“Ka, Ika!” suara keras bapak menyadarkan Ika yang masih menyelesaikan pekerjaannya di halaman belakang. Gadis manis itu sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan laki-laki. Dia segera berlari keluar.
“Iya, Pak,” jawabnya dengan keras pula. Dia melihat bapaknya sedang memasukkan hasil panennya ke dalam keranjang-keranjang yang akan segera dikirim ke Bandungan, di daerah Semarang.
“Rene sik, nyong dewangi madahi kobis-kobis kiye.”¹
Pria itu berjibaku dengan barang-barang dagangannya yang menggunung.
“Nggih, Pak.” Ika dengan sigap membantu bapaknya memasukkan sayur-sayur itu ke dalam keranjang. Ada kentang, kubis, brokoli, tomat, wortel, serta cabe. Tahun ini hasil panen sedang bagus, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Keluarga Ika adalah pekerja keras. Bisa dikatakan mereka adalah petani produktif dan juga inspiratif di kampungnya.
Seperti halnya petani di Kota Tembakau, mereka akan melakukan sistem tumpang sari di lahan mereka yang tidak ditanami tembakau. Hal itu sudah terbiasa mereka lakukan sebagai efisiensi lahan dan lainnya.
Dari tanjakan jalan yang tidak seberapa jauh dari tempat Ika dan bapaknya berada, dua orang pemuda berjalan menuju rumah Pak Muji, panggilan ayah Ika. Mereka berjalan cepat-cepat. Tanpa disadari, kehadiran mereka mengagetkan Ika yang asyik memasukkan kentang ke dalam kandhi ².
“Rajinnya….”
“Eh, Kang Mono! Ngagetin aja, Kang! Kirain nggak akan dateng.”Ika menonjok pelan lengan Mono, panggilan akrab untuk Lesmono. Dia terkekeh.
“Ah! Yo ndak to, Ka. Mosok aku nggak dateng. Aku kemarin kan sudah disuruh Lik Muji. Nggih to, Lik?” ³
Lesmono mendekati Pak Muji yang hanya mengangguk tanpa menoleh. “Ajeng beto kapan niki, Lik?”⁴ tanyanya.
“Ya kalau selesai sampai sore ini mungkin nanti malam kita antar ke Bandungan,” jawabnya.
Lesmono memanggil pemuda satunya. “Sus, sini bantuin Lik Muji. Aku mau sama Ika.” Pemuda yang dipanggil Sus mendekat. Badannya ceking, dia memakai topi yang biasa dimiringkan.
Suswanto alias Sus merupakan pemuda dari desa sebelah yang baru saja pulang merantau dari luar negeri. Namun, pemuda itu tidak gengsi melakukan pekerjaan apapun. Termasuk menyabit rumput untuk ternak-ternak milik keluarganya.
Di kampung itu dia mendapat julukan Si Topi Miring. Sifatnya lucu dan mudah beradaptasi. Itulah mengapa, Lesmono suka mengajaknya.
Sus menyenggol lengan Lesmono. Dia berbisik, “ Mbak Ika cantik, yo?” Dia cekikikan. Diam-diam memperhatikan Ika yang begitu cekatan. Baru kali ini dia melihat ada gadis desa yang tidak gengsi bekerja kasar. Tidak seperti gadis-gadis yang ditemuinya selama ini.
“Iyalah. Dia perempuan. Dah ayo kita bantu Lik Muji. Nanti kalo sore ini selesai aku mau ngajakin kamu ke Bandungan nganter sayur.”
“Siap bos!” Sus memberi hormat. Membuat Ika dan Pak Muji geli melihatnya.
“Nduk, nanti tolong buatin kopi tiga, ya?” kata Pak Muji kepada Ika.
Ika mengangguk. “Nggih, Pak.” Setelah mengeratkan tali pada karung-karung yang berisi hasil panen itu. Ika segera beranjak ke dapur, membuatkan kopi untuk mereka bertiga. Tidak lupa, dia menyiapkan beberapa kudapan ringan yang dibeli emaknya di pasar. Tiga kopi sudah siap. Diletakkannya di amben⁵ yang biasa dipakai istirahat bapak dan emaknya sehabis dari sawah.
“Istirahat dulu, yuk!” ajak Pak Muji pada keduanya.
“Lha barusan kerja kok udah disuruh minum to, Lik?”
“Ya ndak papa. Rezeki jangan ditolak.”
“Ya, Lik.”
Lesmono dan Sus segera menuju balai-balai di mana Pak Muji sudah di sana terlebih dahulu.
“Mari, mari, diminum dulu, Mas Sus, Mas Mono,” Pak Muji, ayah Ika mempersilakan mereka menikmati kudapan ala kadarnya itu.
Cuaca cerah meski sebenarnya ada awan menggantung di langit. Namun, kegagalan sang surya telah membuat awan itu mengurai warnanya dan kian menipis.
“Lik Muji nih aktif sekali ya dari dulu, nggak pernah lelah meski banyak pekerjaan,” puji Lesmono sambil mengambil gelas kopinya. Aroma kopi khas begitu menyengat hidungnya. Sedap sekali. Lalu diseruputnya kopi itu. Rasa gula aren yang melekat sebagai pemanasan terasa beda di tenggorokan Lesmono. Belum pernah ia minum kopi senikmat ini.
“Ah, Mas Mono ini bisa aja. Saya kan emang kerjanya petani, Mas. Ya harus begitu tuntutannya.”
“Tapi beda lho Lik sama yang lain.”
“Bedanya di mana?”
“Ya cuman saya aja yang tahu.”
Ada sesuatu tersembunyi di sana.
Keterangan:
¹ Rene sik, nyong dewangi madahi kobis-kobis kiye.: Sini dulu, bantuin masukin kubis-kubis ini.
² kandhi : karung. Di beberapa kecamatan di Temanggung ada yang menyebutnya bagor.
³ Nggih to, Lik?: Iya, kan, Paman?
⁴ Ajeng beto kapan niki, Lik?: Mau dibawa kapan ini, Paman?
⁵ amben: balai-balai dari kayu.









