Home / Genre / Young Adult / 2. Malam Ini Aku Kembali Menghitung Kenangan

2. Malam Ini Aku Kembali Menghitung Kenangan

Cinta dalam Secangkir Hujan 1600x900
1
This entry is part 3 of 8 in the series Cinta dalam Secangkir Hujan

Semenjak pertemuan terakhir dengan Bay malam itu, mengapa aku merasa ada yang berbeda dengan hatiku? Ada apa antara aku dengan Bay sesungguhnya?

***

Malam ini aku kembali menghitung hujan, membilang entah berapa sajak yang terserak di sisa jejak kenangannya.

“Kau tahu apa yang paling kuyup dari hujan, Rin?” tanyamu tiba-tiba pada malam hujan itu, melontar ingatanku hingga deja vu menuju puisi yang pernah kau beri waktu itu, yang hingga kini masih terus dan tetap tersimpan rapi dalam sanubari terdalam milikku.

“Kenangannya?” jawabku dengan agak ragu.

Entah kenapa, selalu seperti itu. Selalu rinai hujan yang mengiringi nyaris di setiap pertemuan kami. Aku tak tahu kenapa. Juga tak tahu kenapa harus bertanya kenapa. Apakah semua merupakan pertanda, bahwa Bay, adalah sosok hujan yang sebenarnya untuk diriku? Namun, mengapa tak sekalipun ia pernah mengutarakannya kepadaku? Yang kutahu hanya setiap kali kami berpisah maka setiap itu pula bergumpal sesal menghujam dan menyesak di dada.

“Kenangannya?” ulangku, masih dengan ragu yang sama.

Bay menggeleng, lalu menghilang perlahan ditelan hujan.

Tak ingin terjerembab ke sesal yang sama, kukuntit butir hujan yang paling kilau, berharap dengan cara itu dapat menuntunku menuju Bay.

“Mampukah kau mengikutiku?” Butir kilau bertanya, yang hanya kujawab dengan turut bersamanya merebah di tanah, mengayun di daun atau sekedar menggertap sekejap di tratap atap, hingga akhirnya aku berhasil menyelinap di sela begitu banyak isi benak yang tak henti memercik.

Dan itu amatlah mengherankan. Memberiku sadar bahwa ternyata telah sejauh ini aku pergi.

Dan waktu yang mengerut memberiku begitu banyak tahu-tahu. Tak henti kutiti jalin kenangan yang kulintasi, hingga akhirnya aku tiba di posisi yang entah.

Sepercik ingatan menari dan berlarian di sekujur jejak waktu.

“Kita telah sampai” ucap si butir kilau, merenggutku dari pusat pusaran angan. Sesosok bayangan berdiri di samping dengan tebar senyum setengah khas miliknya. Senyum yang terkesan amat patah buah hantaman dunia.

“Bay!”

Aku terguguk di dekap hangat jemarinya. Dadaku gemuruh penuh festival rindu.

“Jangan pergi lagi, Bay .…”

“Aku tak pernah beranjak kemana-mana, Rin.”

“Jangan pernah lagi ada perpisahan untukku, Bay .…”

Bay memetik ujung butiran hujan yang terpantul di kedua mata kecilku, mengusap kristal cair tersebut dengan punggung jemarinya sebelum sempat jatuh dan bergelayut di selasar hidung.

“Aslinya perpisahan tak pernah ada, Rin. Semuanya tak lebih sekadar serangkai tunggu, yang menyelusup di antara jarak dan waktu, memberi kita perjumpaan sesekali di kini serta nanti .…”

Belum lagi aku berhasil mencerna untai kata yang disusupkan Bay ke telingaku dengan amat dekat, ketika kenyataan mencerabutku dari segala nyaman yang baru pertama kali ini pernah kurasakan.

Mataku kembali memburam. Aku benar-benar butuh sesuatu, yang mampu untuk menuntunku mengurai setiap helai rindu, dan menjadikanku terjebak selamanya di sini.

***

Mengapa kau tak pernah memahami perasaanku, Bay ….

(Bersambung ke part 3).

Cinta dalam Secangkir Hujan

. Cinta dalam Secangkir Hujan . Malam Menjelma Secangkir Kopi yang Mendingin Perlahan

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image