Tiga puluh menit sejak meninggalkan warung makan Mbah Bandi, aku masih membisu duduk di samping Bhaskoro yang fokus mengemudi. Canggung dan salah tingkah, bahkan aku sangat takut jika detak jantung yang makin bertalu ini detaknya terdengar sampai keluar.
Sepanjang perjalanan, aku menikmati pemandangan dengan pikiran yang campur aduk. Mobil mulai memasuki Desa Grabag. Bagi warga Magelang dan sekitarnya pasti mengenal betul Desa Grabag yang terletak di Kecamatan Grabag. Sebuah desa yang berada disebelah utara Magelang ini memiliki alam yang didominasi oleh lanskap perbukitan dan pertanian. Sebagian besar wilayahnya merupakan lahan kering yang dimanfaatkan untuk tegalan, perkebunan, dan hutan rakyat.
Grabag juga dikenal sebagai daerah hulu Kali Elo. Selain Tukmas yang menjadi sumber air bagi PDAM Kota Magelang, juga potensi wisata alam seperti Air Terjun Sekar Langit dan jalur pendakian Gunung Andong.
Bhaskoro menurunkan kaca jendela, membiarkan udara sejuk pegunungan yang segar menerobos masuk. Laki-laki itu masih ingat bahwa aku paling suka membiarkan kaca mobil terbuka saat melintasi daerah perbukitan yang memiliki kontur berbukit-bukit. Memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah. Sepanjang perjalanan di kiri kanan, lahan sayur terhampar luas bagai permadani alam yang tidak bisa dilukiskan keindahannya dengan kata-kata.
Grabag yang berada di kaki Gunung Andong memang memungkinkan sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani. Bagi para petualang atau yang sekadar ingin hiling melepas penat, juga tidak perlu cemas karena Grabag adalah pemukiman yang cukup padat, banyak warung makan dan tempat istirahat tersedia.
Mobil terus merambat naik mendekati lereng gunung, sepanjang jalan mulai banyak ditemui hutan pinus yang rindang, menambah suasana tenang dan sejuk. Bhaskoro membelokkan mobilnya memasuki Dusun Tirto. Sebuah gapura bertuliskan nama desa di Kecamatan Grabag.
“Ini makam Sunan Geseng,” kata Bhaskoro saat mobil berhenti di area parkir. Aku hanya mengangguk.
“Sudah pernah ke sini?” tanyanya lagi.
“Pernah sekali,” jawabku singkat.
Bhaskoro berjalan mendahului melewati jalan kecil menuju area makam yang dianggap sakral dan bersejarah. Seperti biasa Elaine berseru heboh sepanjang jalan yang menjual berbagai oleh-oleh makanan khas Magelang. Mendekati makam kami sempat berhenti sejenak di masjid yang berada satu lokasi dengan pondok pesantren yang didirikan oleh Sunan Geseng.
Akhirnya kami tiba di area yang terletak di tengah-tengah makam umum dan perkebunan aren. Di area itu berdiri sebuah rumah kayu yang di dalamnya terdapat makam Sunan Geseng. Elaine yang tidak betah diam, berjalan ke bawah menuju mushala dengan ornen kayu yang artistik. Dari tempat itu bisa melihat proses penyadapan nira yang dilakukan oleh warga setempat.
Karena tidak ingin berziarah, aku hanya duduk menunggu Bhaskoro yang masuk ke dalam bangunan makam. Memesan kopi dan bersantai di Gazebo yang ada di pelataran makam sambil memandang puncak Gunung Andong yang terlihat jumawa.
“Tahu cerita mengenai Sunan Geseng?” tanya Bhaskoro tiba-tiba memecah kelakuan. Aku berjingkat kaget, lalu menggeleng pelan.
“Mengapa di sebut Sunan Geseng?” tanya Bhaskoro lagi. Aku menggeleng.
“Tahu siapa nama asli Sunan Geseng?” Bhaskoro terus mencecar pertanyaan. Lagi-lagi aku menggeleng.
Namun, Bhaskoro justru tergelak melihat reaksiku. Aku sedikit kesal, tapi terlalu gengsi menunjukkan reaksi.
“Melansir dari berbagi sumber, Sunan Geseng atau yang dikenal sebagai Raden Mas Cakrajaya atau Cokrojoyo berasal dari Bedhug, Bagelen, Purworejo. Beliau adalah tokoh yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa bagian selatan.” Bhaskoro menjelaskan, pelahan memangkas jarak di antara kami.
“Julukan lain yang diberikan masyarakat untuk Sunan Geseng adalah Ki Petungmlarat,”
“Kenapa diberi julukan Petungmlarat?” Entah sejak kapan datangnya, tiba-tiba Elaine menyela.
“Karena kondisinya yang sangat miskin atau mlarat dalam bahasa Jawa,” jawab Bhaskoro, menggeser tubuh kembali karena Elaine menerobos di tengah-tengah. Dalam hati aku justru bersyukur dengan kedatangan Elaine.
“Ceritanya begini.” Bhaskoro bersiap menjelaskan sambil menunggu kopi yang dipesan. Seperti biasa, Elaine sigap dengan alat perekam dan kameranya.
“Pada suatu hari, Petungmlarat sedang menyadap nira sambil melantunkan tembang. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan memberi nasihat tentang cara berdoa yang benar, yaitu dengan menyebut nama Tuhan. Setelah cukup lama berbincang-bincang, Petungmlarat akhirnya mengajak orang tersebut ikut ke rumahnya. Di rumah Petungmlarat, orang tersebut juga turut membantu mencetak gula dalam tempurung kelapa dari nira hasil sadapan si Petung. Keesokan harinya sebelum pergi, sosok tersebut memberikan sebuah cetakan gula, tetapi dia berpesan agar tidak membukanya.” Bhaskoro berhenti sejenak, menyesap kopi yang masih mengepulkan asap.
“Didorong oleh rasa penasaran, Petungmlarat akhirnya membuka cetakan gula tersebut. Apa yang terjadi membuat Petungmlarat terkejut. Saat membukanya, di dalam cetakan gula tersebut berisi bongkahan emas.”
“Masya Allah,” pekikku spontan, tapi dengan cepat menutup mulut, rasanya malu tiba-tiba nyeletuk, padahal sudah bertekad bungkam, agar tidak tergoda untuk ngobrol dengan laki-laki yang kini berstatus mantan tersebut. Kulihat Bhaskoro melirikku sekilas sambil tersenyum tipis.
“Semakin penasaran, Petungmlarat berusaha mencari tahu kesana kemari tentang sosok misterius tersebut. Akhirnya Petungmlarat mengetahui bahwa si pemberi cetakan gula ternyata seorang wali yang kondang bernama Sunan Kalijaga,” lanjut Bhaskoro, masih menyisakan senyum di sudut bibirnya.
“Sunan Kalijaga bukannya salah satu dari Walisongo?” tanya Elaine takjub.
“Wah, ternyata Kamu tahu juga tentang Walisongo,” puji Bhaskoro.
“Maman pernah menceritakan padaku,” kilah Elaine. Bhaskoro mengangguk, tapi lagi-lagi aku memergokinya sedang mencuri pandang ke arahku sambil tersenyum penuh arti.
“Sebagai ucapan terima kasih Petungmlarat lalu mencari sosok yang telah mengubah hidupnya tersebut. Akhirnya takdir mempertemukannya kembali dengan Sunan Kalijaga, dan dia mulai belajar ilmu agama.”
Bhaskoro menyesap habis kopinya hingga tak bersisa. Cuaca sejuk memang paling nikmat menikmati kopi hangat.
“Setelah beberapa waktu belajar dan dirasa ilmunya sudah cukup, Sunan Kalijaga kemudian memberikan mandat kepada Cakrajaya atau si Petung untuk mensyiarkan atau menyebarkan agama Islam yang telah dipelajarinya. Selain itu Petung juga mendapatkan amanah untuk menjaga tongkat bambu milik gurunya yang ditancapkan ke tanah.”
Entah sejak kapan dia memesan, tiba-tiba Elaine menyodorkan secangkir kopi yang baru, hangat dan kepulan asapnya menggelitik. Sebungkus jajanan berupa kripik kimpul ikut melengkapi. ‘Ah, anak ini … selalu bisa mencairkan suasana,’ batinku. Mungkin aku harus menyingkirkan ego untuk sementara, mengabaikan perasaan demi profesionalisme. Bukankah Bhaskoro juga tidak menyinggung soal perasaan? Dia menjelaskan hanya sebagai pemandu sesuai profesinya.
Bhaskoro melanjutkan cerita setelah menyesap kopinya, “Waktu terus berjalan, setelah 17 tahun berlalu akhirnya sang guru kembali ke tempat di mana Petung menjaga tongkat bambunya, tapi keadaan telah berubah. Sunan Kalijaga tidak melihat Petung. Sang guru hanya menemukan belantara bambu. Akhirnya sang guru membakar belantara bambu tersebut.”
“Sebenarnya di mana Petung?” sela Elaine.
“Ketika semua bambu yang ada sudah terbakar, sang guru terkejut menemukan Petungmlarat dengan tubuh yang hangus terbakar bersama bambu-bambu yang ada. Saat hutan terbakar, ternyata Petungmlarat sedang melakukan tapa atau lelaku. Meski hutan tersebut terbakar, tetapi Petung tidak menghentikan tapanya, sesuai pesan sang guru untuk tidak memutus ibadah, apapun yang terjadi.”
“Apa dia tidak mati?” cecar Elaine.
“Itulah keajaiban yang terjadi, meski seluruh tubuhnya hangus terbakar, tapi Petung masih hidup. Sejak saat itu Petungmlarat dijuluki Geseng yang artinya hangus atau gosong. Oleh Sunan Kalijogo, kemudian Petung dimandikan di Sendang Jati Luweh Yogyakarta dan selanjutnya berganti nama menjadi Sunan Geseng.”
“Sungguh ajaib, tapi menarik juga kisahnya,” timpal Elaine.
“Yup, itulah kuasa Allah. Sejak peristiwa tersebut, Geseng atau Sunan Geseng mengikuti Sunan Kalijaga ke Demak untuk menyebarkan syiar dan mendirikan Masjid. Setelah pembangunan Masjid Demak selesai Sunan Kalijaga memberikan sisa kayu pembangunan masjid dan berpesan agar Sunan Geseng melanjutkan syiar agama. Hingga suatu hari saat melakukan syiar, Sunan Geseng merasa lelah dan beristirahat di Desa Kleteran, Kecamatan Grabag. Di tempat itu kemudian dibangun sebuah masjid dan pondok pesantren.”
Bhaskoro menghabiskan sisa kopi dalam cangkir, lalu menoleh padaku sambil tersenyum penuh arti, “Jadi seperti itu ceritanya, Dek Tantri.”
Aku hanya mengangguk, tersenyum tipis. Masih canggung karena detak jantung belum mau diajak kompromi.
“Sunan Geseng akhirnya meninggal di desa Tirto Kecamatan Grabag dan dimakamkan di sini. Sebagai penghormatan terhadap Sunan Geseng maka makam Sunan Geseng yang juga disebut sebagai wali yang menyebarkan agama Islam ini sekarang digunakan sebagai tempat wisata spiritual keagamaan. Dan hingga saat ini ajaran-ajarannya masih dilaksanakan oleh masyarakat di wilayah Grabag. Sebagai contohnya diadakannya tradisi selikuran yang dilaksanakan setahun sekali pada malam ke-21 bulan Ramadhan di kompleks makam Sunan Geseng.
“Apakah tradisi itu hanya pada bulan Ramadhan saja?” tanya Elaine.
“Tentu tidak, ada banyak kegiatan masyarakat seperti tradisi slametan, gendurenan, methoan, dan tradisi-tradisi yang lainnya. Banyak pengajaran maupun pengelolaan pondok pesantren di sekitar wilayah Grabag menggunakan sistem yang serupa dengan pondok pesantren rintisan Sunan Geseng. Hal ini membuktikan bahwa peristiwa sejarah masa lampau dan peninggalan-peninggalan Sunan Geseng menjadi dasar sentimen kemasyarakatan yang memberikan dampak positif bagi pengembangan UMKM warga sekitar.”
Elaine manggut-manggut, sepertinya sedang berpikir. Namun, aku tahu persis, gadis itu pasti ingin membeli beragam oleh-oleh dan menikmati kuliner khas Magelang yang banyak dijajakan masyarakat sekitar makam.











