Home / Genre / Petualangan / 28. Kisah Yang Tak Usai (Tamat)

28. Kisah Yang Tak Usai (Tamat)

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
1
This entry is part 28 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Selepas magrib Elaine pamit pergi bersama Ran, meninggalkan aku berdua dengan Pierre. Laki-laki itu duduk termangu. Matanya menatap layar kaca yang sedang menyiarkan berita, tapi aku bisa membaca pikirannya berada entah dimana. Aku menghembus napas panjang, berusaha mengusir resah, ragu mendekat, tapi membiarkannya duduk sendiri di saat hatinya sedang patah juga tidak tega.

Dalam perjalanan pulang tadi, tak henti dia mendesah,  mengungkapkan cintanya yang harus patah tiba-tiba. Rasanya baru kemarin istrinya meninggal saat melahirkan, dan dia harus membesarkan putri kecilnya seorang diri, sebagai single father yang tidak mudah. Dan hari ini tiba-tiba harus melepasnya untuk dimiliki orang lain. Menurutnya itu terlalu mendadak, belum siap untuk melepaskan cintanya.

Aku mendekat, mengambil tempat duduk berseberangan, “Harusnya kamu bahagia Elaine menemukan jodohnya.”

Suasana hening dan canggung. Laki-laki bertubuh atletis itu berulang mengubah posisi duduknya, mengisap rokok dalam-dalam hingga asapnya membentuk kepulan kecil.

“Aku terlalu kaget. Awalnya kupikir aku datang untuk mengajaknya pulang, tapi malah harus mengikhlaskan untuk dimiliki orang lain.”

“Apa kamu tahu Elaine datang ke sini dalam keadaan patah hati?”

Pierre menatapku, kemudian menggeleng dengan kening terlipat, “Aku tidak tahu.”

“Ayah macam apa yang tidak tahu jika putrinya sedang terluka,” tukasku.

Pierre mematikan rokoknya, kemudian menyandarkan punggungnya, diembuskannya napas kuat-kuat. Aku menatap kedua iris kebiruan yang menatap kosong ke arah bawah.

“Setiap manusia akan menjalani takdirnya masing-masing. Mungkin ini saatnya Elaine menentukan jalan hidupnya. Bertemu seseorang yang bisa mengobati lukanya. Ikhlas dan terus mendukungnya untuk kebaikan, cuma itu yang bisa kita lakukan sebagai orang tua.”

Pierre bergeming, matanya menatap redup, sejenak kemudian dia berdiri dan menjatuhkan badannya di sebelahku. Pelahan kuelus punggung tangannya, tanpa maksud apapun, sekadar menguatkan titik rapuhnya.

“Kamu benar, tapi aku belum siap. Kejadiannya terlalu tiba-tiba,” keluhnya.

“Tidak ada yang benar-benar siap ketika Allah memilih hamba-Nya untuk menjalani peran berikutnya. Mau tidak mau, kita harus tetap berjalan, karena peran berikutnya pastilah lebih baik dari sangka kita,” tuturku menguatkan.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyanya, kali ini matanya menyirat harap.

“Ketika merasa kehilangan, ikhlas dan sabar. Belajarlah untuk mencintailah diri sendiri dengan tidak tenggelam dalam kesedihan panjang.  Kamu akan menemukan berapa indahnya rencana Allah.”

“Bukankah mencintai diri sendiri itu egois?” tukasnya.

“Mencintai diri sendiri itu bukan egois. Sederhananya kita tidak bisa memberi manfaat kepada manusia lainnya kalau kita sendiri merasa tidak berharga. Ibarat handphone yang habis baterainya jadi tidak berguna, tidak bisa dipakai menelepon, dan berkirim pesan.”

“Aku tidak mengerti,” ucapnya sambil menyalakan rokoknya kembali.

“Kamu selama ini mencurahkan seluruh hidupmu untuk Elaine tanpa Kamu menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar milikmu. Sampai Allah mengambilnya dengan cara-Nya. Atau kamu terlalu sibuk bekerja dan terbiasa hidup mengutamakan orang lain, hingga menomor sekiankan diri sendiri, atau bahkan menempatkan di urutan paling belakang.”

“Apa itu salah?” kilahnya.

“TIdak sepenuhnya salah, tapi lambat laun akan membuat Kamu kehilangan jati diri tanpa disadari. Lupa bagaimana cara mencintai diri sendiri. Hingga akhirnya ketika Kamu mengalami hal-hal buruk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiran, hanya fokus meratapi kehilangan dan menyalahkan keadaan. Padahal itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Saat itulah, kita mencari keberadaan diri sendiri yang selama ini kita abaikan.”

Pierre mengembuskan napas panjang berulang, seolah mencerna setiap kalimat yang kuucapkan. Namun, kini sudah terlihat lebih tenang.

“Pada saat kita merasa kehilangan, justru pada saat itulah kita akan menemukan Allah. Tidak, bukan menemukan, karena Allah tidak pernah hilang. Dia selalu ada. Hakikatnya adalah Allah yang menemukan kita, karena seringkali  kita tersesat dan hilang arah, tak tahu ke mana jalan untuk pulang ketika kita tidak bisa menerima kehilangan.”

Pierre mengangguk, mulai bisa menerima, “Maafkan aku, harusnya aku tidak cengeng seperti ini. Bukankah setiap peristiwa ada kebaikannya?”

“Yup. Kembali kepada pemilik hati adalah usaha pertama mencintai diri sendiri. Mungkin kita patah hati ketika orang yang kita cintai pergi, tapi itu adalah kebaikan yang melatih diri kita untuk menjadi orang yang dicintai-Nya. Apalagi Allah sebagai Rabb pencipta seluruh manusia, Dia tidak suka kita menzolimi diri sendiri, merusak badan kita sendiri.  Saat lebih sehat, kita akan lebih kuat menghadapi masalah, lebih jernih berpikir, dan mampu mengendalikan emosi. Menerima dan melepaskan segala yang ditakdirkan dengan lebih lapang dada, lebih rida. Hingga semua lubang di dalam hati terisi oleh cinta-Nya.”

“Mercy, belle. Kamu selalu menjadi penguat dalam segala hal,” ujar Pierre, ada senyum tipis terbit di wajahnya.

“Latih hati untuk melakukan segala kebaikan hanya untuk dilihat Allah, termasuk ikhlas dan ridha adalah bentuk dari mencintai diri sendiri. Hingga suatu hari nanti ketika Kamu bangun pagi, Kamu mendapati betapa Allah telah menjadikan hatimu lebih ringan dengan … begitu saja.”

Pierre tersenyum, lebih lebar. Binar matanya pelahan kembali, aku ikut merasakan apa yang dia rasakan. Elaine juga putriku, aku mengikuti setiap perkembangan pertumbuhannya sejak kecil, meski tidak berada di sampingnya.

“Aku mencintaimu ….” Pierre meraih tanganku mendekapnya erat di dada. Aku bergeming, sudah terlalu sering mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.

“Aku tahu, Kamu masih tidak bisa menerimaku.” Kalimat Pierre seperti menghantam tepat ke jantung. Nyeri dan menyesak.

“Maafkan aku,” ujarku lirih. Pierre makin erat menggenggam tanganku.

“Cinta adalah soal hati, tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mau menyakiti dengan pura-pura mencintai sementara hatiku tidak ada padamu,” elakku.

“Apakah aku tidak punya kesempatan? Kamu menyayangi Elaine seperti putrimu, tapi kenapa tidak ada celah untuk ayahnya?”

“Kamu terlalu sempurna untukku. Kalian … Kamu dan juga Elaine adalah cinta yang kujaga kemurnian dan kesuciannya hingga Allah takdirkan jalan yang lebih baik. Entah kapan ….”

“Bagaimana dengan Monsieur Bhaskoro? Kamu masih mengharapkan dia?”

Aku menarik tanganku dari genggamannya, mengembuskan napas panjang. Selalu ada yang menghimpit ketika membicarakan nama itu.

“Kamu masih mencintainya?” Pierre mengulang pertanyaannya.

“Entah,” jawabku, menghindari tatapan matanya yang terus menelisik, seolah mencari kebenaran kalimatku.

“Aku mencintainya, meski tahu itu tidak mungkin terjadi. Banyak yang mengatakan aku tidak waras … tapi bagiku ketidakwarasan itu yang membuatku tetap waras.”

“Aku tidak mengerti.”

“Sama halnya ketika kita jatuh cinta tapi tidak menemukan alasan mengapa kita jatuh cinta pada seseorang. Ketika kita menyadari sudah kehilangan akal sehat karena mencintai seseorang, pada saat itulah akal sehat akan menemukan alasannya kenapa kita mencintainya.”

Pierre menunduk, seperti mencerna kalimatku. Sesekali diisapnya rokok yang terselip di antara telunjuk dan jari tengah.

“Jujur aku iri pada Monsieur Bhaskoro, dia  membuatmu tak bisa jatuh cinta pada laki-laki lain meski kalian tidak bisa bersama.”

Aku tertawa getir, entah kenapa sedalam itu rasaku pada Bhaskoro. Aku bisa menasihati orang lain tentang ikhlas dan menerima kekalahan, nyatanya … aku bahkan masih berharap pada sesuatu yang mustahil. Tapi bukankah kemustahilan itu adalah awal dari keniscayaan?

“Aku besok pulang, Seperti katamu, tugasku selesai. Kamu juga tidak perlu mengantarku. Tapi sebelum aku pulang, maukah Kamu memberiku kesempatan sekali lagi untuk mencoba membuktikan cintaku, Belle?” tanya Pierre penuh harap.

“Kesempatan itu selalu ada, hanya kita tidak pernah tahu kapan.”

“Tapi aku boleh tetap mencintaimu seperti Kamu yang tetap mencintai Monsieur Bhaskoro?”

“Mencintai itu adalah hal yang paling manusiawi, setiap orang berhak mencintai siapapun, bahkan kita juga tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, bukan? Karena cinta itu Allah sendiri  yang letakan di hati siapa yang dikehendaki-Nya.”

“Kamu benar.”

“Kamu dan Bhaskoro adalah dua orang yang punya tempat istimewa di hatiku, hanya berbeda bentuk. Bagiku Kamu adalah inspirasi yang terus mengalirkan ide, sedangkan Bhaskoro adalah cerita yang tak pernah usai meski halaman terakhirnya sudah lama kututup.”

“Artinya … sama-sama tidak pernah usai?” Pierre menatapku lekat. Aku menghela napas panjang, pelahan mengangguk. Kalian berdua adalah kisah yang tak pernah usai, sampai kapan? Entah, mungkin sampai Sang Pemilik Skenario menghentikan salah satu dari pemeran utamanya.

Sampai Jumpa pada Eksplorasi berikutnya!

The Hidden Site of Tuin van Java

7. Masjid Al Mahdi Saksi Janji Cinta

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image