Beranda / Topik / Wisata / Punthuk Sukmojoyo, dari Ziarah ke Wisata

Punthuk Sukmojoyo, dari Ziarah ke Wisata

Punthuk Sumojoyo (tripadvisor)
2

Mengunjungi Magelang, identik dengan destinasi wisata Borobudur. Bukan hanya candi, tapi juga spot-spot menarik yang bisa dijadikan tempat melepas penat dengan menikmati pemandangan yang indah. Beberapa tempat wisata yang searah dengan Candi Borobudur dan bisa dikunjungi setelahnya adalah Candi Mendut, Candi Pawon, Punthuk Setumbu, dan Gereja Ayam atau Bukit Rhema. Selain itu, ada juga Svargabumi, Watu Putih Borobudur, dan beberapa desa wisata seperti Wringin Putih dan Balkondes Candirejo.

Punthuk Sukmojoyo juga bisa menjadi salah satu spot menarik untuk menikmati pemandangan empat gunung sekaligus, yakni Pegunungan Menoreh, Pegunungan Tidar, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi

Punthuk atau puntuk apabila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online berarti bukit kecil. Memang benar, karena Punthuk Sukmojoyo yang berada di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur ini merupakan salah satu bukit kecil yang, diapit Punthuk Setumbu dan Punthuk Mongkrong.

Objek wisata alam dan ziarah ini berada pada ketinggian 600 mdpl. Sejumlah orang juga menyebutnya Sukmojoyo Hill.

Dari area Punthuk Sukmojoyo akan disuguhi objek menarik, di antaranya tebing selfie dan rumah pohon. Jika matahari mulai bersinar di pagi hari, hamparan warna hijau bisa membuat terpesona. Daya tarik tempat wisata ini salah satunya adalah rumah pohon tempat bisa menyaksikan  pemandangan matahari terbit di tengah Gunung Merbabu. Pemandangan itu akan semakin indah jika datang ke Punthuk Sukmojoyo pada bulan Juli dan Agustus. Pada bulan itu sunset dan sunrise dengan jelas di Sukomojoyo.

Sukmojoyo Hill (tripadvisor)

Awalnya Punthuk Sukmojoyo dikenal sebagai yakni wisata rohani. Banyak orang mendatangi makam Kyai Muhammad Soleh di puncak Punthuk Sukmojoyo.

Punthuk Sukmojoyo, diambil dari nama salah satu pemuka Agama di daerah Magelang, yakni Gus Galih Sukmojoyo, yang masih merupakan keturunan Kyai Muhammad Soleh, salah seorang penasehat perang Pangeran Diponegoro.

Tempat ini dulu pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro dan pasukannya untuk mengintai musuh saat pertempuran melawan Belanda di Pos Mati yang berada di bawah bukit. Jika tentara Belanda berhasil naik ke Punthuk Sukmojoyo maka pasukan Pangeran Diponegoro akan naik lagi ke tempat lebih tinggi lagi yaitu Punthuk Mongkrong.

Punthuk Sukmojoyo dipilih sebagai tempat pengintaian karena lokasinya yang strategis untuk memantau pergerakan musuh dan sebagai jalur pelarian.

Ada kisah unik mengenai makam Kyai Muhammad Soleh. Awalnya makam Kyai Muhammad Soleh berada di daerah Majaksingi, tapi atas permintaan yang disampaikan melalui mimpi kepada Gus Galih Sukmojoyo, kemudian dipindahkan ke Punthuk Sukmojoyo pada tahun 2012.

Tempat ini akhirnya dikelola oleh warga lokal yang turut mengembangkan potensi wisata di sekitar area tersebut. Di makam Kyai Muhammad Soleh mulai  sering digelar kegiatan mujadahan setiap Ahad Wage.

Masyarakat yang datang hanya ingin berziarah. Namun, banyak peziarah yang terpesona dengan keindahan alam. Hingga warga lokal mengelola menjadi tempat wisata dan kini justru lebih populer sebagai tempat wisata.

Namun, untuk menuju ke sana pengunjung harus mengeluarkan perjuangan ekstra karena jalan menuju ke atas bukit memiliki tanjakan yang curam. Bahkan tidak cukup sampai di situ, pengunjung masih harus berjalan kaki kurang lebih 15-30 menit dari tempat parkir menuju puncak. Namun, semua rasa lelah itu akan terbayar setelah sampai di puncak,  begitu melihat keindahan alam yang menakjubkan.

Banyaknya wisatawan, perekonomian masyarakat juga turut terangkat dengan sendirinya. Sepanjang perjalanan menuju puncak banyak warung milik warga yang menjajakan makanan dan minuman tradisional khas daerah. Selain itu, warga juga mendapat penghasilan dari pengelolaan parkir kendaraan pengunjung.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *