Home / Topik / Lifestyle / Renungan Hidup: Ketika Hidup Virtual Jauh Lebih Wah daripada Hidup Real

Renungan Hidup: Ketika Hidup Virtual Jauh Lebih Wah daripada Hidup Real

Renungan Hidup 20250826 (CNA)
2

Ada gak ‘sih orang zaman now ini yang sama sekali belum mengenal internet atau dunia maya? Meskipun orang tua atau kakek-nenek kita (Generasi Baby Boomers dan sebelumnya) barangkali masih gaptek, pastilah mereka juga tahu sedikit-banyak mengenai penggunaan komputer atau gawai apapun termasuk telepon selular. Mencetnya gak tahu, tapi pasti pernah lihat anak-cucunya di layar datar atau sekadar dadah-dadah, say hi.

Apabila pada awal penemuannya, internet hanya bisa diakses melalui komputer ‘mahal’ atau perangkat-perangkat ‘berat’ lainnya, lalu semakin berkembang hingga ke PC, merambah hingga menjamur ke warnet-warnet pada awal tahun 2000-an. Kini, seperempat abad kemudian, internet sudah semakin canggih aja sehingga tambah praktis, murah-meriah (meskipun harga paket kuota dan pulsa serta langganan wi-fi masih terasa mahal dan lemot!)

Jika jadul-jadul kita menikmati musik lewat piringan hitam, radio, walkman dan lain-lain, sekarang sudah ada MP3 hingga layanan streaming musik, mulai gratisan hingga premium alias berlangganan. Jika di masa lalu kita menikmati permainan ‘manual’ atau kelompok bersama teman-teman, juga hanya bisa menikmati gamewatch alias gimbot, zaman now hampir semua anak mengenal game online serupa ML, FF hingga Roblox.

Jika dulu kita menggunakan telepon hanya sebagai alat komunikasi, sekarang fungsi tersebut sudah berubah hanya sebagai pelengkap/pemanis aja. Paket telepon rumah-biasa terasa mehong! Kita sibuk chatting, WA call, video call hingga zoom meeting. Dunia seakan tanpa batas lagi.

Dunia maya pada awalnya memiliki banyak tujuan positif. Mendekatkan, menyatukan orang-orang yang terpisah benua dan samudra. Mempersingkat waktu komunikasi. Memberikan informasi, berbagi berita hingga cerita, bahkan tempat curhat hingga berkarya. Kemudahan-kemudahan dan kemungkinan semakin bertambah setiap hari, merambah segala aspek kehidupan.

Secara miris, hidup real kita tanpa sadar semakin tergantikan dengan hidup virtual. Lho, kok bisa? Apa aja buktinya? Kita tentu pernah marah-marah jika kuota kita mendadak habis karena keasyikan nonton shorts atau pas lagi mager rebahan sambil maraton drama. Kita ngambek jika sedang push rank, game mendadak nge-lag, wi-fi lemot, apalagi listrik padam. Bukan hanya nonton, bahkan untuk urusan nada-nada pemanja telinga kita lebih suka menggunakan headphone, headset hingga TWS. Bahkan saat berkendara, jogging hingga jalan kaki, sepasang gendang telinga kita bak disumpal hingga kedap, suara-suara dunia sekitar pun terabaikan.

Bukan hanya itu, apabila dunia luar memanggil kita, banyak kita jadi mudah sekali marah, merasa terganggu. Kita lebih suka membuka ponsel untuk baca Alkitab, seperti kutipan dari seorang pendeta, baca Firman sekarang pakai hape ‘suci’, bukan lagi Kitab Suci. Kita lebih suka ikut kebaktian online daripada datang ke gereja langsung. Ah, hanya buang-buang waktu berharga. Repotlah parkir. Malaslah harus nyapa teman seiman. Sama aja ‘toh, dari rumah juga bisa dengar khotbah. Dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Padahal hidup sejati kita ada di alam nyata, bukan alam maya. Nyawa kita tidak bisa dibeli seperti dalam game. Game over di game online, bisa start lagi, mulai lagi, bisa beli token atau tambah nyawa lagi. Namun jika kita game over di alam nyata, misalnya gara-gara meleng keasyikan joget dengar TWS tapi gagal dengar ada KA lewat, ya amit-amit bisa game over benaran, dah.

Sadarlah jika Tuhan mungkin bisa menegur kita lewat dunia maya, akan tetapi sesungguhnya Dia jauh lebih suka ditemui di dunia nyata. Kita barangkali merasa keberadaan Tuhan tidak kasatmata, ya, barangkali diibaratkan internet aja, bahkan mungkin ‘antara percaya-gak percaya’. Akan tetapi semua ciptaan-Nya yang bisa kita pandang, udara segar yang kita hela-embus, nyata adanya! Sambungan internet bisa putus-nyambung, kasih-Nya untuk kita tetap nyambung.

Sadari dan syukuri dunia nyata Anda. Jangan terlena dan terhanyut hanya dalam godaan hidup virtual yang manis indah namun sementara, fana, tidak kekal. Tuhan menantikan kehadiran, doa, serta aksi nyata Anda bagi-Nya dan sesama manusia.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 26 Agustus 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image