Tatiana duduk di samping ratu di halaman terbuka, menyaksikan pertunjukan tari para wanita dalam kompetisi tersebut.
Saat itu pukul tujuh malam lewat beberapa menit, tetapi area itu terang benderang karena listrik. Para pengawal hadir, begitu pula tokoh-tokoh penting kerajaan dari kota, untuk memeriahkan acara tersebut.
“Saya seharusnya ada di antara mereka,” bisik Tatiana kepada ratu. Dia kini tampak segar dan mengenakan pakaian baru pemberian ratu.
“Ya, tapi sekarang, awak punya tugas yang lebih berat dan semakin cepat awak menyelesaikannya, semakin besar peluang awak untuk menikahi putraku.” jawab ratu. “Kapan tepatnya awak berencana untuk pergi dan mencari putra awak?”
“Saya akan pergi besok pagi, Yang Mulia. Saya jamin pangeran kita akan diselamatkan tanpa kurang suatu apa.”
“Dan awak tahu di mana dia?” tanya ratu.
“Ya, saya tahu, Yang Mulia seharusnya tidak takut,” Tatiana berbohong.
“Jadi, awak tak keberatan kalau saya pergi cakap dengan teman awak yang juga dikurung dengan pria lain?”
“Yang Mulia tidak perlu melakukannya. Kita tidak membutuhkannya.”
Ratu menatapnya dengan curiga, “Dan awak ingin saya mempercayai awak, kan?”
“Ya, Yang Mulia, saya akan mendapatkan pangeran kembali, saya janji. Tapi, apakah Yang Mulia yakin dua orang yang dikurung itu tidak bisa melarikan diri?”
“Melarikan diri? Tidak, saya ragu,” jawab ratu Fairuz sebelum kembali fokus pada wanita yang sedang menari.
**
Di sepanjang lorong dekat ruang bawah tanah tempat para tahanan ditahan. Ada dua penjaga yang berdiri waspada.
“Awak tahu, beberapa menit lagi, saya harus pergi dan menonton Puti Cantika yang akan segera menari,” salah satu pengawal berkata kepada yang lain.
“Tak bolehlah, awak baru saja pergi beberapa menit yang lalu, giliran saya selanjutnya. Saya sangat berharap pangeran menikahi putri itu. Dia sangat hebat dalam segala perkara,” yang lain menjawab, sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“Apa, awak masih bawa ponsel itu?”
Dia mengangkat bahu, “Ini punya Samsir, Ratu bilang untuk menyimpannya bersama saya dan…”
“Tolong, tolong, seseorang tolong!”
Kedua pria itu bertukar pandang ketika mereka mendengar suara seorang wanita datang dari suatu tempat.
“Awak dengarkah?” tanya salah satu dari mereka, memperhatikan.
“Saya rasa itu berasal dari sel, pergi periksa sementara saya berjaga.”
Yang lain bergegas masuk lebih jauh ke lorong, mengeluarkan seikat kunci dari sakunya.
Saat dia semakin dekat, suara itu semakin keras, dia kemudian menyadari bahwa itu adalah wanita yang dikurung pagi itu.
“Ada apa?” teriaknya, melihat wanita itu panik dan gelisah.
“Kurasa, kurasa dia kejang, dia mulai kejang…” Wanita itu berteriak, menunjuk ke area gelap sel, penjaga itu tidak bisa melihat apa-apa sehingga dia membuka pintu berjeruji sambil membiarkan kunci masih terpasang di gembok, dia bergegas masuk.
“Apa yang terjadi?” Dia bertanya sambil bergegas masuk. Tapi sebelum sempat mendapat jawaban, dia merasakan sesuatu yang berat menghantam kepalanya dan dia kehilangan kesadaran, jatuh ke lantai.
“Ya Tuhan! Apa dia mati?” Zhoya tersentak sementara Sam keluar dari persembunyiannya.
“Tidak, tidak sama sekali, aku hanya membuatnya pingsan, dia akan bangun sebentar lagi. cepat, ambil kuncinya, kita akan membutuhkannya.” Lalu dia membungkuk dan membalikkan tubuh si penjaga. Dia memasukkan tangan ke dalam saku dan mengeluarkan ponselnya.
“Apa kau sudah dapat kuncinya?” tanyanya.
“Ya,” kata Zhoya sambil mengangguk.
“Bagus. Aku dan Jun punya tempat persembunyian di mana kami selalu menyelinap masuk dan keluar. Ikut aku sebelum penjaga lain datang.”
***
Tatiana terus bergeser tak terkendali di kursinya, pikirannya tidak tenang. Dia sudah berbohong kepada ratu yang tidak tahu bahwa dia sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Rencananya adalah … sial … Dia bahkan tidak punya rencana apa pun. Satu hal yang pasti adalah, dengan satu atau lain cara, Zhoya akan membawanya ke mana pun Cinde berada dan begitu ddia menemukan Cinde, ia pasti akan menemukan sang pangeran.
Tapi bagaimana kalau Cinde sudah mati?
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya ratu.
“Sebenarnya, tidak, ratuku, kurasa aku harus pergi menemui gadis yang dikurung itu, ada beberapa hal yang perlu kutanyakan padanya agar pencariannya lebih mudah.”
Ratu mengangguk, “Baiklah, bawa dua penjaga bersamamu.”
Saat Tatiana mendekati sel bersama kedua pria itu, jantungnya terus berdebar kencang.
Apa yang akan ia katakan kepada Zhoya dan bagaimana caranya? Pikirannya terganggu oleh seorang penjaga yang berlari ke arah mereka. Kepanikan tergambar di wajahnya.
“Ada apa?” tanya salah satu pria yang bersamanya sambil berlari mendekat.
“Mereka sudah pergi! Beri tahu ratu!”
Tatiana berdiri mematung saat para pria itu meninggalkannya dan mereka semua berlari untuk mengambil senjata mereka. “Astaga!”











