Beranda / Genre / Romansa / 19. Irfani Putri

19. Irfani Putri

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
1
This entry is part 20 of 28 in the series Percayalah Padaku Cinta

Adam merasa perutnya mulas. Dia berbalik dan berjalan pelan kembali ke kantor depan. Dia tidak ingin mendengar apa pun lagi. Sudah cukup buruk bahwa dia sudah terlanjur menyukai seorang cewek yang membencinya, jadi dia tidak perlu menambahkan rasa kasihan padanya ke dalam daftar itu.

Mungkin mamanya akan segera kembali dan semuanya akan baik-baik saja. Mungkin saat sekolah dimulai, dia akan memaafkanku dan mungkin kami bisa berteman lagi, pikirnya

Adam menelepon Andre, tetapi Andre sudah berjanji untuk menonton film anak-anak bodoh dengan adiknya nanti malam. Andre mengajaknya, tetapi Adam menolak. Biarpun dia suka popcorn yang dijual di bioskop, tetapi menonton film anak-anak akan lebih seperti siksaan.

Aku tak terlalu butuh teman. Mungkin aku main Xbox aja, putusnya.

Adam menaiki dua anak tangga ke teras belakang dan batuk kecil mengejutkannya. dia mendongak dan melihat Irfany Putri duduk di salah satu kursi teras. Handuk pantai tersampir di pangkuannya, dan seringai seksi di bibirnya. Irfany berambut lurus panjang dan sedikit gemuk, tetapi di semua tempat yang tepat. Bokong dan payudaranya menakjubkan, dan dia tahu itu dilihat dari bikini yang dikenakannya di bawah tank top jala yang tembus pandang.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Adam, berdiri tepat di depan Irfany.

Cewek itu menatap Adam dan menjulurkan lidahnya. Irfany memang suka menggoda tanpa niat serius. Adam tidak perlu khawatir gadis ini akan mengirimi sejuta pesan emosional keesokan harinya. Irfany santai. Dia menyenangkan. Dan Adam sudah lama tidak bertemu dengannya, sejak Vindy membuatnya takut di sekolah.

“Aku lihat status Facebookmu,” kata Irfany. “Aku pikir sebaiknya aku datang dang ngajak kamu berenang.”

Adam nyengir. “Nggak kirim WA nanya apa aku punya waktu waktu luang?”

Irfany berdiri dan dadanya menempel di dada Adam. Dia melempar handuk ke sandaran kursi teras, memastikan pantatnya menyenggol Adam ketika dia dia berbalik.

“Aku berani bertaruh kamu punya waktu luang. Jadi, gimana?”

Adam mengangkat bahu. Setelah menghabiskan seharian di bawah terik matahari, kolam renang sepertinya ide yang bagus. Dia tidak tahu mengapa dia tidak memikirkannya lebih awal.

Adam melempar bajunya ke teras dan mengeluarkan ponsel serta kunci dari saku. Adam sudah memakai celana pendek.

“Yang terakhir masuk harus pijat bahu yang lain.”

Matanya terbelalak dan kemudian keduanya mulai berlari. Tapi Adam lebih dekat dan lebih cepat. Kakinya yang panjang jauh lebih cepat daripada kaki pendek Irfany. Dia terjun ke kolam dengan kepala lebih dulu, dan menang. Irfany melotot ketika dia  timbul ke permukaan.

“Nggak adil banget! Kamu curang!”

Adam terkesiap seolah-olah tersinggung berat.

“Nggak. Aku nggak mungkin pura-pura kalah karena kaki kecil kamu nggak bisa lari cepat.”

“Hei, aku seumuran denganmu,” kata Irfany, berenang ke arah Adam. Rambutnya terlihat cokelat karena basah. Tiba-tiba Adam terbayang rambut Cinta yang basah, terurai menutupi wajahnya ketika berbaring di tempat tidur. Dia harus mengedipkannya dan berkata pada dirinya sendiri untuk fokus pada cewek di depannya. Cewek yang benar-benar menginginkannya.

Kamu menginginkan hubungan tanpa status, kan, Adam?

“Jadi, apa kabarmu?” tanya Irfany. Mereka berada di tempat air sedalam sekitar satu meter delapan puluh sehingga kaki Adam menginjak dasar kolam renang, tapi kaki Irfany jelas tidak.

Adam menggelengkan kepala. “Biasa. Kamu berutang pijatan bahu.”

Irfany memutar bola matanya dan kemudian meraih lengan Adam, menggunakan tubuh cowok itu sebagai jangkar untuk menarik dirinya. Dia melingkarkan kakinya di pinggang Adam dan kemudian meraih bahu dan mulai mengusapnya.

Adam memejamkan mata.

“Astaga, kamu hebat dalam pijat memijat.”

“Nikmati saja karena aku tidak akan melakukan ini selamanya,” bentaknya, sambil menempelkan ibu jarinya ke bahu Adam. “Jadi, seperti yang kutanyakan tadi, apa kabar?”

“Tidak ada kabar sama sekali. Aku bekerja di lintasan sekarang, jadi hidupku hanya motocross dan kemudian lebih banyak motocross.”

“Bukankah itu selalu menjadi hidupmu?” kata Iefanya.

“Ya, tapi sebelum punya pekerjaan, setidaknya aku punya waktu luang. Sekarang waktunya kerja, kerja, kerja, naik motor, kerja, naik motor, lalu kerja lagi.”

Irfany terkikik sambil mengusap bahu Adam yang tegang. “Aku yakin Vindy membencinya.”

Adam mengerang tanpa sadar. Irfany berhenti dan mencondongkan tubuhnya ke bahu Adam untuk menatapnya.

“O oh, lagi ada masalah?”

“Oke, jangan buat aku menendangmu keluar dari kolam ini,” kata Adam, memberinya tatapan tajam terkejamnya. “Vindy dan aku tidak ada apa-apanya.”

“Ya, ya. Kalau dia bisa, kamu pasti bisa. Aku bangga padamu karena bertahan.”

“Mungkin kamu satu-satunya,” kata Adam, meraih tangan Irfany dan menariknya agar mereka bisa bertatap muka lagi. Pijatannya terasa nikmat, tapi Adam merasa tidak enak memperlakukannya seperti itu.

“Aku tidak begitu menyukai Vindy,” kata Irfany. Sudut bibirnya melengkung. “Dia seperti…”

“Cewek jalang?” usul Adam dan mereka berdua tertawa.

“Sebenarnya, aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu,” kata Irfanysambil mendorong dan mencondongkan kepalanya ke belakang sehingga dia mengapung di atas punggung.

“Ada apa?”

Sebelum Irfany bisa mengatakan apa pun, Kinan berjalan mendekat.

Sial, aku bahkan tidak mendengar kedatangannya. Untung saja kami tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Catatan untuk diri sendiri: Awasi orang tuanya. Mereka bisa datang tanpa suara seperti ninja.

“Hai,” kata Kinan, melambaikan tangan kecil saat dia melewati mereka dalam perjalanan ke pintu belakang. “Kamu pulang untuk makan malam, kan?”

“Ya,” kataku dan Ibu mengangguk. “Irfany, kamu juga boleh tinggal.”

Kinan menyelinap masuk dan Irfany menatap Adam. Kalau mereka tidak berada di kolam renang, tangannya mungkin akan berada di pinggulnya.

“Aku rasa mamamu tidak menyukaiku.”

“Mamaku menyukai semua orang.”

Alis Irfany mengerut. “Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku.”

“Itu karena namamu terdengar seperti nama papaku, Irfan. Dia bilang itu membuatnya merinding.”

Irfany tersenyum, tampak seolah semuanya masuk akal sekarang.

“Jadi bukan karena aku bermesraan dengan putranya?”

“Tidak, dia tidak peduli tentang itu.”

“Jadi, apa yang kamu katakan?”

Senyum Irfani memudar.

“Yah … Aku tidak tahu. Mungkin itu bodoh.”

“Oke, sekarang kamu harus memberitahuku.”

Adam mengangkat kakinya dari dasar kolam dan mencelupkan diri ke dalam air, menengadahkan kepala ke belakang agar rambutnya rata saat muncul kembali.

“Apa yang terjadi?”

“Baiklah, baiklah. Bagaimana aku harus mulai?” Irfany menggigit bibir bawahnya dan berenang menyeberangi kolam, mungkin mengulur waktu. “Jadi, ada cowok.”

Adam mengangkat alis.

“Kamu naksir cowok?”

Irfani mengangguk dan pipinya memerah.

“Aku tahu aku menghabiskan seluruh hidupku dengan mengatakan bahwa aku tidak akan pernah menjalin hubungan yang nyata karena hubungan seperti itu tidak berhasil bagi orang tuaku, tapi … aku tidak tahu. Aku agak menyukainya.”

“Apakah aku mengenalnya?” tanya Adam. “Dan apakah kamu meminta izinku untuk berkencan dengannya, atau semacamnya? Maksudku, kamu dan aku nggak ada ikatan apa-apa. Jadi, mengapa aku harus peduli?”

“Kita bahkan tidak seperti itu lagi,” katanya, melemparkan tangannya ke dalam air. “Vindy memastikan untuk menghentikannya.”

Apakah itu sebabnya nggak banyak cewek yang meneleponku?

Percayalah Padaku Cinta

8. Gaji Pertama Adam 0. Cokelat Tabur

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *