“Kata-katamu (mulut/jarimu) adalah harimaumu.”
Membahas tentang kata-kata, siapa yang tak pernah bicara atau menuliskan kata apapun dalam sehari? Penulis rasa, setiap hari seseorang, sependiam apapun, tentu bicara (atau menulis) beberapa patah kata. Entah bicara sendiri atau kepada anggota keluarga, tetangga, sahabat, bahkan hewan peliharaan. Jikalaupun jarang banget bicara, tentu saja menuliskan sesuatu (seperti penulis opini ini yang kebetulan seorang introvert). Menulis entah status di media sosial atau whatsapp, menulis diari atau blog, pada intinya tentu ada kata-kata diluruhkan.
Meluruhkan kata-kata bukan hanya sekadar proses atau cara berkomunikasi. Setiap kata yang diucapkan atau dituliskan tentu memiliki tujuan dan makna. Ada sesuatu yang diucapkan agar didengar pihak lain. Ada yang dituliskan agar kelak dibaca seseorang di luar sana. Akan tetapi, pada zaman now ini kata-kata seringkali tidak dianggap penting atau luar biasa efeknya bagi yang mendengar atau membacanya. Padahal…
- Kata-kata mungkin gratis adanya, bebas/merdeka dikatakan kapan saja, dalam bahasa apa saja kepada siapa saja. Akan tetapi hal itu bukan berarti seseorang bisa seenaknya berkata-kata. Karena itu mari jaga dan pikirkan dahulu setiap kata-kata sebelum keluar dari mulut dan atau jari kita.
- Kata-kata hingga kalimat pernyataan sereceh-seremeh apapun di media sosial atau di depan orang banyak ibarat sebutir bola salju kecil yang bisa semakin besar saat berguling kemana-mana sambil terus menempelkan banyak salju/kata baru padanya. Apa yang kita sampaikan bisa-bisa ‘bertambah’, bukan berkurang, karena banyaknya mata dan telinga yang sudah mendengar atau membacanya. Berhati-hatilah dengan perkataan yang mungkin berdampak negatif. Apa saja misalnya? Kata-kata yang berpotensi membakar emosi. Kata-kata yang kurang elok atau kurang pantas diucapkan karena melanggar etika. Kata-kata yang kita sendiri tidak ingin mendengar atau membacanya. Kata-kata bisa lebih tajam daripada pedang, sanggup ‘melukai’ atau mengubah sikap seorang pembaca atau pendengarnya.
- Sebaliknya, sebagai seorang pendengar atau pembaca, tidak semua kata-kata yang kita baca atau dengar harus kita tanggapi dengan perasaan berlebihan (baper). Tidak semua orang sudah dapat melakukan poin pertama hingga kedua di atas, sehingga kita harus belajar memaklumi hingga memaafkan pelanggaran yang mungkin ada.
- Kita harus peka membedakan antara kata-kata teguran yang bermaksud baik dengan risak/bully. Teguran yang baik jauh lebih lembut dan berusaha menyadarkan, sebaliknya perisak hanya mengata-ngatai bahkan menertawakan dalam arti negatif. Kata-kata sindiran juga belum tentu bermaksud negatif, bisa diberikan dalam bentuk humor/satire yang patut direnungkan serta syukur-syukur bisa menjadi masukan demi perbaikan di masa depan.
5. Terakhir namun bukan yang paling akhir, kata-kata bisa menentukan nasib kita! Apa yang kita katakan bisa membuat kebaikan atau sebaliknya. Beberapa hari belakangan, beberapa oknum wakil rakyat Indonesia disorot tajam dan bahkan dicopot dari kedudukan empuk hanya karena kata-kata mereka di masa lalu (yang belum terlalu jauh). Kata-kata lisan/postingan yang kurang simpatik/empatik dengan kondisi rakyat, pernyataan yang jauh dari elegan/bijak, ditambah kelakuan semaunya di ruang publik yang mengecewakan mampu membuat mereka tersingkir. Dari peristiwa-peristiwa tersebut kita belajar bahwa pernyataan/kata-kata kita dapat sangat uplifting (menaikkan) atau menjatuhkan.
Kesimpulan: Peliharalah hati agar kata-kata kita bisa menjadi berkat. Sekalipun barangkali harta-uang atau waktu-perbuatan kita belum mampu sumbangkan bagi sesama, paling tidak kata-kata entah berupa doa, pernyataan hingga unggahan-status media sosial kita turut bekerja mendatangkan kebaikan dan hal-hal positif.
Seperti sebuah ayat Alkitab, Efesus 4:29 berbunyi:
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 1 September 2025.











