“Maman, aku mau ke sini,” pinta Elaine sambil menunjuk photo di layar ponselnya. Aku menoleh dan mengamati photo tersebut.
Punthuk Sukmojoyo. Salah satu spot menarik untuk menikmati pemandangan empat gunung sekaligus. Pegunungan Menoreh, Pegunungan Tidar, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi.
“Ok, kita ke sana,” jawabku cepat.
Dari Kaliangkrik menuju Borobudur lumayan jauh, tapi tak apalah. Sepertinya tempat yang dipilih Elaine cukup menarik dan kebetulan juga aku belum pernah kesana.
Punthuk atau puntuk apabila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI online berarti bukit kecil. Menurut map yang kupelajari dari google, Punthuk Sukmojoyo berada di Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur. Merupakan salah satu bukit kecil yang diapit Punthuk Setumbu dan Punthuk Mongkrong.
Setelah berkendara sekitar lebih dari satu jam, akhirnya kami sampai juga di objek wisata alam dan ziarah yang berada pada ketinggian 600 mdpl tersebut. Sejumlah orang juga menyebutnya Sukmojoyo Hill.
Namun, untuk menuju ke sana harus mengeluarkan perjuangan ekstra karena jalan menuju ke atas bukit memiliki tanjakan yang curam. Dari tempat parkir masih harus berjalan kaki kurang lebih 15-30 menit menuju puncak.
Memasuki area Punthuk Sukmojoyo langsung disuguhi objek menarik berupa tebing selfie dan rumah pohon. Meski sudah menjelang sore tapi masih bisa menyaksikan hamparan warna hijau yang membuat terpesona. Semua lelah terbayar setelah sampai di puncak, begitu melihat keindahan alam yang menakjubkan.
“Mbak Tantri?” Seseorang menyapa. Aku menoleh cepat, seorang laki-laki separuh baya berdiri sambil tersenyum hangat.
“Apa kabar Mbak Tantri?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangan dan menjabatnya erat.
“Alhamdulillah kabar baik. Ini Pak Wito, bukan?”
Laki-laki yang kusebut namanya itu tertawa gelak, “Wah, Mbak Tantri ternyata masih ingat saya.”
“Tentu, dong. Kita pernah ikut pelatihan pemandu wisata bareng, kan?” tandasku.
“Bener … bener, sayangnya setelah itu Mbak Tantri tidak melanjutkan bidang tourisme.”
“Sepertinya saya lebih berbakat di bidang tulis menulis, maklum tukang ngehalu,” elakku sambil tertawa.
Pak Wito, salah seorang pemandu wisata dan penggagas komunitas Serikat Pekerja Borobudur itu ikut tertawa, “Bisa saja, Mbak Tantri. Tapi kalau berubah pikiran dan ingin terjun lagi di tourisme, jangan ragu kontak saya.”
“Siap, Pak.” Aku menjawab sambil tertawa.
Pak Wito menemani berkeliling sampai di rumah pohon. Menurutnya, salah satu daya tarik wisata ini adalah rumah pohon. jika datang di pagi hari bisa menyaksikan pemandangan matahari terbit di tengah Gunung Merbabu.
“Pemandangan akan semakin indah jika datang ke Punthuk Sukmojoyo pada bulan Juli dan Agustus. Pada bulan itu sunset dan sunrise terlihat dengan jelas di Sukmojoyo,” kata Pak Wito menjelaskan. Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling, datang di sore saja pemandangan begitu indah, pasti akan lebih menakjubkan lagi jika pagi hari.
“Awalnya Punthuk Sukmojoyo dikenal sebagai wisata rohani. Banyak orang mendatangi makam Kyai Muhammad Soleh di puncak Punthuk Sukmojoyo.”
“Siapakah Kyai Muhammad Soleh?” Aku baru mendengar nama itu.
“Kyai Muhammad Soleh adalah salah seorang penasehat perang Pangeran Diponegoro, dan nama Punthuk Sukmojoyo diambil dari salah satu keturunan Beliau yakni Gus Galih Sukmojoyo, salah satu pemuka Agama di daerah Magelang.”
“Berarti di tempat ini dulu digunakan untuk peperangan?” tanyaku
“Tempat ini dulu digunakan oleh Pangeran Diponegoro dan pasukannya untuk mengintai musuh saat pertempuran melawan Belanda di Pos Mati yang berada di bawah bukit. Punthuk Sukmojoyo dipilih sebagai tempat pengintaian karena lokasinya yang strategis untuk memantau pergerakan musuh dan sebagai jalur pelarian. Jika tentara Belanda berhasil naik ke Punthuk Sukmojoyo maka pasukan Pangeran Diponegoro akan naik ke tempat lebih tinggi lagi yaitu Punthuk Mongkrong.”
Aku hanya manggut-manggut, jujur saja tak pernah menyangka ada cerita heroik dibalik keindahan tempat wisata ini.
“Ada cerita unik mengenai makam Kyai Muhammad Soleh yang awalnya berada di daerah Majaksingi. Atas permintaan yang disampaikan melalui mimpi kepada Gus Galih Sukmojoyo, kemudian dipindahkan ke Punthuk Sukmojoyo pada tahun 2012.”
Kami mengelilingi bukit sambil menyimak cerita Pak Wito, ” Sejak dipindahkan, makam Kyai Muhammad Soleh mulai sering digelar kegiatan mujadahan setiap Ahad Wage. Awalnya masyarakat yang datang hanya ingin berziarah. Namun, banyak peziarah yang terpesona dengan keindahan alam, hingga warga lokal pun mengelola menjadi tempat wisata. Kini tempat ini justru lebih populer sebagai tempat wisata.”
Ponsel Elaine tiba-tiba menjerit keras, gadis itu mundur untuk menerima panggilan. Intuisiku langsung memberi sinyal, hal yang kutakutkan seakan sedang mengintai untuk menyergap.
“Siapa?” tanyaku saat Elaine kembali.
“Papa,” jawabnya singkat. Aku membeliak, sejenak lupa bernapas, kaget, gugup, sekaligus takut mencekik.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, setelah berpamitan dengan Pak Wito. Elaine memang tidak mengatakan apa-apa, tapi aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Sepanjang jalan menuju tempat parkir, aku hanya diam. Sementara Elaine tetap cuek. Bersama Ran, dia membeli berbagai minuman dan makanan khas Magelang di warung sepanjang jalan yang kita lalui.
Sampai di mobil, Ran pamit beralasan hendak menjumpai teman kuliahnya. Sepertinya dia tak ingin menganggu. Dengan perasaan yang entah … aku mengemudi dalam diam. Elaine pun tak banyak bicara, sibuk memainkan ponsel sambil sesekali tersenyum-senyum.
*
Mobil yang kukemudikan baru memasuki halaman saat mataku tertumbuk pada seorang laki-laki berdarah Perancis yang sedang duduk di teras. Menyadari kedatangan kami, laki-laki itu berdiri, mata birunya berbinar, senyumnya merekah, kedua tangannya mengembang.Dalam hati aku mengumpat, kenapa Elaine tidak bilang jika ayahnya sudah datang? Benar-benar tidak menyangka secepat ini akan bertemu laki-laki yang pernah kutolak cintanya itu.
“Papa,” seru Elaine, menghambur ke pelukan laki-laki dengan tinggi 180 Senti itu. Keduanya saling melepas rindu, sementara aku hanya mematung dengan tubuh gemetar.
“Apa kabar, Tantri,” ujarnya setelah melepas pelukan Elaine, berjalan mendekat dengan tangan terulur.
“Aku … baik.” Ragu aku menyambut uluran tangan, jabatnya masih sehangat dulu … jabat yang membuatku membenci diri sendiri karena tak pernah bisa membuka hati untuk cinta yang ditawarkan dengan tulus.
“Kamu masih tetap cantik,” pujinya. Aku bergeming, hanya tersenyum tipis, entah apa harus tersanjung, atau justru kesal dengan pujian itu.
Aku membuka pintu dan menyilakan masuk, tanpa dikomando laki-laki itu mengikuti Elaine ke kamar tamu, ruangan yang selama ditempati Elaine. Namun, tak lama kemudian di kembali, menyusulku yang sedang menyiapkan minuman di dapur.
“Aku merindukanmu, Tantri,” ucapnya setelah berdiri di sampingku. Aku salah tingkah, tanganku gemetar, menyadari kegugupanku laki-laki itu membalik badanku dan meraih tanganku.
“Aku punya sesuatu untukmu,” ujarnya lagi. Kali ini aku mendongak. Allah … laki-laki ini tak juga menyerah, sudah tak terhitung pemberian berupa barang mahal, dia tak pernah jera meski apa yang dia berikan tak satupun kubalas. Tolong, Tuhan … jangan biarkan dia memberi hadiah yang membuatku berada dalam posisi yang sulit. Sulit menerima ketulusannya, sulit menerima cintanya, meski aku juga tak tahu mengapa aku begitu sulit membuka sedikit celah untuknya.
“Untuk cintaku,” ujar Pierre sambil menyerahkan kotak beledu merah maroon. Dibukanya kotak itu, sebuah cincin bermata Swarovski dikenakan pada jari manis tangan kiriku.
“Maaf, aku tidak bisa menerimanya,” tolakku halus, berusaha melepas cincin. Perih, sakit, harus menyakiti orang setulus Pierre.
“Terima saja. Anggap sebagai tanda terima kasih karena sudah menjadi ibu untuk Elaine, terima kasih sudah menyayangi Elaine.”
“Tapi, Pie ….”
“Psssttt.” Dengan cepat Pierre meletakkan telunjuknya di bibirku. Aku bahkan tak berani membalas tatapan matanya.
“Aku tak memintamu membalas dengan perasaan yang sama, cukup sayangi Elaine, cintai Elaine, seperti putrimu.”
Air mataku tumpah tak terbendung, rasa bersalah karena tak bisa membalas cintanya. Cinta yang tak pernah lelah menunggu hati yang masih berkelana di tempat yang tidak seharusnya.









