Home / Fiksi / Cerbung / Setitik Haru Selaksa Rindu (Part 2)

Setitik Haru Selaksa Rindu (Part 2)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 19 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Tepi Telaga, Waktu Indonesia Bagian Cinta.


Creng! Creng!
Ting tong ting tung ting tin
g ting.


“Bagaimana lengan kirimu, Bay?”

“Alhamdulillah telah kembali normal, Na. Walau untuk beberapa gerakan masih belum leluasa.”

Kembali keduanya menabuh alat musik masing-masing. Kali ini mereka memainkan “Belum Ada Judul” nya Iwan Fals, sebagai kenangan karena di alam nyata, lagu tersebut pernah menemani penulisnya bekpeker menuju kota kecil yang menyempil di pelosok desa, demi penyelenggaraan pernikahan mereka berdua, yang dilantunkan penuh perasaan oleh pengamen bus antar provinsi.

pernah kita… sama-sama susah
terperangkap di dingin malam
terjerumus… dalam lubang jalanan
di gilas kaki sang waktu yang sombong
terjerat mimpi yang indah… lelap

pernah kita… sama-sama rasakan
panasnya mentari hanguskan hati
sampai saat… kita nyaris tak percaya
bahwa roda nasib memang berputar
sahabat masih ingatkah… kau


sementara… hari terus berganti
engkau pergi… dengan dendam membara…
di hati…


cukup lama… aku jalan sendiri
tanpa teman… yang sanggup mengerti
hingga saat… kita jumpa hari ini
tajamnya matamu tikam jiwaku
kau tampar… bangkitkan aku
sobat…


sementara… hari terus berganti
engkau pergi… dengan dendam membara…
di hati…

Usai memainkan lagu pesanan sang pengarang cersil usil tersebut, keduanya saling menatap sambil tersenyum. Dan sebuah tatapan bersama secercah senyum, seringkali menjadi bahasa paling purba dari cinta yang tak perlu lagi diungkap lewat kata.

Cinta bertanya jawab dengan cinta. Cinta menggenggam erat jemari cinta. Dan cinta, seperti tak berhenti untuk berkata:

betapa amat bertubi-tubi peristiwa yang menghampiri
memberi heran bahwa telah sejauh itu waktu berlalu
mendampar kita pada tepi yang kini
sambil sesekali melintas persimpangan lalu dan nanti
dan menyibak rindu dalam entah berapa banyak temu.
 

“Saat-saat seperti ini entah mengapa mengingatkanku pada kisah roller coaster cinta yang penuh bertabur emosi, tentang seseorang yang pernah menghabiskan hidupnya dengan terus berlari. Pernahkah kau membaca kisahnya, Bay…? Jika tidak salah, yang bertitel Dunia Aneh Si Bayangan jilid 1…”

Bay mengangguk. Tentu saja dia tahu! Sebab dia adalah pemeran utama di kisah cinta yang pedih itu, dengan sosok Mulan sebagai lawan mainnya, yang pernah diposting di banyak media sosial sebelum akun Pemimpin Bayangannya dibreidel oleh entah siapa dan entah karena apa.

“Maukah kau berjanji, Bay, bahwa kisah kita tak akan pernah serupa sedihnya dengan si mahasiswa muda dan Mulan di kisah tersebut?”

Bay kembali mengangguk. Kali ini sambil menggigit bibir kuat-kuat, menahan kenangan yang pernah amat memilukan itu.

“Terima kasih atas kesediaanmu, Bay, karena aku tahu, bahwa kau tak pernah menganggap enteng janji sekecil apapun kepada siapa pun. Terima kasih juga untuk pembuatan ending cersil usil ini, yang sekaligus membuktikan, bahwa si pelari itu… kini benar-benar tak akan pernah lagi berlari, untuk selamanya…”

Mendadak Na melompat dari sampan. Tubuhnya berpusing beberapa kali di udara secara terbalik, untuk kemudian hinggap dengan anggun di tengah teratai yang mengapung di tepi telaga, sambil menggaungkan sebait sajak pendek yang menyiratkan berakhirnya kisah masa lalu yang pernah riuh itu.

 
“tepat saat kakinya berhenti berlari, semesta hening…”

 
Terpancing oleh ucapan Na sebelumnya, Bay sontak menjawab dengan hikmah yang terpetik dari kisah yang sama.

 
aku lelah, ucapku nyeri
meski cuma pada diri sendiri
setelah semua yang datang lalu pergi lagi
setelah semua yang datang untuk tak lagi kembali
 
tapi kelak barangkali sempat kau bacai
serenada sedih yang tak sudah ini
tolong, awetkan jasadku, dalam puisi”

 

Na menyanggah sambil melayang kembali ke dalam sampan, setelah sebelumnya berlarian mengelilingi danau dengan menutul-nutulkan kakinya di atas air seperti capung yang tengah bertelur.

“rintih pedih 
bersama langkah tertatih
butir butir sejuk menyerpih

entah, jawabnya sedih
karena memang ku tak pandai mengawet kata penuh buih”

Kembali mereka saling berhadapan. Dan entah siapa yang memulai, ketika tahu-tahu kedua pasang tangan mereka telah saling bertaut erat. Mata memandang mata. Hati menatap hati, membawa serta jutaan mimpi yang berpendar mengelilingi mereka tak ubahnya kerlip begitu banyak kunang-kunang menyusuri malam demi mengurai setiap helai rindu yang datang menyerbu.

 
#Bay
telah kuberi aku punya jiwa, tapi
tak ada yang kuberi
karena ternyata
aku tak punya cinta
 
*Na
semilir sejuknya malam
menemani kelam
sayup terdengar teriakan menggema
yang entah apakah masih punya jiwa
 
#Bay
ku kata kau kau kata aku lalu kau aku
jadi kita dalam kata
ku kata -mu kau kata -nya lalu -dia
jadi haru dalam jiwa
 

*Na
ketika kau adalah aku 
ketika aku adalah kau
apalagi yang dapat ku kata

tak ada lagi makna dalam kata
kecuali -dia
 
#Bay
lalu harus dengan cara apa lagi kita mencintai-nya
 
*Na
ketika kata tak lagi enggan punya jiwa
ketika doa tak lagi sungkan punya makna 
hanya sajadah usang tersisa


sebagai bukti mencinta-nya
 
#Bay
di pintuku aku merutuk
aku tak jera terkaing
di pintumu aku mengetuk
aku tak bisa berpaling
di pintu-nya, aku, cuma bisa merajuk
dalam hening yang tak kunjung menggeming
 
*Na
tak pantas rasanya
jiwa penuh dosa
bersimpuh di bawah arasy-nya

hanya tuk sebuah pinta
ampunan tuk segala dosa yang menjelaga
 
#Bay
setidaknya, cinta
tak lagi perlu kita baca: noda
setidaknya, bahagia

tak lagi butuh syarat dan rupa selama kita: bersama
 
*Na
saat cinta menjelma
saat bahagia menyata
mungkin kita tak sempat menyambutnya

kita hanya sibuk dan berdiri di tepiannya
tak sadar akan hakikat sebenarnya 
apa itu cinta, apa itu bahagia
 
#Bay
tanyakan pada dunia, apa itu cinta?
yang terus mengangkangi tentu bukan cinta
yang tak harus memiliki jelas tidak cinta
tapi cinta selalu saja cuma cinta
seperti kita yang seringkali cuma kata
 
*Na
tak perlu ku bertanya 
tentang apa itu cinta
pada insan juga dunia

karena cinta tetap hanya cinta
hati yang merasa

 

Kembali mereka berdua saling bertukar tatap mata, untuk kemudian melayang bersama menuju tepi tepi telaga.

Pandangan mereka tak berhenti melekat satu sama lain. Juga tangan yang terus saling mnggenggam itu, hingga senja hadir memberi kesadaran, betapa jauh di dalam hati, Bay merasa bahwa dirinya tak lebih dari manusia yang benar-benar biasa saja.

Untuk yang ke sekian kalinya mereka berdua larut dalam tatapan penuh cinta, memberi kesadaran bahwa sehebat apapun seseorang, tak peduli bahkan jika dia adalah pendekar terhebat yang pernah mengguncang jagad sekalipun, pada akhirnya tetap saja tak mampu menahan gempuran jurus sederhana, yang pernah dikenal sebagai: Cinta.
lapar dapat kutahan
juga semua derita
dan beban
tapi tidak dengan cinta

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Setitik Haru Selaksa Rindu (Part 1) Epilog

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image