Penulis sejati, apakah Anda dan saya orangnya? Semoga.
Berikut ini beberapa opini pribadi saya mengenai apa saja kriteria penulis sejati. Opini Anda bisa saja berbeda. Silakan ditambahkan jika perlu.
1. Seorang penulis sejati tak hanya sibuk kejar gelar-gelaran ala logam mulia di platform, kejar target jumlah kata atau jumlah karakter. Tak sibuk memikirkan segala angka dan jumlah seperti halnya pengusaha dan ahli matematika. Pendapatan bukan target utamanya sebab tulisan bukan hanya komoditi atau produk konsumsi belaka. Tulisan adalah buah pikiran matang dan pendapat yang bisa mengubah dunia, bisa diwariskan, bisa dilakukan, bisa mengubah dunia. Bukan hanya seperti balon gas yang dijajakan, meletus lalu selesai.
2. Penulis sejati tahu pasti rasa dan derajat kata-kata. Ia tidak sembarangan mengutip dan menggunakan diksi atau kosa kata. Walau bersinonim, ia tahu di mana menggunakannya. Ibarat spektrum warna, ia tahu bedanya warna rose pink dan fuschia, walau sama-sama keluarga warna merah muda. Tidak asal pakai saja asal kelihatan keren dan nyastra.
3. Penulis sejati tidak hanya merasa dirinya sendiri sudah paling benar, melainkan terus mencari ilmu yang benar dari segala sumber bacaan kredibel dan bermanfaat. Tulisan penulis lain baginya yang tidak sejalan akan menjadi bahan inspirasi, bukan hanya sibuk dijadikan sasaran kritik seolah dirinya akan menulis jauh lebih baik dan benar. Jika ada yang kurang sreg, ia akan menuliskan karya lain yang jauh lebih sreg daripada menghabiskan waktu menjatuhkan karya orang lain sambil bermain menjadi editor-editoran.
4. Penulis sejati tahu bagaimana memilih dan menempatkan diri dalam komunitas kepenulisan terbaik. Sebuahkomunitas yang bukan hanya sibuk kejar buat/ikut segala event dan target demi besarnya nama dan keuntungan, bukan hanya memikirkan uang, melainkan mampu berlaku seimbang, adil dan memperlakukan anggota atau sesama rekan penulis sama rata. Tidak ada perbedaan antara senior-junior, lama-baru, dan sebagainya.
5. Penulis sejati tidak akan mencemarkan nama baik aplikasi atau platform tempatnya selama ini bernaung. Ibarat bakul nasi yang menjadi sumber pangan kita sehari-hari, penulis sejati tidak akan mencemarinya dengan kata-kata kurang mengenakkan di belakang. Apabila ada hal atau kebijakan yang kurang disukai, penulis sejati akan mengeluarkan suara jujur, memberi pendapat dan masukan terbaik yang terpikirkan olehnya, sebuah wujud kepedulian dan sumbangsih. Bukan membicarakan diam-diam di belakang atau malah bersikap negatif dan pesimis.
6. Penulis sejati peduli pada kesejahteraan dan edukasi sesama, tidak hanya memikirkan bagaimana mengisi kantung atau perutnya sendiri. Ia tidak hanya berbagi di mana mencari uang, melainkan bagaimana. Tentunya tidak asal koar-koar. Menjadi duta aplikasi atau hunter boleh saja, asal sudah bisa membuktikan sendiri melalui karya nyata dan kata-kata halal yang sudah dikeluarkannya.
7. Penulis sejati bukan mereka yang sudah terkenal se-Indonesia, sedunia atau sejagat raya, melainkan mereka yang berdedikasi, rindu akan cerahnya kembali langit literasi kepenulisan Indonesia. Berusaha memperlakukan pembacanya sebagai anak-anak, sahabat, keluarga sendiri, bukan hanya sebagai pengikut, penggemar atau sumber uang saja. Tidak memikirkan hanya dibaca sekian juta orang tanpa memberi mereka hadiah terbaik, bukan hanya hiburan, melainkan sebentuk edukasi tanpa guru.
8. Penulis sejati senang membaca karyanya sendiri, tidak hanya asal tulis asal laku seperti selera pasar saja. Ibarat masakan homemade, baginya hidangannya harus benar-benar lezat, sedap, mantap dulu rasanya bagi diri sendiri, baru ia luncurkan atau bagikan kepada dunia. Bukan ibarat memasak asal laku dengan taburan bumbu ini itu, melainkan memikirkan dampak jangka panjangnya bagi pembaca serta bagaimana karyanya cukup memuaskan bagi pencapaian visi misi pribadinya.
Semoga bermanfaat.









