Akhir-akhir ini semakin banyak kasus pembunuhan hingga bunuh diri, perundungan hingga segala macam masalah kesehatan mental lainnya berseliweran di linimasa media sosial dan atau media massa. Meskipun sekitar kita tampak tenang damai aman sentosa karena ‘toh kasus-kasus yang kita baca jauh di luar sana, bukan urusan kita’ sekalipun, kita perlu merenungkan serta mencegah sebelum terjadi.
Masalah semakin tingginya kasus pembunuhan-bunuh diri tidak dapat dianggap sebagai tindak kriminalitas belaka, karena berbagai alasan ‘klasik’ seperti adanya perselisihan/persaingan, ketidakpuasan, rasa benci-permusuhan hingga masalah mental ‘sudah dari sananya’ alias warisan genetika belaka.
Masalah perundungan bukan hanya terjadi di lingkungan remaja-pemuda namun semakin merambah hingga anak-anak sekolah dasar, bahkan menyebabkan rekan siswa mereka meninggal dunia. Karena masih di bawah umur, para pelaku juga belum dapat dihukum seperti orang dewasa. Sebuah ironi yang memprihatinkan karena seandainya mereka gagal dibina dan dipulihkan, mungkin saja di masa depan para pelaku mengulangi perbuatannya. Perundungan juga masih sering disepelekan karena dianggap hanya kenakalan remaja, sesuatu yang biasa-biasa saja, bahkan korban dianggap lemah mental atau kurang bertakwa sehingga disalahkan, ditertawakan saat down. Tiada pertolongan apalagi solusi nyata baginya.
Masalah kesehatan mental sering dianggap sensitif dan pribadi, karena itu kerap disepelekan bahkan disembunyikan rapat-rapat karena rasa malu, tabu atau pantang dibicarakan, takut dicap ‘kurang waras’ hingga dikucilkan/dijauhi. Padahal semua bisa berawal dari yang dianggap kecil/nyaris tidak terdeteksi: pengalaman pahit-trauma, masalah fisik berupa disabilitas hingga ketidakseimbangan hormon tubuh yang bisa jadi pemicu.
Apakah nyawa manusia tidak lagi berharga sehingga demikian mudahnya sesama manusia bahkan diri sendiri mengakhiri? Apakah perundungan sedemikian mudah-menyenangkan sehingga kerap terulang? Apakah sebelum terjadi, semua itu bisa dicegah?
Walaupun modus hingga kronologi setiap kasus berbeda-beda, penulis menemukan beberapa benang merah atau kesamaan yang bisa ditarik dari semua pergumulan menyedihkan ini:
- Semua berawal dari kasih yang semakin dingin. Manusia semakin hanya mementingkan dirinya sendiri; kesejahteraan/well being, keselamatan/safety hingga survival, memasabodohkan manusia lainnya. Siapa kuat akan bertahan, yang lemah tersingkir. Persaingan hidup yang semakin ketat entah dalam dunia kerja hingga pendidikan membuat orang semakin tidak peduli. Bukan hanya antara lawan-pesaing/kompetitor saja, bahkan sahabat, sanak keluarga (orangtua-anak-cucu) hingga pasangan saja kadang-kadang gontok-gontokan, saling serang, menyikut dan menjatuhkan. Beberapa terang-terangan menyerang, beberapa diam-diam menusuk dari belakang. Banyak keluarga/pasutri ‘bahagia’ yang kerap show-off hingga rajin pamer kemesraan di media sosial ternyata memendam kisah kelam atau luka lama yang belum selesai.
Kasih yang semakin dingin ibarat gunung es bawah air yang tak ketahuan seberapa tingginya karena kaki hingga pertengahannya terbenam. Dari luar, hanya terlihat puncaknya saja, sehingga sekilas terkesan kecil/pendek.
Bagaimana cara mencegah/mengatasi kasih yang semakin dingin? Sebagai makhluk sosial, selain kebutuhan dasar/pribadi individual, kita memiliki kebutuhan sosial; berkomunikasi, diperhatikan/didengarkan, apalagi kasih sayang. Sependiam/secuek apapun, tentu kita butuh berkomunikasi dengan seseorang. Tak ada seorangpun sanggup memenuhi semua kebutuhannya hanya sendirian. Singkatnya, kita hidup saling memerlukan, saling mendukung dan membantu dalam berbagai hal. Bukan hanya sekadar berbicara, ketertarikan hingga rasa kasih bisa timbul dari hubungan pertemanan hingga membentuk persahabatan. Bagi yang masih lajang, tak jarang dapat menemukan calon pasangan hidup hingga kemudian membentuk keluarga. Meskipun sudah lama bersama/menikah, pertahankanlah kasih yang ada, peliharalah selalu dalam hati masing-masing. Ingatlah dan syukuri semua kebaikan, maafkan segala keburukan, bertahanlah menghadapi segala persoalan.
Kasih menjadi dingin juga karena sering dianggap take it for granted, sudah ‘dari sananya’, sebuah kewajiban antara anggota keluarga, wajar-wajar saja ada dan lain-lain. Setiap hari bertemu orang-orang yang sama, interaksi rutin dan semacamnya bisa jadi sudah bisa diprediksi, terulang kembali, cenderung menjenuhkan. Kasih yang semakin dingin menimbulkan ketidakpedulian sosial bahkan menimbulkan kesepian di tengah keramaian, alone in the crowd. Hendaklah kita berusaha kembali menyalakan api lilin-lilin kasih antara sesama manusia. Kecil-kecil saja, tidak panas membakar, namun mampu menghangatkan bahkan ‘menular’ atau menyebar ke sesama.
2. Semakin berkurangnya rasa empati. Empati berbeda dengan simpati yang seringkali hanya diucapkan/dilakukan sebagai bentuk pemenuhan norma kesopanan atau kewajiban (formalitas) belaka. Rasa empati memampukan kita melihat dan merasakan sesuatu dari sudut pandang sesama tanpa perlu mengalami dulu sendiri. Hargailah empati sesama, jangan anggap mereka cengeng atau lemah hanya karena lebih menunjukkan empati. Bayangkan jika diri sendiri yang mengalami membuat kepekaan sosial makin terasah. Belajar berpikir dalam dan jauh ‘bagaimana jika saya ada dalam posisinya/menjadi dirinya? Apa yang saya lakukan? Apakah saya mampu berbuat lebih baik dalam mencari jalan keluar dari masalah ini?’ Empati sering tumbuh/dibiasakan dari dalam keluarga, akan tetapi juga bisa dimulai dari diri.
Bagaimana contohnya? Apabila Anda sering menonton drama Korea/drakor, drachin atau semacamnya tentu pernah terharu atau terbawa suasana karena ceritanya begitu dalam menyentuh jiwa, penasaran-sedih-bahagia hingga menonton lagi dan lagi. Nah, jika kisah fiksi saja mampu sedemikian membuat baper, lantas mengapa tidak kisah nyata? Apalagi setelah mampu memikirkan ‘bisa saja hal yang sama terjadi dalam kehidupan setiap orang termasuk saya’, empati semakin mudah tumbuh.
Empati bukan hanya berupa belas kasih, melainkan bukti bahwa manusia bukan hanya dikaruniakan Tuhan naluri, melainkan juga tepa selira atau tenggang rasa.
3. Jurang perbedaan yang semakin memisahkan. Karena setiap orang lahir dan dibesarkan dengan latar belakang keluarga/pendidikan, situasi dan kondisi hidup berbeda-beda, perbedaan seringkali menjadi jurang pemisah jauh, tak terseberangi. Perbedaan generasi, latar belakang, bahkan status sosial. Perbedaan semacam itu kerap jadi alasan, diungkit dan dipermasalahkan. Menganggap diri-kelompok sendiri sudah paling baik dan atau benar, atau sebaliknya, merasa tersudut lalu iri dengan takdir/nasib orang lain. Belum lagi perbedaan fisik (misalnya disabilitas) yang rentan perundungan, menimbulkan stigma ‘yang dialaminya karena salah orang tua, dosa masa lalu’ dan sebagainya, menimbulkan rasa rendah diri atau bahkan lebih buruk lagi bagi yang mengalami.
Sadarilah, bagaimanapun keinginan pribadi dan usaha kita untuk mengubah dunia, perbedaan akan selalu ada. ‘Kekurangan’ manusia lain belum tentu bisa kita ubah atau perbaiki. Tidak mungkin semua hal bisa berjalan sesuai yang kita anggap ideal. Bisa berbesar hati menerima bahkan menganggap perbedaan sebagai suatu ‘kekayaan lingkaran kehidupan’ adalah sikap langka sekaligus luar biasa. Bukan pula berarti menyatukan semuanya menjadi hal baru, melainkan menganggap apa yang ada sebagai keindahan variasi/warna-warni dalam hidup. Ikhlas menerima dan menjalani, ingat berkat serta bersyukur, mendoakan agar perubahan positif terjadi tentu saja boleh dilakukan.
Tiga di atas hanya sebagian kecil saja dari kumpulan benang merah sumber masalah ‘makin murahnya nyawa/hidup manusia’ makin suburnya perundungan serta tingginya masalah gangguan kesehatan mental. Selain mencoba menjaga kehangatan hubungan sosial, memupuk empati, berdampingan dalam damai dengan perbedaan, jangan lupa memperlakukan sesama manusia seperti diri sendiri ingin diperlakukan.
Semoga bermanfaat.
Tangerang, 21 Oktober 2025











