Home / Fiksi / Puisi / Kopi dan Kucing Liar

Kopi dan Kucing Liar

2

Kopiku hitamku, kupandang lumat sekian waktu
Kucing liar hitam itu, memandang dengan pilu
Hariku ceria ketika memelukmu, bertanya apa maumu?
Kopi hitam, kucing hitam, atau tinta hitam untuk melukis senyum di wajahmu?


Jangan tinggalkan aku, hanya kau satu, buatku luluh
Aku memang manusia biasa yang sering mengeluh
Namun, percayalah, aku ingin menjagamu dengan segala peluh
Namun, percayalah, aku ingin mengajakmu singgah di langit ketujuh


Langit apa itu? Aku tidak tahu
Mungkin hanya lirik dari sebuah lagu
Atau bahasa puitis dari pujangga lucu
Untuk memudarkan ego, meluluhkan hati wanita pemalu


Entahlah, aku di sini menunggu
Meskipun, kau hanya pergi ke toilet saja
Biarkan, aku di sini menunggu
Sampai kau memberikan senyuman indah luar biasa


Indah, nama itu memang indah
Bayanganmu masih ada, membuatku lelah
Memori atas keberadaanmu membuatku begah
Bagai minum air satu galon, habis sudah


Hari ini, tidak ada lagi Indah di hidupku
Sudah lama sekali, waktu itu, begitu saja berlalu
Kenangan itu samar-samar, aku pun sudah lupa, wajahmu
Sudah lama kita tidak bertemu, sejak peristiwa bodoh itu


Sekarang seperti kopi ini, hariku bersamanya masih hangat
Baru saja diseduh, dengan air panas yang sangat
Tidak punya hak lagi untukku mengingat
Kenangan itu biarlah semakin gelap dimakan penat


Hari-hari dulu begitu keruh
Hari-hari yang berlalu begitu rusuh
Membuatku bergetar tanpa henti
Mengingat begitu cepat perjalanan hidup ke mati


Kapan aku mati?
Kurasa tidak lama lagi
Bagai kopi yang dingin, cepat sekali
Bagai kucing liar yang mati, cepat sekali


Manusia meskipun rata-rata berumur lebih lama
Dari kucing liar, bukan alien atau raksasa
Bayi manusia pun banyak tidak berumur lama
Namun, manusia masih terjebak dengan kesombongannya


Kenapa manusia begitu sombong?
Padahal iblis dikeluarkan dari Surga karena sombong
Apakah manusia ingin masuk neraka?
Abadi di sana, disiksa, dipulihkan, disiksa lagi, tiada habisnya


Kopi itu tidak abadi, sama seperti manusia
Meskipun manusia-manusia lupa meminumnya
Kopi itu akan basi termakan usia
Lalu dibuang, begitu saja


Sama seperti manusia
Meskipun dijuluki paling sempurna
Jika tidak ada manfaat sampai kematian tiba
Dia akan mati, tanpa amal apa pun yang memberatkan timbangan kebaikannya


Jangan mati dulu, jika bisa
Beramal selagi bisa, jangan merugi, sia-sia
Namun, mati bukan keinginan kita
Tidak bisa diatur, sedemikian rupa


Bersiaplah, untuk sesuatu yang ada di depan sana
Sesuatu yang masih teramat rahasia
Sehari kemudian, sebulan, setahun, berapa tahun juga
Tidak ada yang tahu, kapan kematian akan tiba?

Kopi ini masih di sini, menunggu untuk diminum bersama
Sementara kau masih sibuk dengan urusan rumah tangga
Mengganti popok dan pekerjaan luar biasa lainnya
Sementara aku, hanya membuka laptop, tidak sebanding dengannya


Semoga Surga untukmu, Nona
Mungkin aku tidak pantas menemanimu di sana
Namun, semaksimal mungkin, aku berusaha
Menjadi lebih baik lagi, meski sulit luar biasa


Aku bukan pria luar biasa
Namun, kau dihadirkan begitu tepat pada waktunya
Tuhan sungguh baik, luar biasa
Memberikan pendamping, yang menerimaku apa adanya


Kopi ini sudah tidak hangat, tidak masalah juga
Kopi dingin tidaklah buruk kurasa
Tinggal tambahkan es batu, segar terasa
Tidak perlu murung terlalu lama


Mari melanjutkan hidup ini semaksimal yang kita bisa
Bagai kopi yang mencoba tetap nikmat rasanya
Bagai kucing liar yang mencoba tetap bersahabat dengan kita
Bagai manusia lain yang mencoba hidup dengan apa yang mereka punya.


Tangerang, 4 September 2025

#puisipanjang

Penulis

  • Achmad Aditya Avery

    lahir di Binong, Tangerang. Pertama kali menulis di blog ketika lulus dari SMA tahun 2011. Buku solo yang sudah terbit di antaranya: Kumpulan Puisi Anggap Saja Kucing Liar (2017); Tentang Sepi, Posesif, dan Pikiran Kotorku (2019); Aku Kenapa? (2019); Abstrave (2023); Novel Maukah Kamu Menulis Denganku? (2024); Hilang Cahaya (2025). Telah menulis lebih dari seribu puisi dan karya lainnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image