Beranda / Topik / Wisata / 12. Kampung Tulung

12. Kampung Tulung

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 13 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Ranmaru yang masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Tidar–perguruan tinggi negeri kebanggaan kota Magelang yang terletak di kelurahan Potrobangsan–mengajak mampir ke kampusnya. Ada sesuatu yang harus dititipkan untuk bahan presentasi besok katanya.

Kebetulan memang kami hendak menuju ke kota dan bisa melewati jalan alternatif sepanjang aliran Kali Kota, yang merupakan anak Sungai Progo. Sungai ini juga merupakan terusan Kali Bening yang memiliki peran penting dalam sejarah tragedi yang terjadi di kampung tersebut.

Melewati kampung Tulung, Elaine menunjuk monumen di sebuah pintu masuk kampung, tepatnya di Jalan Kapten Yahya No.174, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah. Monumen itu cukup menarik perhatian karena berwarna keemasan.

Aku menghentikan mobil di depan monumen, Elaine yang sejak awal merasa penasaran, bergegas turun dan mengamati monumen dari dekat.

“Itu monumen untuk mengenang tragedi pembantaian dapur umum di Kampung Tulung,” ujar Ran menjelaskan.

“Sejarah mencatat sebuah peristiwa pilu pernah terjadi di sebuah kampung di tengah Kota Magelang, puluhan nyawa gugur dalam tragedi pembantaian karena kesalahpahaman dan hasutan penjajah.”

“Kamu tahu ceritanya?” tanya Elaine.

Ran mengangguk, “Sedikit.”

“Ceritakan!” pinta Elaine

“Jadi sejak awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada bulan Oktober 1945, ditetapkan sebuah kampung di Stadsgemeente atau Kotapraja Magelang bernama Kampung Tulung sebagai basis berkumpulnya para anggota BKR dalam mempertahankan kemerdekaan dari cengkeraman Sekutu yang diboncengi NICA. Waktu itu situasi di Stadsgemeente Magelang mulai memanas ketika tentara Inggris dan NICA masuk ke kota Magelang.”

“Siapa NICA?” sela Elaine.

“NICA adalah singkatan dari Netherlands Indies Civil Administration atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, sebuah organisasi semi-militer yang dibentuk Belanda pada 3 April 1944 di Australia untuk mengembalikan administrasi sipil dan hukum kolonial Belanda di Hindia Belanda–sebutan untuk Indonesia kala itu–setelah kekalahan Jepang pada akhir Perang Dunia II.”

“Oh, I see. Lanjutkan!”

“Ketegangan antara rakyat dan tentara sekutu bersama NICA ini akhirnya pecah menjadi sebuah perang terbuka di dalam Kota atau Stadskreig dalam istilah Belanda. Setengah dari kekuatan tentara di Jawa Tengah pada waktu itu, ditarik dan dikumpulkan di kampung Tulung. Sebagai basis terdepan melawan sekutu, dibuatlah sebuah dapur umum sebagai pusat logistik tentara. Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1945, tepat pukul 5 pagi, di bawah komando tembakan senapan Pak Ahmad Yani, serangan umum Magelang dimulai. Tembak menembak berlangsung selama 7 jam terjadi di lokasi-lokasi kedudukan NICA, seperti di Badaan Plein, Kader School, Zusteraan, dan Militaire Hospital.”

Ran menjeda ceritanya, mengambil alih kamera di tangan Elaine. Dengan gayanya yang cukup lihai, Ran mengambil gambar monumen dari beberapa sudut. Kemudian menunjukkan hasil jepretannya pada Elaine.

“Wah, bagus. It’s so amazing,” puji Elaine. Ran tersenyum lalu melanjutkan ceritanya.

“Pada pukul 11 siang, muncul bendera putih dari dalam basis pertahanan sekutu, tapi tak seorangpun keluar dari dalam gedung, ternyata diam-diam mereka berhasil menghubungi pasukan Kidobutai, pasukan gerak cepat tentara Jepang di Semarang. Mereka menebar isu bahwa semua tawanan Jepang yang ada di Stadsgemeente Magelang dibunuh oleh pemuda-pemuda Magelang.”

“What? Jadi mereka menyebarkan fitnah karena kalah?” pekik Elaine gusar.

“Tepatnya begitu. Tentara Kidobutai yang termakan hasutan bergerak cepat. Dalam waktu tak lebih dari dua jam, pasukan Kidobutai sudah tiba di Stadsgemeente Magelang. Mereka masuk dari arah Utara tepatnya di Payaman sekitar pukul 1 siang dengan 7 truk dan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama masuk melalui kota Magelang. Sedangkan kelompok kedua turun di pertigaan Tuguran kemudian melewati saluran air Kalibening, langsung menuju Kampung Tulung.”

“Sepanjang sungai ini?” tanya Elaine.

“Benar. Aliran sungai ini dari Kalibening dan merupakan anak Kali Progo yang mengalir melewati Magelang menuju Yogyakarta.”

Elaine mengangguk-angguk sambil mencorat-coret di buku, “Lalu selanjutnya apakah ada perlawanan dari tentara BKR?”

“Awalnya pasukan Jepang sempat berhenti di kuburan Nglarangan karena dihadang tentara BKR bersama rakyat, tapi karena kalah dalam persenjataan, Pasukan Kidobutai berhasil membuat tentara BKR dan rakyat mundur ke arah Barat melintasi Kali Progo dan bertahan di desa Njlapan. Mereka yang tidak tahu menahu gerak laju pasukan Kidobutai di dapur umum menjadi korban serangan ganas tentara Jepang ini.”

“OMG … kasihan sekali,” komen Elaine sedih.

“Sebenarnya rakyat yang berada di dapur umum sudah melihat kedatangan pasukan Kidobutai ini, tapi mereka mengira tentara ini adalah kawan seperjuangan mereka seperti beberapa tentara Jepang lain yang desersi dan berjuang bersama republik. Rakyat yang sedang memasak dan tentara BKR yang sedang berjaga dan beristirahat dikepung dari utara, barat, dan timur, dibrondong senjata api pasukan jepang. Akibatnya 16 rakyat jelata dan 26 anggota BKR gugur dalam serangan mendadak ini,” tutur Ran.

“Benar-benar gila,” seru Elaine dengan nada tinggi.

“Kegilaan ini baru berhenti setelah salah satu eks-tentara Jepang yang mengalami desersi dan menjadi Republiken bertemu dengan anggota Kidobutai. Tentara ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Syukurlah.”

“Kamu lihat rumah itu?” tanya Ran sambil menunjuk bangunan di belakang monumen. Elaine mengikuti arah telunjuk Ran, alisnya terangkat penuh tanda tanya.

“Itu adalah bekas dapur umum tempat tragedi pembantaian terjadi, konon juga pernah didatangi Pak Ahmad Yani dan Bung Karno–presiden pertama RI, selama masa gencatan senjata pada bulan November 1945. Sekarang sudah menjadi rumah hunian milik ahli waris, yaitu ibu Dovian sekeluarga. Bangunan rumah Ibu Dovian ini dulunya sebuah pendopo Kantor Kelurahan. Dari tulisan angka yang terdapat pada salah satu tiang blandar rumah dapat diketahui bahwa pendopo kelurahan ini dibangun pada tahun 1930.”

“Tapi kalau nggak salah, saya pernah mendengar jika pelataran depan rumah Bu Dovian adalah bekas makam para syuhada tragedi Kampung Tulung?” selaku tiba-tiba teringat cerita yang pernah kubaca.

“Mungkin saja benar, masalahnya orang tua Bu Dovian tidak pernah menceritakan bagaimana yang sebenarnya terjadi dirumahnya pada tahun 1945. Namun, di rumah beliau masih terdapat beberapa memorabilia bekas tragedi kampung Tulung. Bahkan menurut Bu Dovian, terkadang ada kejadian-kejadian ganjil dirumahnya seperti jendela yang suka membuka sendiri, bau anyir darah yang entah dari mana, dan lain sebagainya.”

“Wah, serem, dong!” Elaine bergidik ngeri, tanpa sadar gadis itu mendekat pada Ran dan memeluknya. Ran tampak terkejut, tapi segera bisa menguasai diri, pelahan dilepasnya tangan Elaine.

“Eh, maaf,” ucap Elaine tersipu, malu saat menyadari sikapnya. Ran bahkan lebih malu, pipinya yang putih memerah seperti tomat segar.

“Awalnya para jenazah disemayamkan di halaman rumah Lurah Atmo Pawiro yang bernama Nyonya Suroyo. Kemudian sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan mereka membela bangsa, jasad para pejuang akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giriloyo Magelang.” Ran berusaha menetralkan suasana dengan melanjutkan cerita.

Sebuah cerita yang menarik, bahkan aku sendiri baru mendengar kisahnya meski sering melewati kampung yang berada di aliran sungai Kota ini. Mungkin karena kehidupan masyarakat di Kampung Tulung sehari-hari tetap berlangsung dengan baik meski memiliki sejarah kelam. Suasana pedesaan masih melekat kental dengan alam yang asri serta semangat kebersamaan masyarakatnya sangat kuat. Tampaknya Kampung Tulung memiliki potensi sebagai destinasi wisata sejarah, di mana pengunjung dapat belajar tentang peristiwa masa lalu dan menghargai perjuangan para pahlawan.

Magelang, memang kota dengan segala cerita, setiap sudutnya menyimpan saksi sejarah kemerdekaan Indonesia. Kampung Tulung yang terletak di perbatasan antara Kota Magelang dengan Kabupaten Magelang ini sungguh patut dikenang karena menyimpan cerita pahit perjuangan para pejuang kemerdekaan.


The Hidden Site of Tuin van Java

1. Prasasti Mantyasih 3. Kampung Arab dan Bupati Pertama

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *