Beranda / Fiksi / Orang Baik

Orang Baik

Orang Baik

Mobil rental Amri dan Prita menderu di jalan berliku Lintas Sigura-gura Lembah Sungai Asahan. Pasangan pengantin baru itu sedang dalam perjalanan menuju sebuah penginapan di pedalaman, dan mereka sudah beberapa puluh kilometer  dari Ulakmedan.

“Kenapa kau tak bilang saja apa yang kau inginkan?”

Tidak ada jawaban.

Amri menggelengkan kepala dan melanjutkan, “Astaga, Prita, aku sudah bilang aku minta maaf. Aku bukan pembaca pikiran.”

Istrinya di sampingnya tetap diam dengan tangan disilangkan dan kepalanya menoleh ke kiri untuk menghindari kontak mata. Mobil melewati sedikit gundukan dan dia berbalik menghadap Amri. Amri menatap lurus ke depan, matan ya menatap jalanan, tampak jengkel dan bingung.

Prita tersenyum, tanpa sadar, dan melunak.

“Maaf,” kata Prita, mengulurkan tangan untuk meletakkannya di bahu Amri. “Aku sudah terbiasa menyetir, itu saja.”

Amri mengalihkan pandangan dari jalan ke arah pengantin barunya dan mengangkat sebelah alis. Prita terkikik,

“Ayolah, kau hampir saja membawa kita keluar dari Sumut ke Aceh.”

Tak mampu lagi menahan senyum, Amri menggodanya, “Berapa lama kita bertahan, empat belas jam sebelum pertengkaran resmi pertama kita?”

Prita berpura-pura terkejut dan menepuk lengan Amri. “Dan kau bertahan selama tiga belas jam sebelum hilang pengantinmu bodoh.” Mereka tertawa, dan semuanya dimaafkan.

Amri dan Prita adalah tipe pasangan yang pertengkarannya lebih seperti semburan percakapan yang intens, dan keduanya tidak menganggapnya serius.

Prita berbalik menghadap jalan dan berteriak, “Awas!” Amri menginjak rem, tetapi sudah terlambat. Mobil menabrak lubang yang dalam, dan kolongnya mengeluarkan suara gesekan logam yang menggiris saat mereka melewatinya.

“Gawat,” gerutu Amri, mengemudi dengan kecepatan lebih rendah. “Sebaiknya aku berhenti dan memeriksa kerusakannya.”

Prita melihat ke kaca spionnya untuk melihat ban penumpang depan, yang telah mengalami kerusakan paling parah.

“Entahlah, kelihatannya baik-baik saja. Tapi kedengarannya mengerikan. Apa kau tidak benci suara derak itu, suara logam beradu dengan trotoar?” Prita bergidik.

Dia mengangguk setuju. “Lubang jalan sialan itu pasti dalamnya seperempat meter.”

Mobil itu terus melaju, hanya sedikit miring. Prita melirik khawatir ke luar jendela ke arah ban. Bannya sedikit kempes, tapi tidak kempes sepenuhnya.

“Kita masih tiga puluh kilometer dari pemukiman terdekat. Ayo kita coba bertahan sampai kita tiba di kota. Lagipula kita tidak bisa berbuat banyak sampai saat itu, dan hari sudah mulai gelap,” pikirnya.

“Betul, hari sudah mulai gelap. Kalau ban kempes dan kita masih terjebak di hutan ini tanpa ban serep, kita celaka. Aku belum melihat mobil lain selama beberapa jam terakhir, ya?”

“Tenang.” Dia menyilangkan tangannya lagi. Sambil mengulurkan tangan untuk menggenggam tangannya, Amri menggodanya, “Wahai orang-orang yang kurang percaya, tabahlah. Kau menikah dengan salah satu dari sekitar dua puluh orang Medan  Kota yang tahu cara mengganti ban.”

 Prita terkekeh. “Baiklah, tapi menepilah jauh-jauh. Dengan tikungan tajam seperti ini, kau tak bisa melihat apa yang akan terjadi dan aku tak mau ada yang menabrak kita dari belakang pas kita berhenti.”

Jalanan semakin curam ketika mereka mencapai lubang, tetapi sekarang jalan menurun secara bertahap. Setiap sekitar satu kilometer, ada tikungan tajam. Amri melihat ke kiri dan ke kanan dan sedikit mengurangi tekanan pada pedal gas.

“Aku akan berhenti setelah tikungan berikutnya.”

Saat Amri melewati tikungan di jalan, Prita memandang ke luar jendela, memandangi dedaunan musim kemarau yang menakjubkan.

Aku memilih tempat bulan madu yang bagus. Prita merasa puas dengan dirinya sendiri.

Amri ingin terbang ke Bali menuju pantai yang ramai, tetapi Prita selalu membayangkan sebuah penginapan di pedalaman pedesaan sebagai tujuan ideal. Pikirannya dipenuhi rencana untuk minggu ini ketika mobil berhenti mendadak, menyadarkannya kembali ke kenyataan. Prita menatap suaminya, fokus pada jalan.

“Ada apa?” tanyanya.

Suaminya menyipitkan mata, menunjuk ke jalan, dan Prita mengikuti tatapannya. Lampu depan mobil bersinar di depan mereka.

Di tengah jalan, seorang pria berbaring tengkurap, dengan wajah membelakangi mereka, lengan dan kaki tertata rapi di sampingnya. Di kepalanya, helaian rambut abu-abu berkibar tertiup angin.

Prita tersentak. “Itu orang?”

“Kurasa begitu,” jawabnya.

Prita mendengar kunci pintu otomatis terkunci.

“Apa yang kau lakukan? Kita harus menolongnya!” seru Prita.

Suaminya menatapnya, gagal menyembunyikan kekhawatirannya.

“Bagaimana jika dia butuh pertolongan? Bagaimana jika dia mati?” seru Prita.

Amri menatap sosok di jalan dan menggelengkan kepalanya. “Ada yang tidak beres. Kurasa kita sebaiknya jangan keluar dari mobil.”

Pria itu tidak bergerak sedikit pun, dan tubuhnya tergeletak miring, memenuhi sebagian besar jalan. Mereka harus masuk ke selokan untuk menghindarinya.

Prita mengamati ekspresi khawatir Amri. Suaminya tampak serius, dan wajahnya muram.

“Apa maksudmu ini tidak terlihat benar?”

Amri merendahkan suaranya menjadi bisikan mendesak dan menunjuk pria itu. “Lihatlah tangan dan kakinya. Kau pernah tengok orang pingsan? Mereka jatuh dengan anggota badan tertekuk, bengkok, dan acak. Tidak lurus di sampingnya.” Sambil menelan ludah, Amri menambahkan, “Aku bisa melihat punggungnya naik turun, jadi dia bernapas. Kalau itu cedera leher, aku sendiri tidak akan bisa memindahkannya.” Dia menoleh ke Prita. “Kita hanya tiga puluh kilo dari penginapan. Begitu sampai di sana, kita akan panggil ambulans.”

“Kau bikin aku takut,” katanya, matanya berkaca-kaca.

Amri memandang ke luar jendela di sekitarnya sebelum meraih bahunya dengan kedua tangan. “Sayang, kumohon. Percayalah padaku. Kalau aku salah, dan kuharap begitu, kau boleh menyalahkan aku setiap hari seumur hidup kita.”

Prita mengangguk setuju dengan mulut ternganga.

Amri berbalik menghadap kemudi dan memasukkan kembali mobil ke posisi jalan. Memberikan jarak yang lebar, Amri mengitari pria yang terbaring di tanah.

Prita bersandar di sandaran kepala dan memejamkan mata rapat-rapat. Sesaat kemudian, dia berbalik untuk mengatakan sesuatu, tetapi ekspresi Amri menghentikannya. Suaminya menatap kaca spion, dan wajahnya berubah pucat pasi. Prita melepas sabuk pengaman agar dia bisa berbalik dan melihat.

Di belakang mereka, pria di jalan itu duduk tegak, menatap mobil mereka yang melaju pergi.

Mulut Prita menganga ingin berteriak, tetapi tidak ada yang keluar.

Amri tetap memegang setir dengan satu tangan dan tangan lainnya menggenggam tangan istrinya.

“Aku tahu. Cobalah untuk tetap tenang,” dia istrinya, suaranya bergetar. “Aku akan memberi jarak sejauh mungkin di antara kita.”

Keduanya tak bisa mengalihkan pandangan dari orang asing yang duduk diam dan tegak.

Mereka kurang dari satu kilometer lagi dari belokan berikutnya. Amri memperlambat laju kendaraan saat mereka mendekati tikungan, dan ketika dia berbelok, beberapa sosok berkerudung muncul dari balik pepohonan untuk berdiri bersama pria itu di jalan. Masing-masing memegang sesuatu yang berkilau di tangan dan menatap dalam diam ke arah mobil pasangan pengantin baru yang melaju kencang.


21 November 2025

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *