Beranda / Topik / Lifestyle / Kehidupan Kristen: Ikut Campur Urusan Orang Lain, Boleh Gak ‘Sih?

Kehidupan Kristen: Ikut Campur Urusan Orang Lain, Boleh Gak ‘Sih?

Kehidupan Kristen 20251111 (shutterstock)
3

Apakah sering merasa urusan kita sendiri dicampuri oleh orang lain? Entah pribadi maupun keluarga, ada saja yang dikepoin seseorang di luar sana, mulai keluarga besar hingga kenalan. Atau jangan-jangan malah kita sendiri yang suka icam urusan keluarga besar hingga sahabat kita? “Soalnya gak tahan ‘sih!” atau, “Gak bisa didiemin, atuh!”

Pertanyaannya, apakah kita sebagai orang percaya boleh ikut campur masalah orang lain? Jika ya, seberapa jauh?

  1. Masalah/pergumulan setiap orang berbeda-beda. Cara atau solusi juga berbeda-beda. Sudut pandang mereka yang mengalami dengan yang hanya mengetahui dari pembicaraan orang lain juga berbeda.
  2. Apakah ikut campurnya kita akan menyelesaikan sebuah masalah? Seringkali kita beranggapan pendapat hingga solusi kita jauh lebih baik sehingga lebih pantas dijalankan. “Gue ‘kan lebih tua, lebih pengalaman, lebih ini dan itu!” Belum tentu. Ikut campurnya kita barangkali malah lebih memperkeruh suasana. Ibarat tim koki di sebuah dapur sedang memasak sepanci besar sup bersama-sama. Yang satu merasa kurang asin lalu menambahkan garam. Yang lain merasa kurang manis, menambahkan gula. Apabila semua hanya menambahkan bumbu semaunya tanpa mempertimbangkan yang lain hingga rasa yang diharapkan, yang didapatkan hanyalah sup yang terlalu asin atau terlalu manis. Ikut campur atau turun tangan membantu tak apa-apa jika diminta dan dipertimbangkan, jangan asal interupsi atau intervensi.
  3. Izinkan Tuhan saja yang pertama-tama ikut campur alias turun tangan pada masalah kita maupun orang lain. Bukankah Dia maha mengetahui segalanya hingga maha mampu mengatasi semua pergumulan kita? Ibarat segulung benang warna-warni yang sangat kusut, kita tidak mampu mengurai-Nya. Dia mampu.
  4. Terlalu banyak ikut campur tidak ada manfaatnya bagi si pelaku, malah hanya akan membuat pusing/sakit kepala karena terlalu banyak berpikir. Benar kata pepatah bule, two heads are better than one. Tapi ingat juga pada petuah poin kedua, pepatah berbunyi too many cooks ruined/spoiled the soup yang artinya kurang lebih: terlalu banyak koki membuat sup ‘basi’ atau rasanya jadi hancur-hancuran.

    Beberapa kita barangkali senang sekali mengatur orang lain hingga hal sekecil-kecilnya, istilah Inggrisnya: small/trivial things. Mungkin karena geregetan, kesal, sebal hingga kurang bisa menerima apa yang tidak sesuai pandangan sendiri. Kita sering mencoba memperbaiki dunia, akan tetapi lupa memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Apabila kita sudah selesai dengan masalah kita, membantu orang lain barangkali akan lebih ‘mudah’. Seperti dalam sebuah parabel: Jika ingin menolong orang tenggelam, bisakah langsung menolong? Tentu harus bisa berenang terlebih dahulu. Langsung nyebur namun tidak bisa berenang? Malah si penolong yang harus ditolong orang lain.

    Don’t sweat on small things.” Daripada sibuk membenahi orang lain, fokuslah pada diri sendiri terlebih dahulu.
  5. Beberapa orang masih perlu dinasihati, misalnya anak-anak atau siswa-siswi. Sudah tugas orang tua hingga guru menasihati. Menasihati termasuk ‘ikut campur yang baik’. Akan tetapi apabila seseorang sudah dewasa, penulis berpendapat jika ia tidak perlu terlalu dinasihati lagi. Apabila ada perilakunya yang kurang kita setujui, kesalahan yang ia lakukan, cukuplah sekali saja dinasihati. Selebihnya serahkan kepada Tuhan, bawalah di dalam Doa. Hanya Tuhan yang bisa mengubahkan hati manusia.

Kesimpulan: Kita seringkali merasa perlu ikut campur entah karena geregetan atau tidak sreg pada seseorang yang melakukan hal negatif menurut pandangan kita. Hal itu tidak selalu buruk, maksud kita baik. Akan tetapi jangan sampai niat baik itu malah spoils the soup. Serahkan saja hal-hal di luar kendali kita kepada Tuhan. Bawa dalam doa dan andalkan Tuhan saja sebab rencana-Nya terbaik bagi hidup manusia.

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 10 November 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *