Home / Genre / Teenlit / 15. Kamar Adam

15. Kamar Adam

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 16 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Alarm rumah jelas merupakan hal yang dimiliki orang kaya. Seumur hidupnya, Cinta belum pernah melihatnya sampai sekarang. Adam tersenyum nakal lalu menempelkan jari di bibirnya, memberi isyarat agar dia diam. Lalu dia meraih tangan Cemara dan menariknya masuk ke dalam rumah. 

Dalam pikiran Cinta hanyalah kenyataan bahwa Adam memegang tangannya ketika mereka berjalan-jalan di rumah besar itu dalam kegelapan. 

Adam membawa membawanya menaiki tangga yang berada di samping rumah, bukan tangga utama yang dia lihat ketika dia ke sini. Mungkin tangga itu lebih jauh dari kamar orang tua Adam yang beradaa entah di sisi mana.

Cinta masih memperhatikan tangan mereka kami dalam kegelapan ketika kami berjalan menyusuri lorong berkarpet yang beraroma lavender segar. Meskipun Cinta tidak ingin memikirkan hal-hal ini, otaknya mulai mengingat kembali saat terakhir kali seseorang memegang tangannya. Rasanya itu setahun yang lalu. Ferry. 

Hanya seorang cowok yang suka nongkrong di apartemen rusunawa mereka untuk yang berpenghasilan rendah. Ferry sudah cukup umur untuk membeli bir. Dia selalu berbau asap rokok dan Cinta bahkan tidak menyukainya. 

Mengapa aku membiarkan diriku terlibat dalam situasi seperti itu? pikirnya.

Dia menggigil dan kemudian menyadari bahwa mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan tanda plastik besar di atasnya. Tanda itu berwarna putih dengan sudut membulat dan angka tiga puluh dalam huruf hitam besar berada di tengahnya.

“Kita sampai di sini,” bisik Adam, membuka pintu. “Aku minta maaf sebelumnya atas pakaian kotor yang berserakan di lantai.”

“Selama aku tidak menginjak benda yang menjijikkan, misalnya kondom bekas, aku akan baik-baik saja,” bisik.

Adam menyalakan lampu ketika merek sudah di dalam dan meletakkan tangannya di dadanya. 

“Aku terkejut,” katanya, matanya terbelalak seolah dia baru saja dikagetkan. “Aku tidak percaya itu yang kau pikirkan tentangku.”

Cinta berkacak pinggang dan menatap Adam. 

Adam tertawa pelan. “Oke, oke. Tapi kau sudah tahu aku melakukan semua urusan dengan cewek di gedung belakang Trek, bukan di sini.”

“Benarkah?” kata Cinta, menyipitkan matanya menatap Adam. “Tidak pernah di kamarmu? Aku tidak percaya padamu.”

Adam mengangguk. 

“Aku bersumpah. Aku tidak membawa cewek-cewek ke sini. Aku tidak mau mereka berpikir bahwa mereka sudah menjadi pacarku atau malah tunanganku.” Dia menggeleng kepalanya. “Tidak akan pernah terjadi.”

Tentu saja cowok setampan Adam Satria akan menjadi pemain yang hebat, kata Cinta dalam hati. 

“Kurasa itu rencana yang bagus,” kata Cinta sambil bertanya-tanya berapa banyak cewek yang tidur di malam hari sambil berharap merekalah yang bisa mengikat Adam sebagai kekasih.

“Aku harus buang air kecil,” kata Adam, sambil menuju pintu di seberang ruangan. “Anggap saja rumah sendiri.”

Cinta melihat sekeliling kamar tidur Adam. Kamar itu lebih besar daripada beberapa apartemen terakhir yang dia tinggali, dan itu bahkan belum termasuk kamar mandi dalam atau lemari. Kamar Adam rapi, hanya ada keranjang cucian yang meluap di dalam lemari yang menunjukkan bahwa dia memang tinggal di sana. Tempat tidurnya pasti berukuran besar kalau dilihat dari betapa besarnya tempat tidur itu, dan dilengkapi dengan selimut tebal berwarna hitam dan beberapa bantal.

Ada TV layar datar di dinding di bagian ruangan yang ditata seperti ruang tamu. Di sana ada meja kopi, futon, dan kursi berlengan, semuanya berwarna hitam. Ada lemari panjang dengan cermin yang terpasang, dan piala motor trail yang tersebar di berbagai tempat. Piala-piala itu semua lebih tinggi dari Cinta, dengan emblem nomor satu berwarna emas menyala di tengahnya.

Dia tidak punya foto apa pun di kamarnya, selain beberapa poster motocross. Jam alarm dan charger ponsel terdapat di meja samping tempat tidur dan pengisi daya ponsel. 

Adam cowok yang sederhana, pikirnya.

“Aku jarang di sini,” kata Adam saat keluar dari kamar mandi.

“Aku tahu,” kata Cinta. 

Dia mendorong pintu lemari dan terkesiap. Lemari itu sebesar kamar tidur orang normal. Adam punya sederet pakaian di sana, beberapa sepatu, dan banyak perlengkapan sepeda motor trail. Namun, seluruh ruangan itu kosong.

Adam muncul di belakangnya di ambang pintu. Kedekatannya yang tiba-tiba bercampur dengan aroma parfumnya yang maskulin, membuat jari-jari kaki Cinta kesemutan. Dia menegang, tidak ingin bergerak yang akan membuat Adam menjauh.

“Ya begitulah,” kata Adam, menunjuk ke bagian lemari yang kosong. “Ada banyak ruang. Aku rasa kau bisa menyembunyikan barang-barangmu di sini dan tidak akan ada yang tahu.”

Cinta meninggalkan koper dan tas ranselku di belakang mobil Adam, tetapi itu sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya. Barang-barang itu tidak bisa tetap di sana selamanya. Terutama kalau sampai turun hujan. 

“Jadi kamu akan membiarkanku bersembunyi seperti gelandangan?” 

Cinta sudah sudah menyesali kata-katanya yang bodoh. 

Memalukan. Ugh. 

Adam menggelengkan kepalanya dan melangkah kembali ke kamar tidurnya, meninggalkan Cinta yang terasa dingin tanpa kedekatannya. 

“Tidak, aku hanya berteman, dasar bodoh. Kau bisa tinggal selama yang kau mau, sampai kau mendengar kabar dari mamamu, dan tidak akan ada yang tahu.”

“Terima kasih,” kata Cinta menatap karpet yang berwarna abu-abu dan terasa seperti awan di bawah sandal jepitnya. 

“Aku sangat menghargainya. Hei, apa kamu punya telepon? Aku ingin menelepon mamaku biarpun sekarang sudah jam dua pagi.”

Adam memberikan ponselnya dan Cinta mencoba menelepon, tetapi kembali disambut pesan suara. 

Dia mendesah dan mengembalikan ponsel tersebut, menyadari bahwa wallpaper ponsel Adam adalah gambar motor trail-nya, bukan model selebriti seksi seperti kebanyakan cowok yang dia kenal.

“Ini,” kata Adam sambil membuka laci lemarinya. Dia mengeluarkan T-shirt motor trail dan celana boxer American Eagle dan mengulurkannya ke Cinta. 

“Handuk ada di kamar mandi. Kau bilang kau mau mandi.”

Cinta menatap pakaiannya, celana boxernya yang menyebalkan, lalu dengan ragu mengambilnya. 

“Terima kasih.”

***

Adam bersandar di kasur futon yang empuk dan berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada acara apa pun yang dia pilih di Netflix. Hanya beberapa langkah jauhnya, di bawah pancuran air panas kamar mandinya, ada seorang cewek yang membuatknya tergila-gila dan ingin mengenalnya lebih dekat. 

Cinta tampak sedikit lebih santai ketika di McDonald. dan bahkan lebih santai lagi setelah mereka sampai di rumahnya. Mungkin sebentar lagi Cinta akan bisa mengobrol dengannya seperti biasa. Obrolan yang tidak dipenuhi dengan sarkasme dan komentar sinis.

Mungkin saat itu Adam bisa mengupas lapisan-lapisan yang membentuk cewek misterius ini dan melihat seperti apa dia sebenarnya di balik tembok tinggi yang dia bangun sebagai penghalang.

Beberapa saat kemudian, pancuran air mati dan Adam menunggu seperti orang bodoh yang gugup sampai Cinta keluar. Adam siap untuk menemuinya lagi, untuk nongkrong dan menghabiskan waktu bersama. Meskipun, ya, ini masih pagi sekali dan mereka mungkin harus tidur. 

Adam belum siap untuk mengakhiri hari ini. Dan ini mungkin pertama kalinya dalam hidupku aku ingin berbicara dengan seorang cewek dan tidak sekadar menggerayangi untuk bermesraan. Adam menyelinap keluar dan membawa kopernya kembali ke kamar, menyimpannya di lemari seperti yang dia janjikan.

Percayalah Padaku Cinta

4. Menginap 6. Kesorean

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image