya. Dia Orhan yang sudah lama mengkhianati negaranya,” jawab Notaras.

“Kita akan memanfaatkannya untuk menghancurkan Sultan Murad, beserta seluruh orang-orang Turki,” kata Demetrios penuh ambisi.

“Bagaimana?” tanya Notaras.

“Kau akan lihat setelah kita sampai di Konstantinopel. Aku punya rencana yang sangat bagus,” jawab Demetrios.

Mereka, yaitu: Megaduke Loukas Notaras, Salvador, dan Demetrios melakukan persiapan untuk bertolak ke Kota Konstantinopel. Demetrios memberi perintah pada Komandan Jacob untuk mengumpulkan beberapa orang Ordo Templar yang sangat ahli dalam strategi. Ordo Templar yang sudah dikumpulkan, akan ikut menuju Konstantinopel. Genderang perang oleh Kaisar Konstantinos XI Palaiologos Dragas, kembali dibunyikan.

***

¹Kopuz: alat musik khas Turki, yang berbentuk seperti gitar. Alat musik Kopuz ini begitu populer di jaman Turki Utsmani.

²Serbat: minuman khas Turki berwarna merah seperti sirup.

Muhammad al-Fatih

0. Perang Kosovo Kedua (1448) 2. Sultan Murad Han Meninggal Dunia

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image