Home / Genre / Petualangan / 20. The Hidden Site of Tuin Van Java

20. The Hidden Site of Tuin Van Java

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 21 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Bhaskoro mengajak ke basecamp Sawit, yang hanya berjarak beberapa meter dari basecamp Pendem di desa Girirejo. Meski awalnya aku sempat ragu, tapi tempat tersebut yang paling memungkinkan untuk menunggu Elaine dan Ran yang sedang naik ke puncak gunung Andong.

Bangunan basecamp cukup sederhana, tapi suasana di basecamp terasa istimewa dan nyaman bagi para pendaki. Ada juga wisatawan yang tidak ikut naik ke puncak, seperti kami yang hanya sekadar menumpang tinggal sementara sambil menikmati keindahan alam.

Di basecamp juga dilengkapi fasilitas dasar seperti warung, toilet, dan saung untuk tempat istirahat lengkap dengan matras atau kasur untuk kenyamanan.

Aku duduk agak menjauh dari Bhaskoro, rasanya canggung berada di dekatnya, apalagi hanya berdua. Masih ada luka yang belum sembuh total, juga dengan kenangan yang seakan enggan beranjak dari pikiran.

Suasana malam di basecamp Girirejo cukup tenang dan sepi. Beberapa pendaki tampak sedang mempersiapkan perbekalan dan logistik untuk naik ke puncak. Dari tempatku duduk bisa memandang lampu kota Magelang dan Salatiga di kejauhan, gemerlapnya memukau dengan siluet Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Kebetulan langit sedang cerah menambah kesan romantis di bawah langit malam bertabur bintang.

“Langitnya indah, ya?” Bhaskoro tiba-tiba duduk di sampingku. Aku menoleh, mengangguk kecil sambil menggeser posisi duduk.

“Kalau pagi lebih indah lagi,” lanjut Bhaskoro. Aku hanya tersenyum tipis.

“Dari basecamp sini, jika cuaca cerah di pagi hari kita dapat menikmati pemandangan indah 360 derajat ke berbagai puncak gunung, termasuk Gunung Sumbing, Pegunungan Menoreh, Gunung Merapi, Merbabu, dan Gunung Ungaran,” lanjut Bhaskoro.

Aku kembali mengangguk, menghindari tatapannya yang dulu selalu membuatku candu. Tapi sekarang kenapa jantungku kembali tidak mau diajak kompromi? Kenapa detaknya begitu kencang seakan ingin melompat keluar? Aku menghirup udara dalam-dalam, berusaha meredam degub yang terus bertalu. Bahkan aku merasa konyol saking takutnya jika degubnya terdengar keluar.

“Adek deg degan?” tanya Bhaskoro menggoda.

“Eh ….” Spontan aku meletakkan tangan ke dada sebelah kiri. Apa bener dia bisa mendengar detak jantungku?

“Ha ha ha, brarti bener Adek lagi deh degan, nih! Padahal mas cuma mancing, lho,” goda Bhaskoro sambil terkekeh.  Laki-laki ini selalu saja bisa membuatku salah tingkah. Dulu aku akan melayang dan berbunga-bunga ketika dia memancing dengan rayuannya, tapi kini aku justru merasakan perih, sakit, dan berbagai macam rasa yang campur aduk.

Bhaskoro menyodorkan dua gelas cokelat panas dan roti bakar. Astaga … kenapa sejak tadi dia seperti siluman. Datang tiba-tiba tanpa suara berada di sampingku, atau karena aku yang terlalu sibuk mengatur detak jantung agar kembali patuh pada ritmenya?

“Untuk teman ngobrol,” ucap Bhaskoro sambil menyodorkan roti yang ragu kusentuh.

“Aman, kok. Nggak ada racunnya,” ujarnya lagi. Aku hanya tersenyum tipis.

“Tenang, juga tidak mengandung pelet,” sambungnya sambil terkekeh. Tanpa sadar aku ikut tertawa, lelucon itu yang dulu selalu dia lontarkan. Saat berduaan, dia selalu bertanya sambil menggoda, pelet apa yang aku pakai hingga membuatnya tak bisa melupakanku. Bahkan kini setelah kami berpisah, dia masih mengingat hal-hal kecil tentang kebersamaan kami.

“Ngomong-ngomong nggak ada rencana buat novel lagi?” tanya Bhaskoro, kali ini lebih serius.

Aku menghela napas panjang, menggigit roti bakar dengan selai cokelat yang lumer. Kami memang penggemar cokelat sejati, dari mulai es krim, cookies, kue-kue kering, bahkan sampai minuman selalu identik dengan cokelat. Malam ini seperti memutar ulang slide yang lama tersimpan.

“Apakah perjalanan kali ini juga mau di-novel-kan?” tanya Bhaskoro lagi.

“Tentu,” jawabku singkat.

“Hmmm, dikasih judul apa?”

“Belum tahu, sih. Tapi … sempat terpikir kasih judul The Hidden Site of Tuin Van Java,” jawabku lancar. Sedetik kemudian aku mengembuskan napas panjang, heran … kok tiba-tiba aku bisa bicara selancar ini? Apakah artinya hatiku kembali mencair? Ah, aku sungguh takut jika kembali luluh hingga rasa yang susah payah kumatikan paksa ini tumbuh kembali.

“Judulnya bagus. Kenapa pakai judul itu? Apakah punya makna khusus?”

“Tuin Van Java adalah sebutan lain untuk Magelang selain kota sejuta bunga. Magelang terkenal sebagai kota yang nyaman, tenang, banyak hal menarik yang bisa dieksplor, mulai dari sejarah, kuliner, dan wisatanya. Namun, tak banyak orang tahu sisi tersembunyi dari setiap tempat yang dikunjungi. Tidak banyak juga yang peduli nilai sejarah tempat wisata dan kearifan lokal kuliner, bahkan suatu tempat yang viral pun orang hanya mengagumi keindahannya saja tanpa peduli untuk tujuan apa tempat itu dulu dibangun.” Aku memaparkan panjang lebar.

“The Hidden Site of Tuin Van Java, judul yang keren. Sisi tersembunyi dari Tuin Van Java. Apa juga mewakili perasaan Adek yang tersembunyi?” tanya  Bhaskoro telak. Aku menoleh spontan, pertanyaan apa pula ini, kenapa lagi-lagi dia seperti bisa membaca pikiranku?

“Mungkin,” jawabku lirih. Gemuruh di dada yang sempat mereda kembali riuh.

“Apa perasaan Adek masih seperti dulu?” tanyanya, kali ini Bhaskoro membalik badan hingga kami berhadapan.

Aku mengembuskan napas, menunduk sambil memilin jemari, “Tidak ada yang berubah, semua masih sama bagiku.”

“Adek nggak marah sama mas?” Lirih Bhaskoro menatap dengan sorot yang sulit diartikan. Aku menggeleng.

“Nggak dendam?” tanyanya lagi. Aku menggeleng lagi.

“Tapi mas yang sudah membawa Adek datang ke kota ini, pasti Adek punya harapan besar di kota ini, dan mas justru membuat harapan Adek terempas. Adek pasti sangat kecewa, mas terima kalau Adek tidak bisa memaafkan mas.”

“Tidak ada yang patut disalahkan, meski awalnya kecewa, tapi justru kecewa itu yang membuatku sadar. Bahwa cinta tak selalu berakhir dengan kebersamaan, ketidakbersamaan justru mengajarkan bahwa sesuatu yang indah tidak harus karena bahagia. Luka pun bisa menjadi cerita yang indah jika kita mampu merangkainya.”

Bhaskoro meraih jemariku, menggenggamnya dan meletakkan di dadanya, “Terima kasih, sudah memaafkan mas.”

“Aku memaafkan untuk diriku sendiri,” tegasku. Bhaskoro masih menatap mataku lekat.

“Waktu itu aku memang menjadi ranting patah. Jatuh ke tanah setelah dipermainkan angin. Namun, saat daun-daun kuning luruh, aku seperti mendengar bisikan, “Kamu punya dua pilihan, hancur dalam kubangan dendam atau memaafkan dan kembali tegak hingga satu saat ranting patah itu kembali menumbuhkan harapan.” Aku mengembuskan napas, menghindari tatapannya, gemuruh di dada mulai mereda berganti dengan keberanian untuk mengungkap apa yang selama ini mengganjal di pikiran.

“Hal itu yang membuat mas mengagumi Adek, kuat, tegar, dan selalu bisa mengambil hikmah dari hal- hal buruk.”

“Aku tidak sekuat itu, aku hanya berusaha mengikhlaskan apa yang tidak ditakdirkan menjadi milikku,” kilahku.

“Tapi tetap saja, itu adalah sisi tersembunyi yang Adek miliki, yang tidak tampak, tapi memiliki kekuatan besar. Seperti The Hidden Site of Tuin Van Java,” ujar Bhaskoro, terkekeh lirih.

“Mungkin, dan bagiku Mas Bhaskoro adalah kisah yang tak pernah selesai, meski halaman terakhirnya sudah lama kututup,” ujarku bergetar. Menyuarakan perasaan terhadap laki-laki yang pernah sangat kucintai ini memang amat perih, seperti ada pisau tajam yang menyayat.

Aku menyusut butiran bening yang meluncur dari sudut mata tanpa permisi, “Terima kasih  pernah menjadi pemeran utamanya.”

“Maafkan mas, Dek!” Bhaskoro berujar lirih, nyaris tak terdengar.

“Apa aku boleh meminta sesuatu?” tanyaku disela isak yang tak mampu kutahan.

“Katakan!” jawab Bhaskoro, laki-laki itu mengangkat daguku hingga kedua pasang mata kami saling menatap, nanar.

“Yang mencintai Mas mungkin bukan hanya aku, tapi yang mencintai Mas di saat hati Mas Bhas sudah menjadi milik orang lain itu hanya aku. Izinkan aku mencintaimu bukan sebagai suami perempuan lain, tapi sebagai kisah yang tetap kutulis tanpa akhir.”

Bhaskoro tak menjawab, dia meraih tubuhku dan membawanya dalam pelukan, ada rasa nyaman saat tangis kami saling beradu, meski air mata yang tumpah masing-masing memiliki arti yang berbeda. Malam dengan gemintang yang indah, seolah merestui caraku menikmati cerita yang tak ingin kuakhiri, cerita tersembunyi, tentang luka, perjalanan, dan kenangan yang tumbuh kota ini.

The Hidden Site of Tuin van Java

9. Pesantren Sunyi di Lereng Gunung Andong 1. Makam Tertinggi di Magelang

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image