Home / Genre / Cerita Anak / Libur Telah Tiba

Libur Telah Tiba

Libur Telah Tiba
1

Libur kenaikan kelas tiba, tapi Miko tidak menampakkan ekspresi ceria. Pagi itu Miko tidak semangat sarapan, padahal Bunda sudah menyiapkan ayam goreng kremes kesukaan Miko.

“Anak ayah kenapa?” tanya Ayah keheranan.

“Miko bosan, Yah, liburan nggak ke mana-mana,” sungut Miko sambil memainkan sendok.

“Ayah minta maaf, ya. Ayah sedang banyak kerjaan di kantor, jadi tidak bisa mengajak Miko liburan,” ujar Ayah sambil mengusap rambut Miko yang tebal.

“Iya, Bunda juga tidak bisa meninggalkan kerjaan, Sayang,” tambah Bunda menimpali.

Miko mendesah kecewa, ayah bunda selalu sibuk. Hampir tidak pernah ada waktu luang untuk menemaninya.  Miko melihat Sakti—anak Bi Ijah—asisten rumah tangga yang sudah ikut keluarga mereka sejak Miko masih berusia satu tahun.

Bi Ijah hanya datang pagi dan pulang saat pekerjaan sudah selesai. Bi Ijah tidak menginap, dia hanya datang di pagi hari,  pulang setelah menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dan memasak.

Miko tersenyum, tiba-tiba dia mendapat ide.

“Ayah, boleh tidak Miko ikut Sakti liburan di desa?’ tanya Miko penuh garap.

“Liburan?” Ayah balik bertanya, dilihatnya Sakti yang sudah mengendong tas punggung dan bersiap untuk berangkat.

“Boleh ya, Yah? Plisss,” pinta Miko merayu.

“Bi Ijah?” seru ayah memanggil perempuan yang sedang membawa nampan berisi gelas jus kesukaan Miko.

“Apa benar Sakti mau liburan?” tanya ayah.

“Eh, iya, benar, Pak,” jawab Bi Ijah.

“Apa Den Miko mau ikut Sakti?” tanya Bi Ijah, sejak tadi dia melihat Miko seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Boleh, Bi?” tanya Miko dengan berbinar.

“Boleh atuh, Den. Asal ayah dan bundanya Aden mengizinkan,” jawab Bi Ijah.

“Boleh ya, Yah?” pinta Miko lagi, kali ini sambil bergayut manja di lengan ayahnya.

“Apa tidak merepotkan, Bi?” tanya ayah pada Bi Ijah.

“Tidak merepotkan, atuh.  Asal Den Miko senang tidak apa-apa. Tapi rumah saya teh kecil dan jelek, maklum rumah di desa.” Bi Ijah menekankan.

“Wah, jadi boleh nih, Bi?” ujar Miko girang.

“Baiklah, jika Bibi mengizinkan, biar anak-anak diantar sama sopir aja, tapi nanti setelah mengantar saya ke kantor,” kata Ayah tegas.

“Hore, makasih Ayah,” sorak Miko gembira, dia segera turun dari kursi dan memeluk Ayahnya, setelah itu ganti memeluk Bundanya.

“Tapi janji nggak boleh nakal! Juga tidak boleh merepotkan kakek dan neneknya Sakti!” pesan ayah lagi.

“Siap, Yah,” jawab Miko cepat sambil meletakkan kepala di pelipis seperti orang hormat bendera.

Ayah menggeleng-gelengkan kepala, lalu segera meninggalkan ruang makan dan berangkat ke kantor setelah sebelumnya berpamitan pada bunda dan Miko.

***

Pukul sepuluh tepat Miko dan Sakti sudah berada di perjalanan diantar oleh Mang Diman, sopir kepercayaan ayah. Kedua bocah yang usianya sebaya itu tampak begitu gembira. Sepanjang jalan yang dilewati tak henti bergurau, merancang kegiatan yang hendak dilakukan selama di desa.

Udara pedesaan mulai terasa sejuk, Miko menurunkan kaca jendela mobilnya, membiarkan angin menerpa rambut dan wajahnya. Sepanjang jalan hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning menyejukkan pandangan mata. Di kejauhan gunung kehijauan menjulang tinggi seperti menyangga langit.

Miko sudah sering mendengar dari Sakti tentang anak-anak yang suka mandi di sungai, mengejar belalang di pematang sawah, atau bermain bola dibekas sawah yang habis dipanen. Semua permainan yang hampir tidak pernah dia lakukan selama tinggal di kota. Miko tersenyum-senyum sendiri membayangkan betapa heboh dan serunya semua permainan tersebut.

Mobil yang dikendarai mulai memasuki gerbang desa. Beberapa anak tampak sedang bermain di tepi sungai. Sakti melambaikan tangan, seorang anak seumuran berteriak gembira saat melihat sakti. Dengan cepat dia berlari mengikuti mobil yang terus bergerak menuju rumah Sakti.

“Sakti pulang, euy,” serunya gembira. Serentak anak-anak yang lain ikut berlari di belakang mobil. Miko menepuk pundak Mang Diman.

“Mang, kita turun di sini aja. Yuk, Sakti kita turun!” ajak Miko antusias.

“Kamu nggak papa turun di sini? Rumah kakek masih jauh,” bantah Sakti.

“Tenang aja, nggak apa-apa, kok. Lagian aku pengen ikut main sama mereka,” jawab Miko sambil menunjuk anak-anak yang mengelilingi mobil.

“Ya udah, yuk!” Sakti mengajak Miko turun.

“Mang, barang-barang kita langsung bawa ke rumah kakek aja, ya,” pinta Miko diikuti anggukan Sakti. Mang Diman hanya mengiyakan dan segera melajukan mobil kembali. Beberapa kali mengantar Bi Ijah dan Sakti pulang kampung, membuat Mang Diman mengenal desa itu dengan baik.

“Hai, teman-teman, kenalin aku Miko sahabat Sakti,” ucap Miko sambil melambaikan tangan.

“Wah, Sakti, teman kamu kasep pisan,” ujar Jajang dengan mata berbinar. Miko tersipu.

Tak butuh waktu lama, Miko segera berbaur, dengan gembira berlari-lari menyusuri sungai bersama teman-teman barunya, anak-anak desa Cikijing—sebuah desa kecil di Kadipaten Majalengka.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image