Home / Fiksi / Puisi / Rasa Markisa Masih Ada di Pangkal Lidahku

Rasa Markisa Masih Ada di Pangkal Lidahku

Rasa Markisa Masih Ada di Pangkal Lidahku

ibuku, oh, ibu
ibu akan menunjuk ke luar jendela di kebun buah
sementara dia memeras, menyiapkan alat
pengemas air dan mencuci serta
mengeringkan stoples beserta tutupnya
untuk pengalengan tahunan

beginilah cara kita mengukur hasil panen
katanya, jari-jarinya sudah berdecak,
bibirnya membaca mantra permulaan,
 gula, dan masa depan.

ibuku oh, ibu
menyimpan buah dalam sirup
di ruang bawah tanah dalam stoples tertutup
rapat, siap dibuka bersama desis manis.

buah yang mengembang itu lezat,
setiap sendok jus obat mujarab nikmat,
meski sekali aku tersedak,
menyemburkan obat dari perut ke kawan-kawan
di kantin sekolah,
mereka jijik dan marah.

salah satu dari mereka meninju lenganku
kucoba mengatur hela napas, menahan panik
ketika temanku berakar di tempat duduk
satu benih di antara banyak benih

suaraku perlahan lemah
menggumam mantra-mantra
ibuku oh, ibu
dengan rasa markisa
masih terasa di pangkal lidah

tapi temanku terperangkap dan tumbuh
ranting-ranting tanpa lengan
berwarna kuning mengerikan
dari tenggorokannya yang hancur luluh

kulenturkan jari jemari
dengan merapal hafalan
dalam gerakan yang diajarkan
ibuku, oh, ibu
musim demi musim,
tetapi aku terlalu pendiam.

kutinggikan suaraku yang memalukan
menjadi sebuah raung teriakan.
mantra pengurangan,
mantra minta maaf,
mantra api
untuk membakar ranting-ranting
yang menyerbu jadi abu

ibuku, oh, ibu
telah memperingatkanku dalam ajarannya
untuk bersiap menghadapi yang terburuk.

dan kau masih belum selesai.
kau harus meneriakkan mantra
untuk menarik keganasan keluar dari para korban.
dari udara. mantra untuk penyucian.
mantra penyembuhan. mantra menenangkan.
mantra untuk melupakan.
mantra permohonan,
karena apa yang telah kau lakukan
adalah pembunuhan,
dan pohon-pohon tidak akan lupa,
meskipun orang-orang  mungkin lena,
setelah mantramu selesai  purna

dan kau masih belum selesai.
makanlah sisa buahnya dengan cepat.
tuangkan sarinya ke tenggorokanmu.
mantra untuk menyembunyikan.
mantra perlindungan.
mantra pengampunan.
ingat kontraknya.
ingatkan benih-benih tetiba
tak seorang pun akan merawatnya
selain dirimu, ya, kamu

ibuku, oh, ibu
telah memperingatkanku bahwa
jeritan terakhir pepohonan
akan terngiang di telingaku
selama beberapa dekade mendatang, mengerut
mengeras di otakku,
menyebarkan sianida di sepanjang pikiran,
bingung ranting hingga aku
muntah lemas, berjalan keluar
dari dapur melalui pintu belakang
rumah keluarga kami
selama beberapa generasi

dan keluar ke kebun buah.
tanah yang kita curi
menuntut harga yang sangat mahal
atas kejahatan kita,
kata ibuku, oh, ibu

tetapi dia juga berkata
kita dilahirkan untuk tanah ini.
sesuatu dalam diri kita kembali
ke tawar-menawar
antara peradaban dan alam liar,
jauh sebelum pencurian dan hukuman tersiar

dekade dekaden memakan korban.
kenangan percikan kemasan kalengan,
kecelakaan di kafetaria, mantra perlindungan
yang telah kugumamkan
selama bertahun-tahun untuk menahan
aku di sini
selama ini
tetapi ingatan gagal,
dan dengan rasa markisa samar
di lidahku, pepohonan menjerit,
kebun amarah dan perjanjian.

ibuku, oh, ibu
ku telah menjalani hidup yang panjang.
kuhidup dengan buah satu-satunya pengobatan
satu-satunya alasan bagi kebun pepohonan
penjara kita
satu-satunya tempat kita bisa
menjalani hidup panjang
yang pantas kita dapatkan
di akhir yang pahit,
kenangan terbentang dan memudar,
ku ambruk ke tanah nan subur
pohon baru  berakar kokoh berdiri tegak
dari tengkorakku yang meledak
tubuh berubah menjadi pupuk
lidahku bicara pada tanah

ibuku, oh, ibu
apakah aku meninggalkan seseorang
untuk merawat kebun buah?
apakah aku juga mengajarinya sekitab mantra?

pupuk kandang neraka bocor
menyirami akar yang lapar

8 September 2025


#puisipanjang



Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image