Home / Topik / Wisata / 19. Pesantren Sunyi di Lereng Gunung Andong

19. Pesantren Sunyi di Lereng Gunung Andong

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 20 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Mobil melaju menuju desa Girirejo. Menurut Bhaskoro di desa yang terletak di antara perkampungan penduduk, terdapat sebuah pesantren, tepatnya  di Dusun Mangli, berada di lereng Gunung Andong di ketinggian 1.200 mdpl.

“Bisa jadi pesantren ini merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah,” ucap Bhaskoro menjelaskan.

Namun, aku justru lebih tertarik pada pasar kecil di sekitar pesantren. Desa-desa di Lereng Gunung Andong ini memiliki relief dataran tinggi dan pegunungan yang subur sehingga sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi desa, dengan komoditas seperti kopi, tembakau, dan berbagai jenis sayuran.

“Mau beli sayur?” tanya Bhaskoro seakan bisa membaca isi kepalaku. Aku mengangguk. Setelah mencari tempat yang dirasa aman untuk memarkirkan mobil. Bhaskoro mengajak turun dan mendatangi penjual yang berjajar sepanjang jalan menuju pesantren.

“Harga sayuran di sini relatif murah juga menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan.” Bhaskoro mengambil tomat kemerahan yang sangat menggoda. Ternyata dia masih ingat jika aku paling suka tomat. Tanpa di juss tapi hanya dipotong-potong dengan tambahan sedikit gula pasir.

Tomat sekeranjang isi 5 kilo, wortel dan jeruk juga sekeranjang penuh masing-masing  isi 5 kilo, sudah dimasukkan ke bagasi mobil, tapi aku masih ingin berkeliling membeli sayur. Setelah belanjaan di tangan terasa berat, aku baru sadar … Elaine tidak ada bersamaku.

“Di mana Elaine?” tanyaku cemas pada Bhaskoro.

“Tadi sepertinya bersama seseorang, laki-laki seumuran Elaine,” jawab Bhaskoro. Aku mengerutkan alis.

“Keduanya terlihat akrab, jadi kupikir Dek Tantrie mengenalnya juga,” imbuh Bhaskoro cepat.

“Siapa? Elaine tidak punya teman di sini,” bantahku. 

“Tapi mereka terlihat akrab,” tandas Bhaskoro.

Aku baru hendak menjawab, saat dari arah berlawanan Elaine berjalan ke arahku. Wajahnya sumringah dengan senyum mengembang. Di belakangnya seorang anak laki-laki mengikuti sambil membawa tentengan cukup banyak di tangannya. Aku menghela napas lega saat mengenal sosok yang tampak begitu kerepotan membawa belanjaan Elaine, sementara di punggungnya bertengger ransel seukuran anak usia lima tahun.

“Maman, lihat aku bersama siapa?” seru Elaine girang.

“Ran, bagaimana kalian bisa bertemu?” Aku balas bertanya, penasaran.

“Apa kabar, Maman?” tanya Ran, berniat menyalami tapi tangannya yang penuh tentengan membuatnya kerepotan.

“Elaine, mengapa Kamu biarkan Ran membawa belanjaanmu,” tegurku pada Elaine.

“It’s no problem. Aku tidak keberatan,” jawab Ran sambil melirik Elaine.

“Tapi tetap saja tidak boleh merepotkan orang lain,” tandasku pada Elaine. Gadis itu hanya nyengir sambil mengatupkan kedua telapak tangan di dada. Aku menggelengkan kepala, mengisyaratkan Elaine agar mengambil alih belanjaannya dan memasukkan ke dalam bagasi.

“Ngomong-ngomong Kamu mau kemana? Kok bawa ransel besar?”

“Mau naik Andong,” jawab Ran.

“Sendiri?” tanyaku

“Bersama dua orang teman, tapi mereka sedang mengisi bekal air minum di sana,” jawab Ran sambil menunjuk ke arah warung tak jauh dari tempat kami belanja.

“Maman, bolehkah aku ikut Ran?” pinta Elaine sambil bergelayut manja. Matanya menatap penuh rayu.

“Dari Girirejo ada basecamp untuk mendaki Andong, tidak jauh dari sini. Nanti kita bisa menunggu di sana,” sela Bhaskoro. Aku menoleh cepat, ah … drama apa lagi ini?

“Tapi Elaine tidak memakai perlengkapan pendakian,” kilahku berusaha menahan.

“Mas rasa jaket Elaine sudah cukup tebal dan sepatu yang dipakai juga aman.” Bhaskoro memastikan setelah mengamati pakaian yang dikenakan Elaine.

Aku mengembuskan napas berat. Melepas Elaine ikut bersama Ran, artinya akan banyak waktu berdua dengan Bhaskoro. Hal yang sangat ingin kuhindari saat ini. Tapi entah, setelah beberapa menit  tanpa sadar aku justru mengangguk, memberikan izin pada Elaine.

“Mercy, Maman,” ucap Elaine girang sambil mengecup pipiku.

“Sois prudent,” jawabku balas mengecupnya.

“Ran, titip Elaine. Jaga diri kalian selama di jalur pendakian. Patuhi larangan yang ada,” pesanku pada Ran.

“Baik, Maman, Kami pamit,” ucap Ran sambil menyalamiku dan Bhaskoro. Keduanya lalu berjalan menuju basecamp, aku masih memandangi kepergian mereka sampai menghilang di belokan. Mungkin Bhaskoro benar, gunung Andong bukan termasuk gunung yang sulit untuk mencapai puncaknya

Selain para pendaki yang hendak mendaki melalui basecamp Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, banyak juga wisatawan yang datang sekadar memanjakan mata dan menikmati suasana alam yang tenang. Lereng gunung yang sejuk dan hijau menjadikannya tempat yang cocok untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk kota. Apalagi desa yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.370 mdpl tersebut  dikelilingi oleh Gunung Merbabu, Telomoyo dan Andong, sungguh menawarkan panorama indah yang menawan.

Bhaskoro mengajak memasuki area pesantren Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan ini berdiri di atas lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat.

Hari menjelang sore ketika kami tiba di pesantren yang menerapkan aturan ketat. Jamaah yang hendak ziarah wajib mengenakan sarung bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan dilarang mengenakan celana panjang. Di sana sudah disediakan mukena untuk perempuan  dan sarung untuk laki-laki  yang bisa dipinjam.

Ruang untuk ziarah dan berdoa pun terpisah antara laki-laki dan perempuan. Sekilas saat melintasi  teras masjid, bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Sungguh pemandangan yang menarik, aku membayangkan jika malam hari tentu akan lebih indah saat lautan lampu menghias malam.

Selesai melakukan ziarah, Bhaskoro mengajak ngobrol di lobby yang disediakan khusus untuk tamu. Dispenser berisi teh hangat dan kopi selalu tersedia untuk menjamu para peziarah yang kebanyakan datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, bahkan ada juga yang dari propinsi lain. Suasana pondok yang tenang, udara sejuk, dan pemandangan yang indah, santri-santri yang ramah membuat betah berlama-lama berada di pondok sambil menikmati kudapan hangat.

“Ngomong-ngomong bagaimana sih sejarah pondok pesantren ini? Kenapa tidak seperti pondok-pondok lain yang memiliki nama?” tanya Bhaskoro pada salah satu santri yang menemani kami ngobrol. Pertanyaan Bhaskoro ternyata mewakili rasa ingin tahuku juga.

“Ada seorang kyai bernama Kyai Hasan Asy’ari mendirikan pesantren salafiyah pada tahun 1959 tanpa memberikan nama resmi. Sosok Kyai Hasan Asy’ari pun dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama tersebut diberikan masyarakat karena beliau menyebarkan Islam berawal dari Kampung Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak ini,” papar santri yang mengaku bernama Hasan tersebut.

“Oow begitu, tapi saya lihat sekilas santri di sini juga tidak banyak padahal pesantrennya cukup besar?” tanyaku.

“Sebenarnya pesantren ini meski letaknya terpencil, tapi setiap Ahad ribuan masyarakat mengaji di pesantren tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang, tapi juga dari berbagai daerah lain. Tapi meski pesantren ini cukup besar, santri yang menetap di sana tidak pernah lebih dari 41 orang.”

“Kenapa?” cecarku lagi

“Kurang tahu,” jawab Hasan tersipu. Aku masih kurang puas dengan jawabannya.

“Menurut cerita, Mbah Mangli adalah seorang kyai yang memiliki karomah, ‘melipat bumi’. Ilmu yang bisa membuat seseorang  bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata, bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Beliau bisa mengisi pengajian di Mangli, tapi pada saat yang sama juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta, bahkan Sumatera.” Seorang santri menimpali dan ikut nimbrung di antara kami.

“Mbah Mangli juga tidak memerlukan pengeras suara untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kyai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang. Itulah mengapa setiap pengajian beliau dijuluki pengajian sunyi,” imbuh santri yang baru datang tersebut, dia memperkenalkan dirinya sebagai Ikhsan.

“Nama asli beliau adalah Haji Hasan Asy’ari, atau sering disebut Mbah Mangli, beliau seorang ulama kharismatik yang merupakan mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dari Magelang, juga merupakan salah satu tokoh yg mendirikan Asrama Pendidikan Islam di Tegalrejo Magelang yang santrinya berasal dari seluruh Indonesia.” Kali ini Hasan yang bercerita.

“Kyai Hasan Asy’ari lahir di Kota Jepara Jawa Tengah pada hari Jumat legi tanggal 17 Agustus 1928. Beliau merupakan putra kedua dari Kyai Imam, yang menurut silsilahnya masih keturunan dari Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Sedangkan dari garis ibu, Mbah Mangli merupakan keturunan dari Kyai Ageng Hasan Besari yang juga masih keturunan Sunan Kalijaga. Mbah Mangli wafat pada hari Minggu 26 Oktober 1997 di Magelang dan dimakamkan di lingkungan pondok pesantren miliknya di Dusun Mangli.”

“Brarti beliau masih ada keturunan Sunan Gunung Jati,” ujarku.

“Benar, karena merupakan keturunan kyai juga, sejak usia dini Mbah Mangli sudah memperoleh pendidikan yang ketat dan sangat keras dari Ayahnya. Belajar menghafal kitab Taqrib dan maknanya, serta mempelajari Tafsir Alquran baik makna maupun nasakh mansukh-nya. Karena keilmuan Beliau yang mumpuni maka sejak usia muda, Mbah Mangli sudah melanglang buana di berbagai pondok pesantren. Beliau pernah belajar pada KH. Ma’mun Ahmad dan KH. Arwani Amin, ulama kondang dari Kudus.  Syekh KH. Said Almandurah dari Sampang Madura, KH. Ibnu Hajar  dari Wonosobo. Juga  KH. Sirodj dan KH. Rohmat dari Magelang. Selain itu Mbah Mangli juga pernah belajar di berbagai pesantren di Cirebon dan Banyumas yang belum diketahui nama desanya.”

Kami terus menyimak kisah Mbah Mangli yang dituturkan kedua santri secara bergantian. Konon Mbah Mangli dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki Psikokinesis tinggi karena dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka, dan langsung dapat memberikan nasihat dengan tepat sasaran.

Bagi orang Jawa Tengah, khususnya daerah Magelang dan sekitarnya, nama KH Hasan Asy’ari, dikenal sebagai sosok kyai sederhana yang penuh karamah. Meski memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya, tapi Beliau adalah wali Allah yang hatinya selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat, dan menangis karena rindu kepada Allah.

Selain hidupnya selalu sederhana, keunikan lain yang dimiliki adalah saat mengisi pengajian, di mana pun dan dalam kondisi apapun, Mbah Mungli tidak pernah memakai alat pengeras suara. Meski jamaahnya sangat banyak hingga membentuk barisan dengan dengan jarak cukup jauh, tapi suara beliau tetap terdengar dan memukau seluruh jamaah yang hadir

Beliau juga selalu menolak amplop yang sengaja diselipkan panitia. Mbah Mangli berujar bahwa, agar tidak menilai dakwahnya dengan uang, baginya jika separoh dari jamaah yang hadir mau dan berkenan menjalankan apa yang beliau sampaikan, itu jauh lebih menyenangkan baginya.

Menurut penuturan Hasan, pada jaman dahulu kawasan lereng Gunung Andong dan sekitarnya menjadi markas perampok dan dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks atau lebih dikenal dengan sebutan MMC.

Tantangan beliau menjadi sangat berat. Para begal membabat lahan pertanian penduduk dan mencemari sumber mata air pondok. Warga Mangli sendiri saat itu  belum menjalankan salat meski sudah Islam atau istilahnya hanya Islam KTP. Namun, akhirnya Mbah Mangli berhasil mengislamkan kawasan tersebut dan memberikan banyak contoh-contoh kebaikan dalam praktek hidup sehari-hari.

Setelah Mbah Mangli wafat, proses pendidikan di Pondok Pesantren Mangli dilanjutkan oleh Gus Munir, menantunya yang juga memiliki sosok sederhana, sekaligus penuh wibawa. 

Sebagai penerus Pesantren Mangli, Gus Munir bertekad tetap mempertahankan apa yang sudah dirintis dan menjadi kebijakan almarhum ayah mertuanya.  Gus Munir secara rutin menggelar pengajian selapanan di berbagai daerah. Meski jamaahnya tidak sebanyak semasa Mbah Mangli, tapi warga yang datang mengaji tetap membeludak. Gus Munir juga dengan tegas mempertahankan berbagai kebijakan almarhum. Salah satunya adalah tetap  tidak berkenan menggunakan pengeras suara saat pengajian dan khotbah Jumat.

Mimbar tempat Gus Munir berkhotbah juga ditutup dengan tirai hijau sehingga warga tidak bisa langsung melihatnya. Hanya sosok bayangan yang tampak akibat pantulan sinar matahari yang menerobos di sela fentilasi.

Ikhsan tiba-tiba menahan tangan Bhaskoro yang hendak mengambil photo.

“Ngapunten, Pak. Sesuai amanah dari Gus Munir di sini tidak boleh mengambil gambar.”

“Oow, maaf. Tapi kenapa?” tanya Bhaskoro penasaran.

“Di sini ada larangan untuk para santri, dilarangan keras menggunakan handphone dan menonton televisi. Menurut beliau, alasannya pada zaman Nabi Muhammad SAW juga tidak digunakan hape, pengeras suara ataupun televisi. Namun, Gus Munir menegaskan bahwa, kebijakan ini bukan berarti menolak modernitas, tapi dimaksudkan agar para santri lebih fokus pada dua hal yakni mengaji dan beribadah. Atas alasan religi pula, Beliau juga menolak untuk diphoto dan diwawancarai. Beliau ingin menjaga marwah pondok dengan caranya sendiri. Gus Munir meyakini bahwa, ada banyak cara untuk meraih ridha Allah, ada banyak jalan menuju surga.”

Kami pamit setelah mengikuti salat Magrib berjamaah. Mengingat suasana pondok yang demikian menjaga kesakralannya, tidak etis jika kami bertamu terlalu lama. Ada kesan mendalam yang kudapat. Pondok pesantren Mangli benar-benar pesantren senyap, meski Mbah Mangli dan penerusnya tetap menghargai dan mempersilakan lembaga pendidikan agama lain untuk membuat nama yang bagus dan mempublikasikannya ke masyarakat. Dalam hal ini aku sangat setuju dengan pendapat Beliau, banyak jalan menuju akhirat. Meski cara yang ditempuh berbeda, tapi jika niatnya baik, insyaallah akan bertemu di akhirat nanti.

The Hidden Site of Tuin van Java

8. Makam Wali di Kaki Gunung Andong 0. The Hidden Site of Tuin Van Java

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image