Beranda / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 15

Cinde Lara: Bab 15

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 16 of 29 in the series Cinde Lara

Para penjaga terus berbisik satu sama lain saat ratu lewat, dan dia berhenti.

“Ada apa? Kenapa kalian berbisik-bisik?”

“Yang Mulia, kami menemukan telepon di kamar Pangeran Jun, kami pikir itu milik temannya yang telah dipenjara. Beberapa pesan terus masuk dari nomor pangeran, jadi…”

“Di mana teleponnya?” tanya ratu dengan tenang dan salah satu penjaga membawa ke depan.

Pada saat itu juga, telepon bergetar dan lebih banyak pesan masuk.

Di mana kau, Sam? Tolong bicara. Kami masih di depan rumah, aku butuh bantuanmu!

Aku menemukan orang yang salah! Aku butuh bantuanmu untuk menemukan temanku. Siapa pun yang menculik temanmu pasti telah menculik temanku juga.

Ratu mengerutkan kening.

Apa yang terjadi?

Dia cepat-cepat menggulirkan pesan-pesan yang masuk sebelumnya. Lalu setelah beberapa saat, dia menghubungi nomor Jun.

“Halo, siapa ini?”

“Alhamdulillah, Sam, kau di mana? Kami masih di—”

Pembicara itu berhenti. “Siapa kau? Kau bukan Sam.”

“Ya, ini bukan Sam, ini ibunda Jun. Siapa awak? Apa yang telah awak buat pada putra saya?” tanyanya, dan tiba-tiba, panggilan berakhir.

***

Zhoya mengakhiri panggilan dan memeriksa nomor yang menelepon, dia tidak repot-repot memeriksanya sebelumnya, dia langsung mengangkatnya. Tepat di layar, dia melihat “Ibunda” dan di latar belakang ada gambar seorang wanita cantik berpakaian jubah kerajaan dan ornamen. Zhoya tak kenal.

Tatiana yangduduk tepat di sampingnya, merasa bosan sampai dia melihat ke samping, dan melihat apa yang ada di layar telepon yang dipegang Zhoya.

“Ya Tuhan!” Tatiana tersentak “Kamu tahu siapa dia?” Tatiana bertanya pada Zhoya yang menggelengkan kepalanya, masih bingung.

“Itu ratu! Yang mengatur seluruh perjamuan!”

“Siapa dia?” tanya Zhoya lagi.

“Ratu! Ratu Fairuz!”

Zhoya tersentak. “Kau serius?”

“Tunggu, ponsel siapa itu dan kenapa kamu punya nomor ratu?”

Zhoya ingin menjawab, tetapi mengingat seperti apa Tatiana, dia berubah pikiran.

“Kau tahu? Kurasa sudah larut malam dan kita perlu tidur. Kita tidak bisa melakukan apa pun malam ini karena sudah sangat larut.”

Tatiana mengerutkan kening.

“Tapi aku harus pergi ke….”

Dia berhenti ketika teringat sepatu dan pakaiannya sudah tidak ada lagi.

“Aku bahkan tidak tahu di mana mobilku, aku praktis kalah dalam kompetisi ini, bahkan tanpa ikut kompetisi. Terima kasih Cinde, sudah menghancurkan hidupku. Bolehkah aku menelepon mamaku? Dia pasti sangat khawatir.”

Zhoya berpikir sejenak.

“Baiklah,” jawabnya sambil menyerahkan ponselnya sendiri dan memberikannya kepada Tatiana sambil pamit untuk buang air kecil. Tatiana memperhatikannya sampai keluar dari mobil, lalu dengan cepat menghubungi nomor mamanya.

Varya langsung mengangkatnya.

“Halo, Ma—”

“Ya Tuhan, Tatiana, Kamu di mana saja? Ponsel Mama sedang di-cas. Kamu baik-baik saja? Apa kita menang?”

“Tenang Ma. Begini, aku diculik!”

“Ya Tuhan! Apa? Bagaimana kamu sekarang? Di mana? Apa itu berarti kamu tidak bisa melanjutkan kompetisi?”

“Ma, Syauki meninggal, aku yang harus disalahkan dan Cinde—”

“Jangan khawatir sayang, kita akan menyalakan lilin dan berduka untuk mereka nanti, tapi apa baik-baik saja, sayang? Kamu di mana?”

“Cinde tidak mati, Ma, dan aku baik-baik saja. Dia juga diculik.”

“Omong kosong apa ini tentang penculikan, apa masalahnya? Apa kamu mau Mama kirim uang?”

“Tidak, Ma, aku hanya… bisakah Mama tenang sebentar!” teriak Tatiana marah membuat mamanya terdiam.

“Begini, Zhoya menyelamatkanku.”

“Siapa dia?”

“Teman Cinde. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu di mana aku berada, tapi aku berani bersumpah ada sesuatu yang terjadi di sini. Bagaimana dia bisa ada di sana, di mana Cinde berada, lalu dia membawa ponsel ini, iPhone 17, dan tidak mungkin dia pemilik ponsel itu. Yang terburuk adalah dia terus menelepon satu nomor dan ada foto ratu di sana.”

“Jadi, apa yang kamu katakan?”

“Aku tidak tahu, Ma, tapi ada sesuatu yang benar-benar salah.”

“Kenapa kamu tidak curi saja ponselnya dan cari tahu?”

“Aku akan melakukannya setelah dia tidur. Baiklah, aku akan menelepon mama besok.”

“Jadi, kamu tidak akan kembali bertanding—”

“Aku tidak bisa, Ma, aku bahkan tidak punya baju lagi, dan aku benar-benar kacau sekarang. Aku harus membantu Zhoya menemukan Cinde, kalau tidak, aku akan menghancurkan semua kesempatanku.”

“Tapi kamu punya banyak sekali baju bagus di rumah, bolehkah aku mengirimkannya?”

“Aku tidak punya sepatu, Ma. Aku tidak bisa memakai baju lain. Begini, aku harus pergi.”

“Pastikan kamu melakukan segalanya untuk bertanding. Mama tidak akan menyia-nyiakan uang yang Mama habiskan untuk latihanmu, kamu mengerti Mama, Nak! Kalau kamu diculik lagi, itu salahmu, jadi jangan bodoh!”

Tatiana menghela napas dan mengakhiri panggilan dengan tajam. Terkadang, dia sangat membenci mamanya.

***

Zhoya berjongkok di belakang mobil dan mulai membolak-balik ponsel. Dia masuk ke galeri ponsel, dia tahu bahwa dia setidaknya bisa menemukan satu atau dua hal tentang pemilik ponsel ini.

Dia sampai di galeri dan mendapati cowok yang sama, mengenakan kemeja dan celana panjang di lapangan, di pasar, bahkan di pohon. Dia mengerutkan kening. Tak ada lagi foto sang ratu dan semacamnya, hanya swafoto pria ini dan entah siapa temannya yang ganteng. Mereka berpakaian hampir sama.

Tak ada yang menarik darinya, desisnya dan mematikan teleponnya. Untuk sesaat, dia sempat mengira cowok itu seorang pangeran, tapi pangeran macam apa yang mau memanjat pohon dan berswafoto di sana. Dia mendesah dan berjalan kembali ke mobilnya.

Dia melihat Tatiana sudah tertidur dan meletakkan ponsel miliknya di dashboard. Zhoya duduk dan mengunci pintu, lalu membetulkan posisi duduk dan memejamkan mata, meletakkan ponsel di samping miliknya.

Dia sangat lelah dan stres, tetapi di pagi hari, ia akan melanjutkan.

Beberapa menit kemudian, Tatiana membuka matanya. Dia menyadari kepala Zhoya menoleh ke sisi lain, yang berarti matanya tertutup. Dengan cepat, dia mengambil ponsel dan mulai memeriksa pesan-pesan, lalu beralih ke foto-foto untuk memuaskan rasa penasarannya. Ketika melihat foto cowok itu, dia tersenyum dan meletakkan kembali ponselnya.

Kemudian dia beristirahat lagi, memejamkan mata. Sesuai harapannya, yang menelepon adalah ratu Fairuz. Zhoya telah mengatakan dalam pesannya kepada cowok bernama Sam bahwa temannya diculik bersama temannya sendiri, yaitu Cinde, dan sekarang keliru, Tatiana. Itu berarti satu hal. Ada orang-orang yang menculiknya, dan ada orang-orang yang telah membawa Cinde dan cowok itu.

Tatiana terkekeh. Dia tidak akan berkompetisi lagi. Dia akan menyelamatkan sang pangeran. Begitu ratu tahu bahwa putranya baik-baik saja dan selamat, itu akan mengalahkan pesaing apa pun.

Sempurna!

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 14 Cinde Lara: Bab 16

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *