“Lo ngejauhin gua?” Devon mengikuti langkahku.
“Lo ngerasa?” Aku bertanya tanpa menoleh padanya. Buku-buku di tanganku sudah hendak lepas, tapi aku enggan memberi alasan pada pria di sampingku ini untuk membantu. Aku harus bergegas.
“Sini gua bantuin bawa.” Tangan Devon terulur ke arah tumpukan buku di pelukannku, tapi segera kutepis halus.
“Gak usah. Gua bisa, kok,” kataku, seraya mempercepat langkah. Tak kuhiraukan Devon yang memanggil tanpa ikut beranjak. Setidaknya dia tahu, aku sedang tak ingin berlama-lama bersamanya.
Lagi-lagi bayangan tentang sebuah kejadian kembali membuatku bergidik. Aku tak sengaja melihat Devon bersama seseorang, dua hari yang lalu. Ini pertama kalinya aku melihatnya bicara begitu akrab dengan seorang perempuan.
Pemandangan tak biasa itu membuatku tertegun. Sampai tak sempat berpaling saat mereka terlihat mesra dan mulai saling menyentuh. Saat bibir mereka mulai bertautan, barulah aku tersentak. Tak ingin melihat lebih jauh, aku memilih kabur.
Aku bersahabat dengan Devon sejak di bangku SMP. Seiring berjalannya waktu tak bisa kupungkiri, kedekatan bersamanya membuat perasaanku sedikit berbeda. Aku tertarik padanya, sejak masuk SMA di tahun kedua. Devon yang atletis, penyuka basket, punya fans cewek bejibun dari mana saja. Tak ada yang bisa menolak pesonanya, termasuk aku, si kutu buku yang judesnya bisa sepanjang masa.
Devon teman yang menyenangkan. Tak suka membedakan seseorang dari kelas sosialnya. Buktinya kita bisa berteman, walaupun aku dan dia sangatlah ‘njomplang’. Bagiku, bisa berteman dengannya sudah seperti mengalami kejadian langka, semacam salah satu tanda keajaiban dunia, layaknya borobudur di masa kejayaannya.
Aku yang dari dulu terlalu suka nongkrong di perpus daripada di kantin, hampir selalu mendapati sosoknya yang tertidur di sudut tersembunyi. Tapi saat itu aku sama sekali tak tahu kalau dia adalah cowok paling populer di sekolah. Karena aku sama sekali tak tahu, dan tak pernah peduli. Entah itu kuper, atau cuek. Bodo amat, kala itu.
Dia yang waktu itu mengawali usil mengganggu konsentrasiku membaca. Nyebelinnya, dia melakukan itu sambil tetap menelungkupkan wajahnya di atas meja, dengan mata tertutup seolah tidur. Keisengan yang kala itu meresahkan, tapi kemudian sempat membuatku jengah.
Kebiasaan itu berulang tiap kali bertemu di tempat yang sama. Meskipun aku di sana hanya membaca, dan dia selalu tertidur, sampailah pada suatu titik, di mana itu menjadi kebiasaan yang kemudian dicari, ditunggu, jika salah satu tak menampakkan diri.
Tapi semua perasaanku seolah runtuh dua hari yang lalu. Devon tak lagi seperti pria yang selama ini kuinginkan. Aku merasa kecil. Jangankan bersaing, melihat mereka pun aku sudah tak bertenaga.
***
“Selamat pagi semuanya! Saya Luna Prisilia …. Biasa dipanggil Luna. Saya akan menjadi dosen tamu kalian untuk ….”
Aku tak bisa lagi mencerna kata-kata yang diucapkan wanita yang menyebut dirinya dosen tamu itu di depan ruangan kelas. Aku hanya terpaku pada sosoknya. Dosen wanita itu sangat cantik. Rambut ikal coklatnya yang terurai memikat, dilengkapi dengan penampilan semi casual dengan blazer warna terang, membuat wajah glowingnya makin memukau.
Aku terpaku, tubuhku lemas. Kusempatkan melirik deretan sebelah kanan, di bangku belakang, Devon tersenyum sangat lebar. Bahkan terlalu lebar … sampai aku khawatir itu bisa merobek pipi berlesung miliknya.
Dadaku seketika sesak. Bukan karena dosen itu sangat memikat. Tapi karena aku merasa kian ciut, mengecil hingga ingin menghilang, saat menyadari dialah wanita yang bersama Devon di suatu sudut kala itu.
Bagaimana bisa aku mengalahkan sesosok dosen tamu, Luna Prisillia … something, demi seorang Devon? No way. Very big ‘No’.
Mungkin waktunya aku fokus saja pada ujian. Di lihat dari sisi mana pun, itu lebih masuk akal.
Pengecut?
Gaklah. Soal ujian lebih mudah daripada berusaha mengalahkan Cleopatra.
Mundur sebelum berjuang?
Bukan–bukan. Mundur sebelum babak belur, itu baru benar.
08.53









