Home / Fiksi / Menghujat Takdir

Menghujat Takdir

Menghujat Takdir

Gemuruh di langit gelap membuat perempuan yang baru saja melewati usia dua puluh sembilan itu kalut. Berkali-kali dia mengguncang lelaki dengan tubuh meringkuk di balik selimut.

Empat puluh dua derajat. Dia mulai merasa khawatir. Pikiran-pikiran buruk mulai merayap ke dalam otak kecilnya.

“Kenapa, Sayang?” Lelaki itu mengucek mata beberapa kali sebelum duduk. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih.

“Badan Ayah panas tinggi. Beliau terus mengigau berkali-kali. Kita bawa ke rumah sakit aja, Mas.” Perempuan itu segera meraih kerudung siap pakai yang tergantung di kapstok.

“Aku siap-siap dulu, Sayang. Kita pinjam mobil Kakakku aja,” kata lelaki itu.

Perempuan itu mengayun langkah ke kamar sebelah, mengganti kain basah yang suhunya telah menurun dari dahi lelaki yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat.

Tak berselang lama deru mesin bersamaan bunyi klakson mobil terdengar. Perempuan itu berusaha untuk meraih tubuh lelaki berwajah pucat, dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk memindahkan tubuh lelaki itu di kursi roda. Suaminya tergopoh untuk membantu hingga lelaki itu bisa berbaring di kursi mobil.

“Kita ke Rumah Sakit Bahagia ya Mas, langsung ke sana aja,” kata perempuan itu.

Suaminya mengiyakan. Mobil melaju hingga speedometer menyentuh angka seratus sepuluh. Pukul dua dini hari. Lelaki di belakang kemudi itu menjaga fokus dan jarak dengan mobil kontainer dan truk besar. Perjalanan sampaii Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Bahagia ditempuh dalam waktu hampir empat puluh menit.

Begitu mobil berhenti di depan Instalasi Gawat Darurat, lelaki itu segera berlari untuk mencari seseorang yang berjaga di sana dan menemukan brankar kosong. Dia meminta perawat itu membantunya untuk mendorong dan memindahkan lelaki baya yang terbaring lemah.

“Maaf Pak, ini sudah hubungi customer service kami belum, ya?” pertanyaan itu tiba-tiba membuat perempuan di itu terbeliak.

“Memang wajib gitu, ya? Ini Ayah saya sakit. Badannya panas banget, dipanggil nggak ngerespon. Terus saya harus nelpon customer service yang saya juga nggak tahu nomornya!” katanya dengan suara serak.

“Maaf Bu, tapi aturannya gitu Bu, harus pesan kamar dulu atau paling nggak ada orang yang bawa ke sini. Ibu kenal perawat sini atau pegawai di sini?” kata lelaki berseragam putih itu seolah tanpa dosa.

Perempuan itu melihat kondisi lelaki yang terbaring di brankar semakin mengkhawatirkan.

“Tolong lihat. Kalau dia orang tuamu, apa akan kau biarkan dia begitu? Berapapun biayanya aku bayar!” katanya dengan berteriak.

Lelaki berseragam putih itu diam sejenak. “Ya sudah Bu, nggak apa-apa nanti saya urus. Kita ke dalam dulu untuk pasang infus,” sambungnya.

Beberapa orang berseragam putih yang semula tengah terlelap segera terjaga. Mereka sibuk untuk mengukur suhu, tekanan darah sampai memasang selang infus yang beberapa kali salah tempat.

“Ibu sebaiknya segera diurus untuk administrasinya. Biar cepet diurus sama perawat lain dan dipanggilkan dokter,” kata salah satu dari mereka.

“Dokternya nggak ada, Pak?” kata perempuan itu setengah tak percaya.

“Ini masih malam Bu, dokter juga butuh istirahat. Masih jam tiga. Tapi kita udah telpon dokter tadi. Mungkin lima belas menitan dokternya sampe. Rumahnya nggak jauh kok.”

“Ayah saya kritis, Pak! Tolong ditangani dulu,” kata perempuan itu dengan mata memerah menahan tangis.

“Sabar Sayang, kita tunggu ya. Aku jagain Ayah di sini. Kamu urus administrasi dulu ya, biar aku jaga Ayah sambil kompres beliau,” suaminya mencoba menenangkan.

Perempuan itu terpaksa melangkah ke luar ruangan dengan perasaan tak bisa dinarasikan.

#MY, 27 Juni 2023

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image