Karya Wijatmoko Bintoro Sambodo
Oktober memamah cacah almanak
kemarau yang basah kian pasrah
musim penghujan mengukuhkan penegasan
sebagaimana senja ini gerimis ditiriskan
terus-terusan
petrikor bahkan bukan lagi keistimewaan
padu padan simpul ingatan berkelindan
jiwa-jiwa menghilang mengelabui kesadaran
hujan ini justru serupa entakan
guntur sebagai bentakan
menindas perasaan:
“masihkah ada engkau temui?”
juga seorang perempuan tua yang selalu mengawali percakapan:
“kubuatkan kopi ya”
hujan masih merundungku dengan sopan
mengerangkeng lamunan
tertegun tak berkesudahan
segelas kopi menatapku lekat-lekat
kopi ini biasa ia suguhkan kepadaku
dan hujan itu sekarang membasahi
sekujur imajinasi
Bogor, 25 Oktober 2025










