Saat mendengar kata ‘menikah’ beberapa dekade silam sempat membuat anak-anak muda angkatan/Generasi X, Y hingga Milenial tersipu-sipu hingga berkhayal tinggi-tinggi, “Wah, asyiknya. Jadi raja-ratu sehari, hidup happily ever after”. Bahkan dalam animasi jadul Sailor Moon, tokoh utamanya Usagi bercita-cita jadi seorang pengantin. Bergaun putih, berdandan super cantik hingga manglingi, bersanding dengan Topeng Tuxedo si ‘pangeran tampan’. Hampir semua kisah Disney Princess happy ending dengan berhasil menaklukkan kejahatan plus menikahi pasangan impian. Hampir semua gadis punya konsep impian masing-masing; nikah sederhana hingga bulan madu impian.
Namun pada zaman now sepertinya keinginan untuk menikah semakin lama semakin berkurang. Apabila ditanyakan ‘apakah kamu mau kelak nikah atau sebaliknya, belum berminat?’ kepada anak-anak muda yang sudah cukup usia/dewasa, jawaban mereka belum tentu iya. Mulai dari masalah kesiapan (belum bekerja, belum punya biaya, belum siap hidup mandiri) hingga memang belum punya pasangan. Belum lagi yang masih memikirkan benar tidaknya paham-paham di media sosial yang sempat viral seperti ‘marriage is scary’ hingga keinginan beberapa selebriti untuk ‘childfree’ dengan berbagai alasan seperti ‘bumi sudah penuh sesak dengan manusia’ atau ‘biaya membesarkan anak-anak plus biaya edukasi mereka semakin tinggi’. Belum lagi yang berkaca pada kasus beberapa selebriti yang cerai setelah nikah singkat, bahkan yang sudah nikah lama, kemudian merasa takut jika nanti terjadi ‘kenapa-napa’ dengan pasangan hingga harus bercerai atau berpisah, dan sebagainya.
Tuhan Allah menginginkan manusia berpasang-pasangan seperti firman-Nya, “Tidak baik jika manusia itu seorang diri saja!” dalam Kitab Kejadian. Seakan-akan menurut-Nya status sorangan wae itu tidaklah baik bagi manusia – pada awalnya. Apa ‘sih tujuan Tuhan Allah yang pada awalnya dimengerti sebagai rencana-Nya agar Adam dan Hawa (pasangan manusia pertama) dan keturunannya memenuhi bumi, menguasai serta mengelola alam ciptaan-Nya?
Apakah benar marriage is that scary?Apakah keinginan untuk childfree adalah sebuah pilihan tepat, realitis dan masuk akal sebagai solusi bagi setiap pasangan? Inilah beberapa renungan dari penulis yang besok akan merayakan ulang tahun pernikahan keenam belas.
- Marriage is not always perfect and beautiful, but marriage is not scary as well. Tentu saja jika diawali dengan perasaan suka, sayang dan cinta. Apa yang diawali dengan baik; perkenalan yang baik, pertemanan hingga pendekatan yang baik, akan berjalan dengan baik. Perlu ditekankan jika baik bukan berarti selalu sempurna, bukan juga selalu berarti positif (minus hal-hal negatif). Baik bisa berarti berlangsung dengan niat tulus, murni, rasa klop/cocok satu dengan yang lain. Baik juga berarti siap menerima semua kelebihan dan kekurangan, bukan hanya mau kelebihannya saja. Menerima bukan berarti pasrah/diam saja, melainkan bersedia merangkul dan melengkapi.
- Memiliki anak (maupun tidak) adalah anugerah. Bukan berarti terserah atau suka-suka pasangan saja, melainkan ada rencana Tuhan (yang tidak selalu mudah dipahami manusia). Kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh 5W plus 1H ala-ala kata tanya Bahasa Inggris, melainkan bagaimana pasangan menjalani ‘hidup baru’ sesuai kehendak-Nya. Terkadang cukup mulus-mudah, tidak jarang juga penuh dengan ujian atau pencobaan. Ada yang langsung dapat, ada yang harus menunggu lama, ada juga yang belum kunjung mendapatkan. Tidak berarti yang begini lebih beruntung daripada yang begitu. Apapun rencana Tuhan, yakinlah adalah yang terbaik, terindah, patut disyukuri dengan besar hati.
- Single or mingle? Tetap lajang atau memilih berpasangan adalah panggilan hati masing-masing hingga ketetapan Tuhan yang berbeda-beda bagi setiap manusia. Setiap yang sudah berkeluarga tak patut mengecilkan hati para lajang, demikian pula sebaliknya.
(Bersambung besok)
Tangerang, 20 November 2025









