Karya Wijatmoko Bintoro Sambodo
Oktober memamah cacah almanak
kemarau yang basah kian pasrah
musim penghujan mengukuhkan penegasan
sebagaimana senja ini gerimis ditiriskan
terus-terusan
petrikor bahkan bukan lagi keistimewaan
padu padan simpul ingatan berkelindan
jiwa-jiwa menghilang mengelabui kesadaran
hujan ini justru serupa entakan
guntur sebagai bentakan
menindas perasaan:
“masihkah ada engkau temui?”
juga seorang perempuan tua yang selalu mengawali percakapan:
“kubuatkan kopi ya”
hujan masih merundungku dengan sopan
mengerangkeng lamunan
tertegun tak berkesudahan
segelas kopi menatapku lekat-lekat
kopi ini biasa ia suguhkan kepadaku
dan hujan itu sekarang membasahi
sekujur imajinasi
Bogor, 25 Oktober 2025
Kopi yang Diseduh Perempuan Tua
Oleh Wijatmoko Bintoro S
Tidak ada komentar
29 Oktober 2025 12:04

Wijatmoko berasal dari Magelang yang merantau dan menjadi penduduk Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wijatmoko telah membuahkan sepuluh buku karya tunggal bergenre prosa, puisi, dan pantun. Beberapa tulisannya sempat tersimpan di sebuah blog pribadinya yang gagal dimasuki karena dia kehilangan kuncinya.
Related Posts
Babu (Baca Buku): Panasnya Piala Dunia
14 Juli 2026
Menjadi Penulis: Membuat Business Plan Saat Rehat Ngopi
3 Februari 2026





