Adakah seseorang yang selalu sehat lahir-batin, jarang, bahkan tidak pernah sakit sekalipun dalam hidupnya? Banyak kita ‘dikit-dikit sakit’, mulai dari yang receh-remeh (masuk angin hingga kurang darah) hingga yang cukup berat/sukar sembuh atau masih dalam fase berjuang menuju pulih. Apapun penyakitnya, tentu saja tidak ada yang ‘enak’ atau sedemikian mudah disembuhkan. Kita harus berjuang keras untuk pulih bahkan sembuh. Tentu saja tidak seperti dalam iklan-iklan ‘obat warung’ minum sehari-dua hari langsung sembuh, perlu waktu dan usaha serta doa demi mencapai kesembuhan.
Merasa sudah ketat dan cukup berdisiplin menjaga kesehatan? Misalnya makan-minum hanya menu bersih dan bergizi, sering berolahraga, menjauhi asap rokok, istirahat atau tidur cukup dan lain sebagainya. Itu semua sangat baik untuk dilakukan, akan tetapi ada beberapa hal indah yang barangkali kerap kita lupakan.
- Seberapapun jumlah uang di tangan barangkali bisa membeli suplemen hingga obat-obatan, alat fitness, bahkan menyewa seisi pusat kebugaran, fasilitas perawatan di rumah sakit serta premi asuransi kesehatan. Akan tetapi ingatlah, uang tidak dapat membeli kesehatan dan kesembuhan!
Banyak sekali orang kaya (dititipkan berkat lebih) berinvestasi habis-habisan pada tubuh mereka, entah melalui operasi plastik agar kelihatan awet muda, mengawetkan sel tubuh ‘penting’ demi masa depan, dan masih banyak lagi prosedur kesehatan dengan harga fantastis. Barangkali bisa melakukan hal-hal demikian hanya impian bagi orang-orang tak berpunya. Patut diingat, menjaga kesehatan itu penting, peduli pada penampilan itu baik, investasi kesehatan itu berharga, akan tetapi semua itu bukan jaminan. - Kondisi kesehatan sempurna/jarang sakit tidak untuk selamanya, begitu pula kesembuhan atau pemulihan tidak selalu mudah untuk dicapai. Pernahkah mengalami? Seseorang yang kita kenal merasa dirinya selalu kuat-gagah hingga jarang sakit, nyaris sakti mandraguna bagai Gatot Kaca. Aktif merokok (bak cerobong kereta api jadul), sering begadang, aktif kerja siang-malam dan olahraga berat, bangga karena sehat-sehat terus, masih merasa fine-fine aja. Akan tetapi tiba-tiba saja, jika takdir Tuhan terjadi, dadakan tumbang/drop bahkan bisa saja dipanggil-Nya.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kasus semacam itu: jangan tinggi hati. Sikap masa bodoh atau acuh tak acuh terhadap kesehatan karena semua selalu baik-baik saja barangkali awalnya menguntungkan/membanggakan, namun rawan menimbulkan sikap abai hingga lalai yang kelak disesali. - Sebaliknya, terlalu berhati-hati/waspada juga tidak selalu menguntungkan. Membatasi diri dengan ‘tidak berani kemana-mana’, takut-ragu dahulu sebelum melakukan apapun, berpikir terlalu panjang hingga akhirnya diam saja, selalu hidup dalam cangkang kekhawatiran. Akibatnya bukan bertambah sehat, melainkan timbul ‘penyakit baru’ berjuluk kekhawatiran.
Sebagai contoh nyata, mendiang kerabat penulis. Beliau dan mendiang suaminya termasuk pasangan yang makan-minum ‘bersih’, sangat jarang makan di luar rumah, singkatnya ibarat hidup dalam ‘gelembung udara’ yang nyaris steril. Tiba-tiba saja jatuh sakit, malah dipanggil Tuhan ‘agak terlalu cepat’ karena penyakitnya termasuk tak bisa disembuhkan. Kisah ini memiliki amanat; boleh saja jaga-jaga, akan tetapi janganlah kelewat membatasi diri. - Saat merasa sakit, seringkali kita langsung ‘lari’ ke dokter-berobat hingga mencari pengobatan alternatif. Kadang syukurlah lekas sembuh, kadang malah bertahan lama/kambuh lagi. Kok bisa, apakah kurang ampuh? Apakah dokternya kurang jago? Semua usaha itu tidak salah, akan tetapi belum cukup!
Pernahkah terpikir jika penyakit tidak selalu disebabkan faktor luar (seperti cuaca), asupan, hingga keturunan? Beberapa pendapat bijak dan kutipan di media massa atau media sosial secara umum sering mengingatkan bahwa ‘penyakit timbul dari hati/pikiran’, apakah Anda setuju?
Benar, jika hati dan pikiran kita dipenuhi amarah serta akar pahit, dampak negatifnya akan terasa. Bukan hanya kepala pusing, bahkan tekanan darah bisa naik, menimbulkan penyakit pencernaan dan lain sebagainya. Jadi, apa yang harus kita coba lakukan? Berdamailah dengan diri sendiri terlebih dahulu. Tenangkan hati, jaga kesehatan mental, kesehatan fisik akan mengikuti. - Terakhir, bukan hanya minum obat, terapi, atau beristirahat saja. Cobalah meminta maaf dalam hati pada ‘apapun/siapapun penyebab penyakit’, belajar ikhlas dan melepaskan, bahkan berdoa-meyakini jika penyakit akan disembuhkan, bisa membantu pemulihan. Dengan memaafkan, bukan hanya beban hati terlepas, beban dalam tubuh juga akan terasa ringan. Dengan berdoa, Anda melakukan afirmasi kepada Yang Maha Kuasa. Cobalah dengan penuh keyakinan, rasakanlah bedanya. Semoga kita selalu sehat, amin.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 25-26 September 2025









