Semalam Elaine tidur bersama ayahnya. Aku juga tak berniat mengusik, memberi kesempatan ayah dan putrinya saling melepas kangen. Bahkan aku sedikit menghindar dari Pierre, hanya basa basi menawarkan makan malam, setelahnya masuk ke kamar menyelesaikan novel Cinta Bukan Pilihan yang sedang on going di salah satu platform kepenulisan.
Entah pukul berapa Elaine bangun, saat aku keluar kamar setelah menunaikan salat subuh, aroma masakan sudah memenuhi ruang makan.
“Bonjour, Maman.” Sebuah sapa diiringi kecupan di pipiku.
“Bonjour, Belle.” Suara tenor menyambung sapaan Elaine. Aku menoleh, ayah dan putrinya sudah tampil rapi.
“Bonjour, aujourd’hui c’est vraiment beau.” Aku mengamati meja yang penuh aneka masakan dengan kening terlipat. Tak yakin jika ini semua masakan Elaine.
“Papa yang menyiapkan ini semua, khusus untuk Maman,” ucap Elaine cepat. Aku membulatkan mata.
“Ini semua?”
“Oui, je l’ai préparé spécialement pour la belle femme qui aime beaucoup ma fille.”
“Mercy,” ucapku merasa tersanjung, tapi juga salah tingkah.
“Yuk, sarapan!” ajak Elaine, gadis itu menarik tanganku dan mengarahkan untuk duduk di kursi yang dia siapkan, tepat di samping ayahnya. Aku makin salah tingkah, ada desir halus yang menyelinap.
Elaine mengambilkan semangkuk Ratatouille– semur sayuran khas Prancis yang isinya terong, zukini, paprika, dan tomat–untukku. Hal yang sama dia berikan untuk ayahnya.
Pierre menambahkan Baguette–roti Prancis dengan kulit garing dan bagian dalam yang lembut. Meletakkan di atas piringku. Dalam hati aku merasa heran, darimana mendapatkan bahan-bahan untuk aneka masakan Perancis ini?
“Papa yang membeli bahan-bahan yang sulit didapat.” Elaine menjelaskan sambil menuang Soupe a l’oignon, sup bawang bombay ke dalam mangkuknya sendiri.
“Kamu membawanya dari Perancis?” tanyaku pada Pierre, tak dapat menyembunyikan rasa penasaran.
“Hanya yang tidak ada di sini, selebihnya aku menguras isi kulkas Maman,” ucap Elaine sambil terkikik dengan tangan menutup mulut. Aku menggelengkan kepala, gadis ini selalu punya kejutan yang tidak terduga.
“Maaf, Maman,” ucapnya akhirnya.
“C’est bon, ayo kita makan!” perintahku, meski suasana mulai mencair, tapi kami makan dalam diam. Aku sangat menikmati Ratatouille, semur sayuran yang hangat dan memiliki cita rasa unik yang baru pertama dilidahku.
“Ran mengundang kita ke rumahnya,” ucap Elaine memecah keheningan.
“Dalam rangka apa?” tanyaku sedikit heran.
“Entah, katanya sekadar undangan makan siang karena hari ini orangtuanya terakhir berada di sini,” jawab Elaine.
“Orangtuanya datang?” tanyaku menegaskan.
“Ayah Ran bekerja di Jepang, saat ini sedang liburan,” jawab Elaine.
Aku mengangguk, baru ingat jika ayah Ran berkebangsaan Jepang, sedangkan ibunya asli Jawa, tepatnya dari Magelang. Namun, aku mempunyai firasat lain, undangan Ran pasti bukan sekadar makan siang, ada hal serius yang akan dibicarakan. Tapi entahlah …. aku bukan cenayang, hanya menebak.
Selesai sarapan dan bersiap, kami segera meluncur menuju rumah Ran yang hanya berjarak sekitar 7 km dari rumahku. Namun, begitu tiba di rumahnya, Ran justru mengajak kami menuju sebuah bangunan berdominasi warna merah dengan arsitektur khas China di samping rumahnya.
Bangunan yang terletak pinggir Jalan Delima Raya, Komplek Perumahan Armada Estate, Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara ini adalah Masjid Al Mahdi yang memiliki arsitektur khas China.
Bukannya langsung masuk, aku justru terpukau takjub menatap ke sisi kiri masjid. Sebuah menara setinggi sekitar 5 meter berdiri megah. Menara itu memiliki empat tingkatan yang masing-masing berbentuk lubang. Sedangkan di tingkatan paling atas terdapat pengeras suara.
Di puncak menara ada kubah sederhana bertuliskan lafal Allah. Pierre menepuk bahuku, mengisyaratkan segera masuk. Kedua orangtua Ran sudah menyambut di Selasar masjid yang memiliki kemiripan dengan kelenteng. Ada lampion-lampion, berjumlah 11 buah, yang bergantung di langit-langit selasar masjid. Masing-masing lampion berwarna merah itu berhiaskan kaligrafi lafal asmaul husna atau nama-nama baik Allah.
Kami memasuki ruangan masjid seluas 290 meter persegi ini, terlihat beberapa ornamen khas China, seperti lampu, gagang pintu bernuansa emas, dan masih banyak lagi yang aku tak tahu namanya. Meski demikian, semua itu tidak menghilangkan nilai islami dari sebuah masjid. Beberapa kaligrafi menghiasi dinding masjid, termasuk sebuah mimbar dan karpet hijau membentuk sajadah.
Menurut Satoshi, ayah Ran yang sudah lama menempati daerah ini, Masjid Al Mahdi dibangun oleh seorang warga keturunan Tionghoa bernama Kwee Giok Yong. Seorang pria yang tinggal persis di belakang masjid dan menjadi mualaf sejak usia 11 tahun. Namanya kemudian berganti menjadi Mahdi yang kini diabadikan menjadi nama masjid tersebut.
“Nah, itu dia Mahadi Shida,” ujar Satoshi sambil menunjuk seorang pria berwajah khas oriental, lumayan tampan untuk ukuran pria berusia menjelang 50an tahun. Pria itu tengah berbaur dengan jamaah. Sepertinya sedang menyiapkan salat dhuhur.
Menyadari keberadaan kami, Mahdi mendekat. Senyum ramah menghias wajah teduhnya. Setelah saling mengenalkan diri, Mahdi berbagi cerita bahwa sebelum dibangun masjid, bangunan itu dahulu adalah rumah yang jarang digunakan. Kemudian pada bulan Agustus tahun 2016, ia berinisiatif membangun tempat ibadah dengan arsitektur khas China.
“Dulu hanya rumah, lalu kami bangun masjid ini, waktu pengerjaannya kurang lebih selama 8 bulan,” kata Mahdi, yang juga memiliki kegiatan mengajar Taman Pendidikan Al Quran di masjid ini. Mahdi mengatakan, bangunan Masjid Al Mahdi sengaja mencontoh arsitektur China. Ini untuk mengenalkan bahwa sebenarnya agama Islam sudah tersebar di pelosok dunia. Tak hanya di Indonesia dan negara Timur Tengah saja, tetapi juga di China.
”Saya pernah ke China, semua bangunannya seperti ini, tidak hanya kelenteng tapi juga masjid dan rumah-rumah warga. Muslim di sana juga banyak, jadi saya pun ingin menunjukkan kalau Islam itu ada di mana-mana,” ucap Mahdi bangga.
Menurut Mahdi masjidnya baru diresmikan oleh Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito pada pertengahan April 2017. Konon tempat ibadah itu sekaligus menjadi masjid ke-18 di Indonesia dan nomor 2 di Jawa Tengah setelah Purbalingga yang memiliki arsitektur China.
“Bukan hanya bentuk bangunannya saja yang beda dari masjid lainnya, tapi di sini juga ada kegiatan thalabul ‘Ilmi. Ada kajian ilmu tentang fiqih, hadist, tafsir dan sebagianya. Termasuk belajar Al Quran untuk anak-anak setiap sore,” urai Mahdi.
Masih menurut Mahdi, di bulan suci Ramadhan hampir setiap hari masjid digunakan untuk acara keagamaan dan pengajian. Khusus Minggu malam digelar shalawatan, Senin kajian fikih, Selasa kajian hadist, Kamis membaca Al Kahfi, Jumat tadarus Al Quran, dan Sabtu membaca Yasin tahlil.
Meski tergolong baru, tapi masjid ini mampu menarik minat masyarakat untuk datang. Sebagian besar yang mengunjungi masjid itu adalah warga sekitar yang tinggal di komplek perumahan elite tersebut. Namun, karena keunikannya warga dari luar daerah akhirnya banyak yang sengaja mengunjungi Masjid Al Mahdi.
“Kami pengurus masjid sangat bersyukur, Alhamdulillah. Ini bagian syiar kami. Pernah ada orang tiba-tiba ingin shalat, karena melihat masjid ini ketika melintas lewat sini,” kenang Mahdi sambil berpamitan. Azan dhuhur mulai dikumandangkan, seluruh jamaah bersiap menunaikan salat.
*
Selesai salat, Satoshi dan istrinya kembali mengajak kami duduk di Selasar. Ran, yang merupakan putra pertama kedua pasangan beda bangsa tersebut duduk di antara orangtuanya. Sambil menikmati makan siang dari sebuah katering terkenal di Magelang, kami mengobrol.
“Mohon maaf sebelumnya, Monsieur Pierre.” Satoshi membuka kalimat, pria Jepang yang juga fasih berbahasa Perancis itu kelihatan serius. Pierre mengangguk, memberi isyarat untuk melanjutkan kalimatnya.
“Kami berniat melamar putri Anda untuk anak kami Ranmaru.”
Kalimat Satoshi begitu tenang dan penuh wibawa, tapi cukup membuat kami semua kaget tak terkecuali Elaine.
“Anak kami, Ranmaru meminta izin pada saya, dia mengatakan bahwa telah jatuh cinta pada putri Anda dan berniat untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius,” lanjutnya.
“Hmmm … saya ….” Pierre justru menoleh ke arahku, mencari dukungan. Laki-laki itu terlihat bingung dan canggung.
“Kami sebagai orangtua hanya bisa menyerahkan jawabannya kepada yang bersangkutan.” Aku mewakili menyampaikan jawaban.
“Elaine, bagaimana? Apakah kamu mencintai Ran dan bersedia menerima lamarannya?” tanyaku pada gadis yang sudah kuanggap sebagai putriku sendiri. Meski Elaine pernah mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Ran, tapi aku tak menyangka proses perjalanan cinta mereka begitu cepat.
“Aku … aku terserah Maman,” jawab Elaine sambil menggenggam tanganku, terasa dingin dan sedikit bergetar.
“Hey, kenapa harus aku?” tepisku. Gadis itu menunduk.
“Tanyakan pada hatimu, jika kamu yakin dengan perasaanmu maka lakukan. Tapi jika masih ada keraguan, sebaiknya berpikirlah lagi. Karena sesuatu yang diawali dengan keraguan hanya akan menjadi kesia-siaan.” Aku menegaskan. Elaine memandangku dan ayahnya bergantian.
“Papa …?”
“Apa yang dikatakan ta mere benar. Tanyakan pada hatimu. Jangan membuat orang lain kecewa dengan sikap ragu,” tegas Pierre pada putrinya.
Elaine menghela napas panjang, kemudian memelukku dan ayahnya bersamaan. Aku gelagapan, pelukan Elaine membuat tubuhku harus berimpit dengan Pierre. Pikiranku melayang, dadaku berdesir kuat. Ah … rasa apa lagi ini?
“Kamu mencintai Ran?” tanyaku lembut. Elaine mengangguk.
“Kamu siap untuk hidup bersamanya?” tanyaku lagi. Elaine kembali mengangguk.
“Tinggal di Indonesia dan meninggalkan negaramu?” Kali ini ada penekanan dalam pertanyaanku. Elaine terdiam sejenak, tapi kemudian mengangguk tanpa ragu.
“Kamu yakin?” ulangku sekali lagi.
Lagi-lagi Elaine mengangguk, “Maukah Maman membimbingku untuk menjadi pendamping hidup Ran?”
Aku mengusap rambut blondenya, menangkupkan kedua tangan di pipinya yang kemerahan, “Tentu aku akan selalu membimbingmu, putri cantikku.”
“Mercy, Maman.”
Elaine melepas pelukannya, aku bernapas lega. Setelah mengatur napas, gadis itu memandang semua yang hadir satu persatu. Pandangannya terhenti pada Ran, bibirnya sedikit gemetar, “Bismillahirrahmanirrahim, aku … aku mau menikah dengan Ran.”
Seruan Hamdallah menggema serentak. Wajah-wajah lega penuh syukur terpancar. Ran menatap Elaine penuh sukacita.
“Terima kasih, aku janji akan membahagiakanmu,” ucap Ran tulus.
“Kami titip Elaine,” ucapku mewakili Pierre yang lebih banyak diam. Laki-laki itu terlihat bahagia sekaligus sedih karena harus berpisah dengan putri semata wayangnya.
Ran meminta waktu berdua dengan Elaine, ada yang harus dibicarakan katanya. Sementara orangtua Ran, pamit lebih dulu karena persiapan kembali ke Jepang.
Note :
Bonjour, aujourd’hui c’est vraiment beau: Selamat pagi, hari ini sungguh indah
Oui, je l’ai préparé spécialement pour la belle femme qui aime beaucoup ma fille: Ya, aku menyiapkan khusus untuk wanita cantik yang sangat menyayangi putriku









