Entah mengapa pertemuan dengan Mas Bagus justru semakin menguatkan kenangan dengan Bhaskoro, mereka adalah sahabat. Kami sering melakukan eksplorasi menguak misteri tempat-tempat wisata bersejarah. Dulu … sebelum semuanya berubah, sebelum ada luka yang hadir dan membuat cerita perjalanan yang berbeda. Aku menutup semua tentang Bhaskoro, karena aku tak mau ada hati lain yang terluka.
“Maman, Puis-je demander quelque chose?” Elaine tiba-tiba bertanya dan menatapku serius. Aku balas menatap dengan kedua alis berjabat.
“Bien sûr.”
“Apakah Maman masih belum bisa melupakan Monsieur Bhaskoro?” tanyanya.
“Melupakan seseorang yang pernah punya arti khusus di hati kita bukan berarti harus membencinya, kan?”
“Je comprends. Tapi mengapa Maman tidak mencoba membuka hati untuk orang lain?”
“Bukan tidak mencoba tapi saat ini sedang ingin menikmati kesendirian,” kilahku.
“Apakah tidak kesepian?” cecar Elaine.
“Sendirian tak seburuk sangkaan. Ya, awalnya memang terasa asing dan kesepian, tapi kemudian menjadi jalan untuk mengenal diri sendiri dan belajar membaca kehidupan,” ujarku menjelaskan.
“Membaca kehidupan?”
“Membaca kehidupan adalah menyantuni diri sendiri dengan mengambil ilmu. Mungkin semacam tadabbur, karena ternyata banyak hal besar yang luput dari perhatian ketika kita sibuk mengejar,” jawabku lagi.
“Bisakah Maman memberi contoh?”
“Semisal dari bernapas pun kita belajar menghimpun makna, bahwa kita bukan hanya sedang menghela oksigen dan mengembuskan karbondioksida. Bahwa dalam bernapas pun Allah mengajarkan manusia tentang menerima dan melepaskan adalah sama pentingnya. Semua hal datang dan pergi bergantian. Reconnaissant lorsque vous recevez, reconnaissant lorsque vous lâchez prise.”
Aku mengarah menuju Jalan Diponegoro, tak jauh dari pusat kota, menuju sebuah museum yang berada di kompleks yang sama dengan Museum BPK dan eks Kantor Karesidenan Kedu.
“Tempat apa ini?” tanya Elaine saat aku menghentikan mobil.
“Masih ingat ketika berada di alun-alun? Menurutmu apa yang menarik dan terlihat menyolok bagi wisatawan?” Aku balas bertanya
“Patung Pangeran Diponegoro,” jawab Elaine cepat.
“Benar. Patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda dan menghunus keris untuk mengusir para penjajah terlihat gagah, menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung.”
“Tapi mengapa Patung Diponegoro menjadi ikon Kota Magelang?” tanya Elaine mencecar.
“Gubernur Jawa Tengah kala itu, Soepardjo Rustam sebagai penyumbang gagasan pembangunan monumen ini, dengan maksud agar masyarakat Kota Magelang dapat menghayati jiwa kepahlawanan dan pengorbanan Pangeran Diponegoro yang di tangkap secara licik oleh Jenderal de kock di Magelang pada Tahun 1830.”
“Aku kurang mengerti sejarah penjajahan Belanda di Indonesia,” ujar Elaine setengah mengeluh.
Aku tersenyum sambil menepuk bahunya, “Tak perlu mengetahui semuanya, tapi aku akan menceritakan sedikit.”
“Menurut Soepardjo Rustam, monumen Pangeran Diponegoro Kota Magelang yang memiliki panjang bangunan 5 meter dan tinggi bangunan 4 meter menjadi peringatan akan liciknya penjajah Belanda yang menunjuk Jenderal de Kock, pemimpin penjajah Belanda, waktu itu.” Aku mengambil jeda sejenak untuk meneguk air mineral, sekadar membasahi kerongkongan.
“Dari cerita sejarah, Jenderal de Kock mengatur siasat awalnya dengan mengundang Pangeran Diponegoro untuk membahas penyelesaian Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825-1830. Sudah pasti amat perang itu merugikan Belanda. Pangeran Diponegoro yang datang ke Kota Magelang untuk berdialog justru ditangkap Jenderal de Kock pada tahun1830, beliau lantas diasingkan ke Makassar hingga akhir hayatnya pada 18 Januari 1855,” lanjutku.
Kami mulai memasuki museum. Setiap pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk isi museum, ditemani pemandu wisata yang akan menjelaskan pada pengunjung. Sepanjang dinding museum banyak ditampilkan artefak, barang-barang peninggalan, dan informasi tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap Belanda. Selain itu juga tersimpan lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro, lengkap dengan lokasi penangkapan yang sama persis.
Elaine banyak mencatat dan mengambil beberapa gambar di museum yang juga dikenal sebagai Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro ini.
“Bangunan ini menyimpan sejarah penangkapan pangeran Diponegoro.” Pemandu berperawakan sedang menjelaskan sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa peninggalan Pangeran Diponegoro seperti 4 kursi yang digunakan untuk perundingan antara Pangeran Diponegoro dengan Jenderal De Kock, tempat sholat dan jubah Pangeran Diponegoro sewaktu nyantri pada Kiai Haji Muhammad Safei di Desa Brangkal Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen. Juga ada koleksi lain seperti Al Qur’an dan Kitab Taqrib yang berisi siasat perang. Kitab tersebut ditulis oleh Kiai Nur Imam dan diterjemahkan oleh Kiai Mlangi dari Sleman Jogja. Semuanya masih terawat dengan baik, meski kondisinya biasa-biasa saja.
“Sebelumnya bangunan Museum Pengabdian Pangeran Diponegoro ini merupakan rumah dinas Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Markus de Kock yang berdiri sejak 1810. Kemudian, gedung ini beralih fungsi menjadi Kantor Karesidenan Kedu. Peresmian museum baru diselenggarakan pada tahun 1969 oleh Soekarno, selaku Presiden Pertama RI,” lanjut pemandu yang masih berstatus mahasiswa fakultas Sejarah tersebut.
Ada juga lukisan-lukisan dari Daud Yusuf yang menerangkan Pangeran Diponegoro sedang perang dengan Belanda di Bukit Menoreh. Satu lagi lukisan Raden Saleh menerangkan Pangeran Diponegoro di depan Rumah Dinas Gubernur Belanda, juga lukisan Pangeran Diponegoro saat berusia 35 tahun sedang menaiki kuda Kiai Gentayu. Jubah yang digunakan saat perang dan untuk perundingan juga masih tersimpan rapi.
“Apakah semua peninggalan Pangeran Diponegoro tersimpan di museum ini?” tanyaku pada sang pemandu.
“Benar. hampir semua peninggalan sang pangeran tersimpan di museum ini. tapi tidak banyak yang tahu jika kawasan sekitar Candi Borobudur juga pernah menjadi saksi bisu pertempuran dahsyat Pangeran Diponegoro dan pengikutnya melawan tentara Belanda. Jejak-jejak Pangeran Diponegoro di sekitar Borobudur bisa dijumpai melalui Babad Diponegoro dengan sumber literatur dari Belanda,” papar sang pemandu.
“Wah, kalau itu saya baru tahu, Mas,” ujarku spontan.
“Hal itu bisa ditemukan dalam Babad Diponegoro, yang merupakan otobiografi Pangeran Diponegoro, tertulis beberapa lokasi wilayah di sekitar Candi Borobudur, seperti Klangon, Tingal, dan Menoreh yang nama aslinya adalah Trajumas. Sebagian besar nama-nama dalam babad dan lokasi sekarang masih sama. Di dalam Babad Diponegoro diceritakan jalur gerilya Sang Pangeran. Beliau bergerak dari Selarong (Jogja Selatan), menyebrangi Sungai Progo di Dusun Klangon, lalu singgah di selatan Kalibawang (Dekso), yang berada di Kulon Progo.”
“Masya Allah, saya benar-benar baru tahu jejak sang pangeran ternyata cukup heroik,” ujarku lagi. Jujur ini pertama kali aku mengetahui cerita perjalanan sang pangeran.
“Setelah melakukan restrukturisasi pasukan, Pangeran Diponegoro menemukan bahwa di kawasan Tingal sudah dipakai baris-berbaris pasukan Belanda. Beliau lalu memerintahkan pasukannya untuk menyerang Belanda. Peristiwa ini dituliskan di dalam babad di bagian Pupuh Maskumambang.” Sang pemandu melanjutkan penjelasannya.
“Kapan peristiwa itu berlangsung?” tanyaku penuh minat.
“Menurut catatan Belanda, De Java Oorlog atau perang Jawa, berlangsung pada 27 November 1825 dan tercatat Pangeran Diponegoro mengirimkan pasukan berjumlah 4.000 orang, ditambah 800 orang pasukan senapan. Korban jiwa yang melayang mencapai sekitar 300 orang, kebanyakan korban jatuh di Sungai Progo.”
“Dan pasukan Diponegoro menang?”
“Akhirnya Tingal berhasil dikuasai dan menjadi basis pendukung Diponegoro, yang mendapatkan rampasan dua meriam Belanda. Selain Tingal, di kawasan Borobudur ada tempat lain yang juga dikuasai, yaitu Bukit Gondokusumo, nama tersebut diambil dari nama salah satu basya atau panglima perang Diponegoro. Selain itu kawasan Salaman di Menoreh, sempat juga menjadi transit Pangeran Diponegoro menjalani pengobatan selama sepekan setelah terkena sakit malaria. Setelah itu Beliau ditangkap dan tinggal di pesanggrahan di Magelang yang dibuat oleh Belanda.”
“Tapi saya pernah dengar Pangeran Diponegoro marah kepada Bupati Kedu, apa berita itu benar?” Aku menanyakan penggalan cerita yang pernah kubaca
“Benar. Saat awal Perang Jawa, Pangeran Diponegoro menugaskan beberapa panglima perangnya pergi ke wilayah sekitar Borobudur dan mendudukinya. Beliau memerintahkan untuk meratakan Kedu. Hal itu dilakukan karena waktu itu Bupati Magelang yang kala itu masih bernama Kedu berpihak pada Belanda. Bahkan sang bupati bersama Belanda pernah mengirim pasukan ke markas Diponegoro di Selarong, hingga membuat Pangeran Diponegoro marah besar. Menurut sumber lain, pada Babad Wanurejo, sejak 1799 di Tingal sudah ada Kadipaten Wanurejo yang berdiri otonom dan juga menentang Belanda. Bahkan di wilayah ini juga terdapat berbagai macam peninggalan Pangeran Diponegoro, yakni masjid, bedug, genderang perang Pangeran Diponegoro, dan juga pesanggrahan.”
Perjalanan mengelilingi museum selesai, wilayah Magelang ternyata sarat dengan saksi perjuangan Pangeran Diponegoro, itulah mengapa monumen Pangeran Diponegoro dibangun sebagai ikon untuk mengenang jejak sang pangeran dalam melawan kelicikan penjajah.
***
Note :
Puis-je demander quelque chose: Apakah aku boleh bertanya sesuatu.
Reconnaissant lorsque vous recevez, reconnaissant lorsque vous lâchez prise.: Bersyukur saat menerima, bersyukur saat melepaskan










