Aku pernah menonton film tentang ibu guru yang membalaskan dendam atas kematian anaknya. Dia memasukkan sesuatu dalam kotak susu yang dibagikan di akhir kelasnya mengajar. Sesuatu yang bisa mengancam nyawa.
Alhasil para murid shock dan merasa ketakutan. Beberapa bahkan berusaha memuntahkan apa yang baru saja diminumnya tetapi percuma, susu dalam kotak-kotak itu sudah masuk dalam tubuh terlalu lama.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ibu guru mendapatkan ide secerdik itu. Hasilnya sungguh efektif. Keinginannya terpenuhi meski aku tidak akan menyebutkan di sini secara lengkap apa yang terjadi pada murid-murid itu.
Sebenarnya aku tidak ingin bermasalah dengan siapa pun, mengingat aku pindah ke kota kecil ini sebagai bentuk sanksi di tempat terdahulu. Aku hanya ingin menjalani hukuman dengan tenang. Ayah dan ibu juga sudah tua, tidak mungkin aku membebani mereka lagi dengan tindakan buruk yang tak bisa kukendalikan. Tetapi aku masih tidak bisa diam begitu saja melihat seseorang dianiaya dengan tanpa rasa bersalah.
Untuk sampai ke titik ini sangat tidak mudah. Aku sudah melihat mereka berbuat jahat pada sesama yang lemah, para siswa yang berusaha untuk tidak terlihat. Mereka yang tidak keberatan berjalan sambil menunduk hanya untuk menghindari tatapan para villain tak tahu sopan santun itu. Sesering apa pun mengabaikan pemandangan itu, aku pernah ada di sana untuk tahu betapa buruknya menjadi korban bedebah seperti mereka.
Tentu saja aku bisa memilih melanjutkan hidup dengan tenang, dan bersikap masa bodoh, seolah-olah ketidakadilan adalah hal yang lumrah. Atau justru melakukan sesuatu untuk membuat perubahan? Sayangnya, dipikir berapa kali pun aku tidak bisa lagi mengabaikannya. Tidak.
“Hei, anak baru! Apa yang kaubawa? Sini!” Salah satu dari mereka memanggil.
“Wah, tahu aja ini kesukaanku. Ini buatku, kan? Ada suplemen vitamin juga. Aku butuh banget ini.” Anak ke-dua merampas begitu saja plastik yang kubawa dari BetaMart.
“Jangan, Kak!” Aku berusaha mempertahankan, tetapi tentu saja sia-sia. Aku bahkan terdorong jatuh menimpa bak sampah.
“Eits, kamu berani juga, ya. Atau bodoh? Sana, pergi! Mumpung kami lagi malas ngadepin anak culun sepertimu. Tapi besok kalau aku panggil, kamu harus datang. Ngerti?!” Pemimpin gerombolan bedebah ini mencengkram kerah leherku hingga kakiku nyaris terangkat. Aku tidak bisa bernapas. Untunglah, sedetik kemudian dia melepaskan dengan dorongan keras hingga aku kembali terjengkang. “Pergi, sana!”
Aku terbatuk beberapa kali untuk memulihkan udara di rongga dada. Setelah itu aku berlari tanpa menoleh lagi. Aku baru berhenti setelah sampai di dekat rumah.
Esoknya sekolah digemparkan dengan berita meninggalnya tiga siswa akibat keracunan. Tidak disebutkan keracunan apa, yang jelas aku melihat wajah-wajah yang mengukir senyum lega tipis-tipis. Aku berhasil.











