Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Tiga M yang Kerap Jadi Momok Pikiran, Apa Saja dan Bagaimana Mengatasinya?

Kehidupan Kristen: Tiga M yang Kerap Jadi Momok Pikiran, Apa Saja dan Bagaimana Mengatasinya?

Kehidupan Kristen 20251113 (squarespace)
3

“Selama kita masih punya otak, ya gak bisa berenti mikir!”

Sebagai makhluk berakal budi yang mampu berpikir, setiap saat tentu ada yang kita pikirkan. Bahkan saat tidur, kita kadang-kadang bermimpi, bangun-bangun bisa lupa atau ingat. Kepikiran segala macam mulai dari mau masak apa hari ini, apa harus dikerjakan, sudah ini atau belum, pokoknya ada aja pikiran. Syukur-syukur jika terlintas pikiran yang baik-baik, berkat yang sudah kita terima dan nikmati, bisa berkarya apa hari ini, bersemangat mencari ide-ide cemerlang dan kreatif. Akan tetapi perlu diakui, otak manusia jauh lebih dominan pikiran-pikiran negatif. Misalnya tiga hal di bawah ini.

  1. Masalah. Hidup tak pernah lepas dari masalah/pergumulan. Bahkan ketika kita merasa hidup sedang tidak bermasalah, kita kerap memandang masalah yang ada pada orang lain, lalu mencoba ‘memperbaiki’ mereka.
  2. Masa lalu. Setiap orang punya masa lalu. Masa lalu yang indah kerap diagung-agungkan dan diceritakan kembali. “Dulu ‘mah enak, harga-harga murah, udara segar, jalanan gak macet, ke mana-mana gampang!” misalnya. Akan tetapi masa lalu yang buruk kerap disalahkan, “Gara-gara dulu miskin, jadi gak bisa sekolah deh!” atau, “Kalo aja dulu gak gini-gitu!” Masa lalu adalah momok pikiran dari masa yang sudah berlalu sekaligus tiada pernah habis-habisnya hingga saat ini.
  3. Maut/kematian. Setiap yang hidup pasti akan mati. Pertanyaan besarnya, kapan? Bayangkanlah seorang pasien yang menunggu ajal karena sakitnya tak bisa terobati. Akan tetapi vonis dokter ‘tertunda’ dan ia masih diberi kesempatan hingga hari ini. Sebaliknya, bayangkan juga seorang pengusaha muda sehat dan kaya raya tiba-tiba meninggal dunia. Hidup jadi terasa tidak adil, bukan? Belum lagi jika memikirkan kapan giliran kita pulang ke Rumah Bapa, bagaimana cara kita mati. Kematian lalu menjadi momok pikiran paling menakutkan, misterius, bahkan ‘mematikan’ akal sehat jauh sebelum terjadi.

Beberapa hal indah dapat kita renungkan dari ketiga M di atas:

  1. Bagaimanapun berusaha hidup damai sejahtera, masalah akan selalu ada. Tuhan mengizinkan ada masalah bukan karena Dia tidak sayang manusia, melainkan karena pertama: Tuhan ingin manusia sadar jika Dialah satu-satunya yang bisa menuntun manusia keluar dari masalah. Bukan berupa solusi instan jentik tangan lalu selesai, melainkan hanya Dia yang tahu keseluruhannya. Kedua, agar manusia berusaha memecahkan masalah, entah sendiri atau bersama-sama. Masalah yang berhasil dipecahkan akan membuat hati-pikiran terasa lega sekaligus menghasilkan hikmah/pengetahuan berharga. Saat terjadi kembali, pengalaman terdahulu bisa dijadikan pedoman/petunjuk. Tentu saja di atas segalanya, andalkan Tuhan saat berusaha mengatasi masalah kita.
  2. Masa lalu tak selalu indah; mungkin gelap, mendukakan/melukai. Akan tetapi ada satu kesamaan; semua itu sudah berhasil dilalui. Berbelas tahun hingga berpuluh sekalipun, tak bisa diubah lagi. Yang kita miliki hanya masa kini, sedangkan masa depan kita belum tahu. Jangan biarkan masa lalu menguasai pikiran kita karena: Pertama, Tuhan mengizinkan masa lalu (indah-tak indah) untuk membentuk kita menjadi kita saat ini. Bisa tiba pada titik ini adalah pencapaian luar biasa. Masa lalu ibarat beban di atas pundak, siapkah ditinggalkan atau dibawa terus? Kedua, renungkanlah seandainya masa lalu itu tak terjadi, apakah Anda yakin jika saat ini akan jadi jauh lebih baik? Belum tentu. Masa lalu adalah rencana Tuhan, yakinlah jika masa kini dan masa depan juga ada dalam rencana-Nya.
  3. Maut/kematian belum lagi terjadi, belum lagi saatnya. Agar tidak menjadi momok pikiran, serahkanlah hidup-mati kita kepada Tuhan. Hidup ini adalah kesempatan, sesingkat-selama apapun. Lakukan saja yang terbaik selama masih diberikan-Nya waktu. Jauh lebih penting mengisi waktu tersisa (saat ini) daripada memikirkan sebuah ketidakpastian, apalagi jika ditambah perasaan-perasaan negatif. Memikirkan masa depan keluarga (anak-cucu) boleh saja, namun jangan abaikan rencana besar ‘apa yang akan diwariskan/ditinggalkan’ sebagai jejak kebajikan.

Kesimpulan: Jauh lebih baik memikirkan/mengatakan hal-hal yang baik sebab apa yang kita pikirkan-katakan turut mempengaruhi hidup, meskipun belum terjadi. Berusahalah berpikir, berdoa, berharap hingga berkata-kata sebaik mungkin. 3M masalah akan selalu ada, masa lalu pernah ada dan maut akan ada, akan tetapi tak perlu dijadikan momok hingga membebani-menyiksa pikiran kita.

Jadi, apa yang sebaiknya kita pikirkan?

“Jadi akhirnya, saudara-saudaraku, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8 (TB)

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.


Tangerang, 13 November 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image