Kereta Api
Bukan adu balap di jalan bebas hambatan,
Bukan juga pacuan kendaraan beroda,
Perjalanan kereta api,
Serupa kehidupan manusia
Rel Kehidupan
Lokomotif pimpin deretan gerbong,
Baru atau lama, mutakhir atau klasik,
Beda-beda model, selalu ada nan serupa
Sang ular besi tak dapat jalan sendiri,
Selalu ada relnya; lurus, lengkung, tak pernah berputar menikung
‘Kereta api kehidupan’ bukan laksana wahana taman hiburan,
Tak bisa suka-suka; kiri kanan, lambat cepat, kapan saja bisa berhenti jalan
Selalu ada batas-batas tak bisa dilanggar, pantang dipungkiri
Kadang tiba di persimpangan, sesekali masih jumpai halangan,
Tertunda sejenak sebelum kembali melaju bukanlah akhir
Jika bertahan pada rel, takkan mudah tergelincir
Begitu pula halnya alam semesta kehidupan,
Rel tiap anak manusia sudah Tuhan patok, susun persiapkan
Bukan masalah nasib-takdir, pendek-panjang usia, melainkan bagaimana jalani
Berawal dari lahir, tiada henti napas menuju mati
Mudah atau susah perjalanan, syukuri dan nikmati
Stasiun Keberangkatan
Bak ranjang kelahiran, di sinilah titik awal berangkat
Laksana bayi perdana tatap dunia, calon penumpang disambut hangat
Perlahan melangkah ibarat bayi menuju bocah
Jangan langsung berlari, sabar menanti, tiada guna tergesa-gesa
Suka tak suka, mau tak mau, kereta segera tiba
Bersama-sama atau sendiri, nikmatilah perjalanan ini
Kereta mendekat, berhenti sesaat, siap berangkat
Bersiap-siaplah, jangan tertinggal
Kesempatan hanya satu kali, jika terlambat terbitlah sesal
Masinis
Sang Masinis tunggal, Dialah Tuhan
Kita bak hamba sahaya, para penumpang
Duduk manis atau berdiri sebab tak kebagian kursi, bergelantungan
Ke mana pergi, bagaimana Dia memimpin perjalanan
Kebijakan-Nya tak perlu kita pertanyakan
Ke dalam tangan-Nya percayakan
Keberadaan-Nya tiada siapapun sanggup gantikan
Nyawa semua anak manusia ada dalam kuasa-Nya
Tak perlu merasa diri penting, kuat hebat, paling utama
Bagaimanapun berbeda suku bangsa bahasa,
Sesungguhnya kita ada dalam deretan gerbong yang sama
Gerbong
Entah kapan kita tiba di stasiun terakhir
Gerbongmu sesak atau sunyi lengang,
Tiap anak manusia hanyalah satu jiwa kecil di antara sekian
Sedikit banyak perbedaan, semua adalah rekan
Ibarat deret gerbong, wajib bergandeng tangan mencapai tujuan,
Tiada guna siapa duluan, diri sendiri dipentingkan
Tiada penumpang terhebat, tiada yang terdepan
Semua gerbong tiba pada saat yang sama
Waktu
Waktu berlalu, tujuan akhir amat jauh tak menentu
Pemandangan jendela gerbong kiri-kanan bak berlari-lari berkejaran
Dari kaca kabin masinis, terpantau ujung rel terhalang kabut bak awan
Mengambang, mengawang di hadapan
Tak terduga bagaikan masa depan
Perjalanan kereta amat panjang, tubuh rentan letih lemah
Jemu melanda, hilang sabar, pacu amarah
Para penumpang desak Sang Masinis tambah kecepatan
Sebagian mengeluh niat batalkan perjalanan
Padahal kereta pantang putar arah, berbalik mundur
Jentera waktu tiada kenal tarik ulur
Mulia awal keinginan, cita-cita berpadu sejuta harapan
Mau cepat-cepat tiba di sana? Percuma tergesa-gesa
Proses sukses kadang lama, tiada gegas kemudahan
Kerap masih idamkan instan, tergoda bisik manis cobaan
Atau kebalikan, menyerah sajalah, putar arah
Semua sedang terjadi, perlahan terwujud nyata
Setiap hal ada masanya, Sang Masinis sudah atur
Perjalanan dalam alur rencana-Nya, kita cukup bersyukur
Ke dalam tangan-Nya segenap hati percayakan
Stasiun Terakhir
Gerbong pertama hingga terakhir
Isinya para pemimpin, pesohor hingga rakyat jelata
Tak selamanya duduk manis di bangku maupun tahta
Jika tiba waktunya, semua harus turun
Tiada kesempatan ‘tuk ulangi, tiada jalan ‘tuk kembali
Sebelum tiba di sana, nikmati perjalanan
Momen bersama keluarga terkasih jangan disia-siakan
Hidup sejati jauh lebih berarti
Puji sanjung dunia maya sia-sia belaka setelah mati
Stasiun kereta api selamanya ditinggalkan
Perjalanan tetap abadi dalam kenangan
Jakarta-Tangerang, 27-28 Agustus 2025
#puisipanjang











