Home / Genre / Misteri / Blue Helloween

Blue Helloween

Blue Halloween - Vi Vone

Mike mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Keranjangnya sudah penuh dengan permen dan coklat yang nikmat. Sepertinya dia tak sabar untuk segera memamerkan hasil pendapatannya pada Hanson. Bukankah kakaknya itu yang paling bersemangat mengolok-ngoloknya. Menurutnya anak 10 tahun terlalu tua untuk bermain trick or treat. “Bodoh. Kau saja yang iri karena tak bisa lagi melakukannya,” kata Mike bersungut-sungut dengan suara lirih. Tentu saja Hanson tak mendengar itu.

Anak laki-laki yang bersemangat, begitu selalu paman Felix menyebut Mike. Bocah yang tak pernah melewatkan keseruan apapun jika itu tentang Halloween. Bahkan dia rela mencuci jubah tua kakeknya sebagai kostum Harry Potter yang ingin dia kenakan di malam yang dipenuhi nuansa horor dari labu berlilin di beranda rumah.

“Tapi, Harry Potter bukan hal yang menyeramkan, Mike,” tegur Tina saat mengetahui sahabatnya itu mengatakan keputusannya.

“Siapa yang mau terlihat menyeramkan? Aku ingin terlihat keren. Harry itu keren!” Mike yang ngotot hanya mendapatkan gelengan kepala dari Tina yang cemberut.

Bukan apa-apa, gadis itu ingin memakai kostum yang berpasangan dengan Mike, tapi dia tak bisa menjadi Hermione, rambutnya terlalu pendek … belum lagi pipinya … seperti roti burger yang belum terbelah. Apakah dia harus memakai baju peri di kisah cinderella? Sepertinya itu lebih cocok. Memikirkan itu saja Tina sudah senyum-senyum sendiri.

Tina berhasil membuat dirinya seperti peri montok di malam Trick Or Treat. Tapi gaunnya yang terlalu panjang sangat tak cocok dengannya. Langkahnya terlalu sembarangan, hingga bagian bawah gaun hampir selalu terinjak kakinya saat dia menaiki tangga. Tapi dia menikmatinya. Apalagi saat berjalan di belakang Harry Potter dengan jubah yang kepanjangan, Tina berjalan dengan berusaha terlihat anggun, meskipun itu tidak sepenuhnya berhasil.

Kelompok mereka terdiri dari Rico, Helen, dan si kecil Liam. Mereka berada di kelas yang sama, kecuali Liam yang setingkat di bawah mereka. Tidak ada pemimpin dalam kelompok kecil itu, tapi hampir setiap hal yang mereka lakukan tak ada yang membantah jika Mike yang mengatur rencana.

“Kita berkunjung jangan sampai terlalu jauh. Apalagi sampai ke daerah pinggir hutan, bahaya.” Begitu arahan Mike pada kawan-kawannya yang disambut dengan anggukan setuju.

“Ya, ibuku sudah berkali-kali mengingatkanku untuk tidak ke arah di mana rumah besar itu berada.” Helen menambahkan.

“Ehm … Sebenarnya aku penasaran, tapi untuk saat ini, aku akan mendengarkan kalian.” Rico menimpali dengan gaya sok tangguh. Semua tahu, Rico hanya pura-pura. Meskipun badannya besar,  nyalinya tak lebih dari sebutir kacang.

Si paling pemberani sejatinya adalah Liam. Dia yang paling muda di antara mereka, tapi tak ada satu pun yang meremehkannya.

“Aku tak ingin tahu. Karena aku tak perlu tahu,”  sahut Liam dengan suara rendah, seperti sedang bicara pada dirinya sendiri. Sepertinya semua setuju, karena tak ada perdebatan lagi setelahnya.

Mike menyandarkan sepedanya di samping garasi. Mengambil sekeranjang penuh permen dan berjalan sambil menggoyangkan tongkat sihirnya dengan irama dari mulutnya.

“Aku pulang!” teriaknya begitu membuka pintu. Tak ada balasan. Ruang tamu tampak hening. Hiasan Halloween masih berada di tempatnya. Permen dan kue masih memenuhi meja. ‘Di manakah orang-orang?’ Mike mulai bertanya-tanya dalam hati.

Ayahnya memang sedang bertugas di luar kota. Hanya ibu dan dua orang kakaknya yang ada di rumah. Tapi Mike ingat, Shandy hendak bertemu dengan pacarnya untuk pesta Halloween di sekolah, jadi  kemungkinan dia juga tak ada di rumah.

“Blam!” Terdengar suara dari dapur! Seperti ada yang menutup pendingin dengan kencang. Mike terkejut setengah mati! Hampir saja dia mengeluarkan kata-kata makian kalau saja dia tak ingat ibunya berada di rumah. Kalau sampai ibu dengar, bisa habis dia. Ibunya tak pernah main-main saat memberi hukuman, bisa selamanya dia terkurung dalam kamar untuk menulis ini dan itu sebagai sanksinya. Mike tak suka.

“Mom? Hanson? Itu kau, Kan?” Teriak Mike lebih keras. Dia tak ingin berpikiran buruk, karena itu bocah kelas 5 SD itu sungguh-sungguh berharap ibunya atau kakaknya lah yang sedang mengerjainya. Dia lebih menyukai pikiran itu dari pada sesuatu yang lebih buruk la-

“Braakk!” Suara mengejutkan kali ini berasal dari arah tangga bagian atas. Mike yang hendak ke dapur segera membatalkan langkahnya. Pandangannya kini teralihkan ke atas tangga.

Dengan berjalan sangat pelan, Mike mengambil pemukul baseball di lemari penyimpanan di bawah tangga, lalu menutup pintunya dengan hati-hati. Untuk sesaat, matanya tertarik melihat ke arah dapur yang pintunya menghadap lorong di mana dia berada sekarang. Anak tangga ada di sebelah kiri di dekat pintu dapur. Mau tak mau pandangannya tertuju pada dapur. Seketika dia tak suka melihat dapurnya yang gelap, seperti ada yang sedang menunggunya masuk untuk menyalakan lampu. Tapi Mike mengabaikan semuanya dan mulai menaiki tangga.

Kosong. Rumahnya benar-benar kosong. “Mereka semuanya kemana, sih? Kenapa mereka tak meninggalkan pesan apapun? Ah, menyebalkan!” Mike menggerutu sambil menuju dapur.

Di pintu dapur dia baru ingat, “Bukankah tadi lampunya mati?” Mike membeku. Satu detik, dua detik, seketika dia balik badan lalu lari keluar rumah!

“Bugh!” Mike jatuh usai menabrak sesuatu.

Rico!

“Kenapa kamu ada di sini? Bukankah tadi kau sudah pulang?” Mike bertanya dengan terengah-engah. Kepalanya berkali-kali menoleh ke belakang—ke arah rumah, khawatir ada kejutan lain yang tiba-tiba keluar tanpa dia menyiapkan apa pun.

Sementara Rico hanya menatap Mike tanpa ekspresi. Wajahnya pucat, pandangan matanya kosong, tangan dan baju yang dia kenakan kotor sekali. “Antar aku pulang.” Rico berkata dengan suara yang membuat Mike merinding.

“Jangan bercanda! Rumahmu hanya di ujung blok. Aku sedang banyak urusan.” Mike sedikit gusar. Keberadaan keluarganya yang belum diketahui, dan sikap Rico yang mencurigakan, membuatnya bergidik, bagaimanapun dia harus tahu di mana keluarganya berada sekarang.

Tanpa mempedulikan Rico yang masih berdiri menghadang di halaman, Mike segera mengambil sepeda yang tadi dia sandarkan di dekat garasi. Namun tiba-tiba Rico sudah berdiri di belakangnya. Mike yang terkejut sampai hampir jatuh ke belakang. “Haiisshh, kau bikin kaget, saja!” teriaknya pada Rico.

“Antar aku pulang.” Rico kembali berkata, masih dengan nada yang membuat Mike mulai ketakutan. Satu hal yang dia tahu, secepatnya harus segera menjauh dari Rico.

Buru-buru dia menaiki sepedanya, berharap segera bisa meninggalkan halaman rumahnya, tapi lagi-lagi ….

“Duk!” Sebuah ruas besi ringan jatuh mengenainya. Mike mengenali benda itu, tongkat sihir dengan bintang di salah satu ujungnya, yang tadi dibawa Tina sebagai pelengkap kostum. “Kenapa ada di sini?” Mike bertanya pada diri sendiri.

“Antar aku pulang, Mike. Tolong aku.” Suara itu membuatnya mendongakkan kepalanya.

“Tina! Helen! Kalian kenapa ada di sini?” Mike bertanya dengan heran dan … takut. Gaun yang dikenakan Tina terlihat kotor. Beberapa bagian terkoyak. Helen pun terlihat pucat dengan rambut panjangnya yang kusut, seperti bukan Helen yang dia kenal. Helen anak tercantik di kelasnya, dan sudah pasti dia tak akan membiarkan dirinya terlihat buruk saat keluar rumah. ‘Tapi sekarang? Ada apa dengan mereka?’ Mike bingung. Dia betul-betul tak tahu, kenapa kawan-kawannya datang bersama-sama seperti ini.

Mike melihat berkeliling. Dia baru menyadari tak ada seorang pun di jalan. Suasana sepi. Rumah-rumah di sekitar seperti tertutup dan gelap.

Saat itu tiba-tiba Helen dan Tina sudah sangat dekat di depan Mike. Wajah Tina kian pucat hingga matanya menghitam. Gurat-gurat halus kini semakin jelas menjalari wajahnya juga Helen. Belum usai mengatasi ketakutannya, Mike menyadari Rico berada tepat di belakangnya, saat dia memutar pandangannya, kepala temannya itu sudah penuh darah. Mike yang ketakutan berusaha mundur dan terjatuh di atas rumput, tak berdaya.

“Antar aku pulang, Mike.”

“Antarkan aku pulang, Mike.”

“Antarkan aku pulang, Mike. Tolong ….”

Mike menutup telinganya, berharap semua hanya mimpi buruk yang akan hilang saat dia bangun nanti. Tapi yang ada justru sebuah bayangan besar hitam mengurungnya dari atas. Menaunginya bersama kawan-kawannya di bawahnya lalu kian mengecil hingga Mike terjepit dan susah bernapas.

“Antar aku pulang, Mike.”

“Antarkan aku pulang, Mike.”

“Antarkan aku pulang, Mike. Tolong ….”

Suara-suara itu masih terdengar sekeras apapun Mike menutup telinganya. Dia berharap seseorang datang menyelamatkannya agar teror itu segera berakhir.

Tapi ternyata tidak. Suara-suara itu semakin keras memenuhi kepalanya, hingga semuanya seperti berputar kencang … lalu gelap.

*

Mike mendengar suara-suara yang dia kenal. Ayah-Ibunya sering terdengar menangis saat bicara. Hanson juga terdengar lebih manis, tidak segalak dulu. Shandy juga terdengar lembut.

Entah berapa lama dia tertidur, yang jelas Mike hanya bisa tidur. Matanya pun tak bisa terbuka meski ingin. Dia hanya mendengar suara-suara.

“Aku bersalah. Seharusnya aku bisa menghalangi kalian untuk ke sana, tapi aku justru mengabaikannya. Aku hanya ingin kalian percaya jika itu bukan ide yang baik jika kalian memaksa ke sana. Itu sebabnya aku pulang sendiri, tapi rupanya itu kesalahan terbesar. Harusnya aku memaksa kalian untuk pulang, atau bahkan menyeret kalian jika perlu.”

“Aku tak ingin menceritakan bagaimana Tina, Helen, dan Rico ditemukan. Semuanya begitu mengerikan. Untungnya kau selamat, meskipun saat ditemukan dalam keadaan sekarat dengan luka yang hebat. Jika kau bangun, kau bisa ceritakan apa yang sudah menghajarmu begitu parah, tapi kau juga bisa melupakannya seperti mimpi buruk yang sialan.”

“Aku mengira jubah tua kakekmu itu yang melindungimu dari hantu-hantu jahat penunggu rumah besar. Meskipun kau harus kehilangan semuanya, kehidupan dan nyaris sisa waktumu.”

Itu suara Liam. Tiba-tiba Mike merasa sedih sekali. Rasa kehilangan yang tak bisa dia ungkapkan.

“Sial! Kau mendengarku, kawan? Setelah sepuluh tahun … kau baru menangis sekarang?” Liam menghapus air mata di wajah Mike dengan tisu. Kemudian mengusap dengan kasar wajahnya sendiri yang juga mulai basah. “Bangunlah, kawan. Aku menunggumu.” Liam menggenggam tangan Mike yang pucat.

Mike merasakan tangannya menghangat. Jika ingatan buruk itu bisa ditukar dengan bangunnya dia dari mimpi panjang, dia akan merelakannya.

“Aku ingin bangun, Tuhan. Boleh?”


Patih, 18 November 2024 14.17

Penulis

  • Vi Vone

    Tentang penulis: Vi Vone merupakan perempuan yang besar di Surabaya, dan kini bertempat tinggal di tanah kelahirannya, Gresik. Seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kesenangan menulis beberapa tahun belakangan ini. Baru tiga kali membuat buku antologi puisi bersama para sahabat literasi di dunia maya, dan dua buku cerita fiksi romance. Dia menyebut dirinya sebagai Penyintas Senggang. Keyakinannya adalah, "Apa yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati."
     

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image