Beranda / Topik / Renungan Kehidupan: Krisis Empati di Negeri Surgawi, Masih Adakah Rasa Peduli?

Renungan Kehidupan: Krisis Empati di Negeri Surgawi, Masih Adakah Rasa Peduli?

Renungan Kehidupan 20251105 (LinkedIn)
3

Negeri ‘surgawi’ bak negeri impian tujuan semua orang, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Bukan hanya subur makmur tanahnya dan indah alamnya, bersahabat iklimnya, penduduknya juga dikenal tertib, tentram, sejahtera, serta berkecukupan segala sesuatunya, juga penuh cinta dan toleransi. Ironisnya, terwujudnya negeri surgawi yang sering dinyanyikan hingga dijadikan inspirasi selaksa fiksi itu semakin jauh panggang dari api, ibarat mimpi indah yang berangsur-angsur buruk. Kok bisa?

Setiap hari kita dihadapkan pada berita-berita baru tapi lama di media massa dan media sosial. Semakin banyak terjadi kasus perundungan, pengeroyokan/main hakim sendiri yang berakibat fatal, mulai terluka hingga hilangnya nyawa. Mulai dari buli antar siswa sekolah dasar hingga SMU-mahasiswa hingga kasus kriminal yang diawali dari kemarahan-pertengkaran. Kebanyakan ‘hanya’ dipicu masalah remeh/receh yang seharusnya tak perlu terjadi. Kok bisa?

Rasa empati-tenggang rasa-kepedulian, kasih sayang, semakin hari semakin dingin bahkan nyaris padam. Dimana akar masalahnya?Bukan hanya tugas orang tua, guru, hingga atasan. Kita semua hendaknya merenungkan hal-hal di bawah ini.

  1. Bukan hanya kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional juga perlu dipupuk sejak dini. Antara lain rasa empati, kepedulian, toleransi hingga pengendalian diri. Dunia zaman now semakin individualistis, persaingan hidup hingga pencapaian semakin ketat. Status hingga komentar di media sosial mudah memicu perdebatan hingga kemarahan.

    Semua akibat dimulai dari sebab, namun akibat tak perlu jadi buruk meskipun disebabkan hal-hal buruk. Sebagai contoh, jika kita menerima perlakuan/perkataan kurang menyenangkan, kita dihadapkan pada dua pilihan, membalas atau meredamnya (mengalah, dll.). Jika kita membalas, kita memicu lingkaran setan yang tiada habis-habisnya. Mengalah bukan berarti kalah/pasrah. Apabila perlu, carilah bantuan/pertolongan, jangan khawatir dianggap pengecut/penakut.
  2. Bukan hanya senang membaca berita/melihat sendiri atau mendengar gosip tetangga, bertindaklah sigap saat terjadi perundungan atau perselisihan di sekitar. Bukan lantas menjadi hakim atau menambah masalah dengan pendapat/jalan keluar sendiri, melainkan jadilah pembawa damai. Siapapun Anda (guru, atasan, rekan siswa atau mahasiswa) tentu bisa melakukannya. Pisahkan pihak-pihak yang bertikai, laporkan kepada yang berwenang (misalnya kepala sekolah atau sekuriti), redakan sebelum terjadi tindakan yang lebih parah.
  3. Ingin melerai/mengatasi? Bersikaplah netral (tidak memihak), bukan karena takut atau tidak punya pendirian, melainkan agar terwujud keadilan. Jika hanya membela salah satu pihak, dikhawatirkan keadaan semakin panas.
  4. Beberapa hal yang menyebabkan orang tidak memiliki/mudah kehilangan empati: tidak saling mengenal/masih merasa asing, perbedaan latar belakang keluarga hingga prinsip hidup, gender, dan lain-lain. Cara mengatasinya bukan hanya ikut pendapat terbanyak, karena bisa saja pendapat terbanyak juga belum tentu benar. Dengan berusaha melihat dari sudut pandang orang lain, belajar dari pengalaman mereka, diharapkan perbedaan tidak lagi menjadi pembatas yang merintangi, melainkan kekayaan warna/keberagaman yang turut ‘memperindah’ dan menyemarakkan dunia. Mengingatkan satu sama lain bahwa kita punya kelemahan dan kekuatan, punya kekurangan dan kelebihan yang harus saling melengkapi.

Kesimpulan: Siapapun kita, di mana saja berada, tentu ingin hidup tenang dan damai. Akan tetapi ada kalanya terjadi riak-riak kecil yang disebabkan perbedaan pendapat hingga prioritas pemenuhan kepentingan. Sebelum riak-riak kecil itu berubah jadi ombak besar menakutkan hingga gelombang tsunami yang menghancurkan, hendaklah kita berjaga-jaga baik bagi diri sendiri maupun untuk sesama.

“Pupuklah empati, tanpa empati manusia ibarat makhluk tak berakal budi.”

Berikut ini sebuah puisi untuk menutup renungan ini.

Game (Permainan)

Banyak orang ingin menang
Tiada nan mengalah, apalagi kalah
Semua mau maju, berlomba tingkatkan diri
Seperti dalam game, sebuah permainan

Namun ingatlah Teman-teman,
Hidup bukanlah sebuah permainan
Dimana jika game over bisa mengulang lagi
Hidup hanya punya satu kesempatan
Jika berlalu, takkan terulang lagi

Game bisa di-top-up dengan uang di tangan
Seberapa banyak masih dapat dibeli
Akan tetapi satu nyawa manusia sangat berarti
Jangan karena ego, ada lagi yang harus mati

Lawan terbesar bukan saingan
Melainkan diri


Semoga bermanfaat. Indahnya berbagi, silakan reshare jika berkenan dan terima kasih.


Tangerang, 4-5 November 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *