Situasi menakutkan, apa saja misalnya? Tempat bernuansa horor, mungkin juga saat jalanan sepi di malam hari. Atau ada juga orang yang takut pada keramaian, merasa tidak nyaman, takut dicopet. Penulis sering mendengar dan mengalami beberapa situasi yang ‘menakutkan’ bagi kebanyakan orang, namun berusaha (dan berhasil) untuk tetap berani. Berani dalam konteks ini bukan berarti tidak lagi punya rasa takut atau khawatir pada segala-galanya, melainkan mau berjuang menghadapi situasi (memperbaikinya jika masih bisa, jika tidak, minimal berusaha mengurangi akibatnya).
Mengapa kebanyakan manusia masih memiliki bahkan ‘gemar memelihara’ rasa takut?
- Kecenderungan kita mengikuti tradisi atau opini/kata orang lain. Misalnya rasa takut pada angka tiga belas (13) atau angka empat (4), sehingga kita berusaha sebisa mungkin menghindari angka-angka tersebut. Entah nomor rumah, tanggal, dan sebagainya.
- Pengalaman (orang lain) yang belum kita pernah lihat sendiri/buktikan namun telanjur memberikan sugesti negatif kepada kita.
- Kisah-kisah fiksi atau cerita rakyat yang sudah lestari turun-temurun hingga menjadi ‘budaya’ yang suka tidak suka akan selalu ada dan berkembang di antara anggota masyarakat.
Mungkin awalnya rasa takut itu ditujukan untuk memelihara kewaspadaan. Misalnya anak-anak kecil yang belum boleh keluar rumah sendirian, ditakut-takuti orang tuanya dengan folklore atau urban legend yang mungkin untuk sementara (selama masih belia) akan mereka percayai. “Jangan begini, nanti begitu!” Akan tetapi jika dibiarkan, rasa takut bisa menghambat kemajuan, menghadirkan kekhawatiran yang menyebabkan ‘dikit-dikit mundur/tidak jadi’. Misalnya, karena dari kecil udah takut gelap, maka terbiasa tidur hingga dewasa dengan lampu kamar menyala. Padahal, ada bukti ilmiah jika tidur dengan lampu menyala kurang baik bagi kesehatan.
Beberapa ayat dalam Alkitab mengandung kalimat sederhana yang hanya berisi dua kata namun sangat menguatkan: “Jangan takut!” (Yesaya 41:10, Yosua 1:9, Mazmur 23:4, Matius 14:27, Filipi 4:6-7, 2 Timotius:1-7). Mengapa kita sebagai Orang-orang Percaya tidak perlu secara berlebihan merasa takut?
- Roh yang ada dalam diri kita (hanya atas kehendak Tuhan dan berasal dari Roh Kudus) jauh lebih besar daripada segala roh yang ada di dunia ini. Jika kita masih merasa takut, merinding, cemas, yang perlu kita lakukan adalah berdoa dan menyanyi. Lho, mengapa? Apa ‘sih istimewanya? Doa yang sungguh-sungguh dipanjatkan kepada Alamat yang tepat sangat besar kuasanya, demikian pula dengan puji-pujian untuk-Nya. Roh Kudus memang tidak kelihatan alias kasat mata, akan tetapi Dia ‘menyelubungi’ kita dengan kuasa-Nya yang tak mudah untuk dimengerti. Roh-roh jahat undur, lari ketakutan hingga kekuatan musuh lenyap ibarat kegelapan luluh lantak tersentak cahaya, nyala nan terang-benderang.
- Ketakutan bukan hanya masalah fobia, ada juga yang takut terluka hatinya atau takut karena trauma masa lalu (yang sering dijadikan alasan/pembenaran), merasa kapok/tidak mau lagi mengalami. Misalnya takut jatuh cinta lagi karena pernah disakiti lawan jenis, takut karena pernah ditipu (mantan) kenalan secara finansial, dan sebagainya. Barangkali ia benar, ada orang yang hidup jauh lebih baik karena Tuhan memang punya rencana indah baginya saat bersendiri (lajang karena panggilan hidup, bukan takut nikah dan lain-lain). Sikap waspada dan mawas diri diperlukan agar tidak lagi mudah tertipu. Akan tetapi hendaklah kita peduli berusaha merawat luka hingga pulih. Dengan berdoa, mulai membuka diri dan hati, plus andalkan pertolongan Tuhan, rasa takut karena masa lalu berangsur-angsur tawar memudar, digantikan-Nya dengan kesempatan kedua, keberanian, hingga berbuah kemenangan.
- Keberanian bukan berarti mentang-mentang ada Tuhan ini lantas asal petantang-petenteng atau gas, maju jalan, grak! tanpa arah dan kendali. Beranilah bukan karena diri hebat atau kuat, melainkan karena ada Tuhan bersama kita. Imanuel! Ingatkah pada kisah Daud dan kisah Daniel? Saat Daud melawan Goliat Si Raksasa, seandainya Daud merasa hebat sendiri (mentang-mentang pernah mengalahkan singa saat menggembalakan domba), Daud gak akan menang. Demikian pula saat Daniel dijebloskan ke dalam gua singa. Jika Daniel sok-sokan nyoba mawangin singa ala animal whisperer, mungkin dia gak bakal survive, bertahan hidup, selamat hingga pagi. Namun Tuhan bersama Daniel, Dia mengatupkan mulut-mulut singa itu hingga Daniel keluar dengan selamat! Berbeda cerita dengan orang-orang yang memfitnahnya yang kemudian dijebloskan, dimangsa oleh singa-singa kelaparan itu.
Keberanian perlu dinyalakan ibarat cahaya lilin memerlukan pemantik agar mendapatkan api. Keberanian bukan timbul dari sananya melainkan karena ada Tuhan bersama kita. Jadilah berani, tetaplah berani, jangan sok berani. Majulah hanya bersama Tuhan dan bersyukurlah apabila keberanian kita membuahkan kemenangan.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 14 April 2026











