Home / Genre / Teenlit / 10. Danau Buatan

10. Danau Buatan

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 11 of 28 in the series Percayalah Padaku Cinta

Matahari mulai terbenam di barat, yang berarti semua orang sudah menuju ke danau. Danau Batu Anyar adalah danau buatan yang kecil saja, hanya cukup untuk beberapa jet ski, bukan perahu sungguhan, tetapi itu satu-satunya tempat yang layak dikunjungi di kota ini. Setidaknya sampai remaja seperti Adam cukup umur untuk minum-minum secara legal. Kota Batu punya banyak bar dan kafe.

Adam masih memikirkannya saat tiba waktunya pulang kerja. Dia mengendarai sepeda motor trail kembali ke rumah sambil memikirkan Cinta. Cinta ada di dalam pikirannya ketika dia mandi dan ketika memilih pakaian untuk dikenakan. Adam membayangkan wajahnya.

Cewek itu tampaknya bukan hanya membencinya, Cinta bahkan tidak ingin mengenalnya untuk memastikan mengapa dia begitu padanya.

Adam tidak tahu apa yang telah dia lakukan hingga Cinta begitu memusuhinya. Dia jelas membutuhkan teman.

Akan menyenangkan kalau dia ikut ke danau. Tentu, Adam harus menghindari Vindy dan beberapa gadis lain, tetapi Dia yakin dia bisa memarkir pikap di bagian gundukan pasir yang terpencil dan menemukan cara untuk memenangkan hati Cinta.

Mungkin Cinta benar.

Mungkin dia merasa terganggu karena Cinta tidak menginginkannya.

Oke, itu bukan mungkin lagi.

Adam menatap bayangan di cermin sambil mengoleskan gel ke rambutnya. Cewek-cewek selalu menyukai dia. Dia mewarisi ketampanan papanya dan Kina—mamanya—berkata bahwa Adam mewarisi kepribadiannya yang menawan.

Bukan sombong, tetapi memang begitulah adanya.

Dia menyukai sport, kulitnya putih kecokelatan, dan mirip papanya. Wanita yang lebih tua menyukai Irfan Satria. Papanya masih merupakan nama besar di dunia motocross meskipun dia belum pernah balapan secara profesional sejak sebelum Adam lahir.

Adam pernah melihat ekspresi Kinan ketika wanita lain memandangi papanya. Kinan selalu berkata bahwa tidak apa-apa Adam untuk berkencan dengan siapa pun, tetapi begitu dia aya menemukan cewek yang sangat dia sukai, dia harus bersikap tenang dan membiarkan cewek itu menjadi satu-satunya.

Kinan memang manis seperti itu. Tapi dia salah tentang satu hal—Adam mungkin menawan, tapi dia tidak punya kepribadian seperti mamanya.

Adama tidak ingin menikah.

Tapi kenapa dia tidak bisa melupakan Cinta?

Apakah karena dia tidak bisa memacarinya?

Bukankah itu membuatk Adam jadi cowok tolol dalam segala arti kata?

Sial.

Bayangannya meringis balas menatapnya.

Aku memang orang tolol. Aku melihat seorang cewek cantik di rumah Tante Noni dan ketika dia tidak menghampiriku, aku jadi kesal karenanya. Aku menghabiskan beberapa jam terakhir meratapi gadis ini, bertanya-tanya apa yang bisa kulakukan atau katakan untuk membuatnya menyukaiku. Aku benar-benar orang tolol.

Dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Lalu dia menekuk pergelangan tangannya dan putar kepalanya untuk mengendurkan urat leher yang tegang.

Sadarlah, Adam. Kamu tidak ingin menjadi orang yang tidak sopan.

Jika Cinta tidak menyukainya, berarti Cinta memang tidak menyukainya. Tidak apa-apa. Lebih baik dia puas dengan adanya cewek0cewek lain yang menyukainya.

Mereka toh, lebih dari cukup.

Kata-kata Cinta terngiang-ngiang di benaknya.

Kamu pasti sakit hati karena aku tidak berusaha keras untuk berhubungan denganmu, ya?

Mendengarnya mengatakan itu memang menyakitkan, tetapi Cinta benar. Adam belum pernah ditolak seumur hidupnya.

Harus ada yang pertama kali untuk semua hal.

***

Semua orang sepertinya ada di danau ketika Adam datang. Kebanyakan dari mereka lebih tua darinya, tetapi dia sudah mengenal mereka sejak masih kecil, jadi mereka tidak keberatan membiarkan Adam bersantai bersama mereka. Ditambah lagi, mereka membawa makanan dan minuman.

Adam memarkir pikapnya di tepi danau, tepat di dekat jalan. Itu dilakukannya kalau-kalau dia memutuskan untuk pergi cepat-cepat malam ini.

Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri berhenti memikirkan Cinta dan membiarkan dirinya hanyut dalam suasana pesta. Tetapi kalau-kalau pesta tidak berhasil, dia mungkin ingin menyerah.

Tidak ada yang lebih merusak suasana pesta seperti meminta teman-temanmu untuk memindahkan kendaraan mereka agar kamu bisa keluar.

Adam mengambil minuman kaleng dan meninju Andre, salah satu temannya dari trek. Andre seorang senior dan tahun ini memiliki peluang bagus untuk masuk ke sirkuit motocross profesional jika dia terus memenangkan balapan.

“Hei, bro,” kata Andre, sambil menghancurkan kaleng minumannya yang kosong dan melemparkannya ke bak pikapnya.

“Kamu benar-benar sendirian malam ini?”

Adam mengangkat bahu sambil tersenyum sombong. “Cuma gara-gara aku selalu pergi dengan cewek, bukan berarti aku harus datang dengan cewek.”

Abdre mendongakkan kepalanya dan tertawa. “I feel you, bro. I feel you.”

Mereka duduk di bak pikap Andre dan minum serta mengobrol tentang apa yang terjadi sejak liburan sekolah dimulai. Andre tidak sering keluar di lintasan papa Adam akhir-akhir ini, tetapi itu karena dia berlatih di Malang Motocross Park, dengan seorang pencari bakat profesional. Adam berharap dia juga akan berada di sana ketika semakin dewasa. Yang perlu dia lakukan adalah terus berlatih, terus membalap, dan tidak cedera. Tidak ada yang merusak karier balap seperti beberapa tulang rusuk yang retak atau pergelangan kaki yang patah.

“Kamu dan Vindy Natasya, ya?” kata Andre, membuka kaleng minuman lagi.

“Kami tidak ada apa-apanya,” kata Adam, menggelengkan kepala.

Adam hampir merasa Vindy akan menghampirinya, bersikap seolah-olah mereka ada apa-apanya, karena begitulah nasib buruk biasanya.

Dia melihat sekeliling untuk berjaga-jaga, tetapi tidak melihat apa pun selain pasir dan air serta orang-orang yang melakukan kegiatan mereka sendiri di sekitar berbagai api unggun.

“Kapan kamu akan pacaran serius, bro?”

Adam mendongakkan kepala dan meneguk minumannya. Dia baru minum, jadi masih terlalu dini untuk membicarakan hal-hal seperti ini.

“Eh, belum?”

Adam meremas kaleng itu dan melemparkannya ke belakang pikap ruk Andre. Dia tahu Andre mendaur ulangnya dengan harga sekitar lima ribu per kilo, jadi dia tidak merasa bersalah karena pada dasarnya membuang sampah sembarangan di pikap Andre.

“Kamutahu, banyak cowok rela memberikan satu ginjal mereka untuk mendapatkan banyak cewek sepertimu, dan kamu bahkan tidak ingin mempertahankannya.”

“Bro, kalau kamu akan mulai mengasihani diri sendiri, kamu harus melakukannya di tempat lain,” kata Adam, menunjuk ke kejauhan untuk memberi Andre gambaran tentang ke mana dia bisa pergi. “Malam ini seharusnya menyenangkan, bukan pesta kasihan tentang mengapa bokong jelek macam kamu tidak bisa mendapatkan cewek.”

Dia mengepalkan dadanya dengan pura-pura kesakitan. “Kerad, bro. Kerad.”

“Eh, Adam?”

Suaranya lembut, feminin, dan mengejutkan mereka berdua.

Adam berbalik dan melihat Agnes Lupita berdiri di samping pikap Andre. Handuk pantai melilit tubuhnya.

“Seperti jarum jam,” kata Andre, menggelengkan kepalanya. Dia meraih kaleng minuman lagi. “Cewek-cewek nggak bisa jauh dari cowok satu ini.”

“Diam, bro,” kata Adam pelan sehingga dia mengharap hanya Andre yang bisa mendengarnya.

Agnes adalah gadis pendiam yang mengambil les sepeda motor trail dari papanya. Dia biasanya bukan tipe yang mencoba mendekati Adam, dan selain itu, sorot matanya memberitahu Adam ada sesuatu yang salah.

Percayalah Padaku Cinta

. Dini Belum Kembali 1. Tanpa Perlindungan

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image