Home / Genre / Fiksi Sejarah / 15. Penentuan “Siapakah yang Akan Naik Tahta?”

15. Penentuan “Siapakah yang Akan Naik Tahta?”

Muhammad al-Fatih
This entry is part 17 of 20 in the series Muhammad al-Fatih

Setelah Orhan Çelebi menikam Şehzade Mehmed, ia bersama pasukannya bergegas menuju Edirne. Namun, baru saja kudanya beberapa melangkah, tiga, empat pasukannya tertembak anak panah. Tanpa disangka, ternyata dari arah berlawanan Bali Bey, dan para Akinji memacu kudanya dengan cepat berlari ke arahnya dengan mengarahkan busur panah tepat mengarah pada hidungnya dan pasukannya. Seketika, Orhan Çelebi terkepung. Akan tetapi, nasib Orhan Çelebi tak sampai disitu. Dengan congkaknya, ia memanggil pasukan bantuan dari Kaisar Konstantinos XI Palaiologos yang diperintahkan untuk berjaga di area sekitar. Maka, datanglah pasukan itu. Keadaan pun berbalik. Namun, apakah Bali Bey dan para Akinji merasa terjebak? Tidak, Bali Bey pun sudah melakukan tindak pencegahan.

“Para Akinji! Bersiaplah!” teriak lantang Bali Bey memanggil Pasukan Akinji yang ditugaskan untuk membantu dari tenda Evrenosğlu Ali Bey.

Maka, Pasukan Akinji asuhan Evrenosğlu Ali Bey berdatangan—dalam jumlah banyak. Sontak, keadaan kembali berbalik. Kini, Orhan Çelebi bersama pasukannya benar-benar terkepung.

“Saltuk, Dumrul, evakuasi Şehzade Mehmed, cepat!” Perintah Bali Bey tegas.

“Saat ini, aku tidak ada urusan dengan kalian. Maka, sayangilah nyawa kalian dengan pulang ke kaisarmu.” Kata Bali Bey kepada pasukan pendukung dari Kaisar Konstantinos XI Palaiologos.

Melihat Orhan Çelebi tertekan, pasukan pendukung berpikiran bahwa ia telah kalah, maka mereka kembali ke Konstantinopel meninggalkan Orhan Çelebi. Kemenangan yang terlihat di depan mata lenyap seketika, berubah dengan rasa cekam di hati Orhan Çelebi. Tanpa ada perlawanan, pasukannya, dan pasukan dari Suku Çandar menyatakan kalah terhadap Bali Bey dengan melemparkan pedang ke tanah. Mereka tahu, bahwa Pasukan Akinji adalah unit terbaik yang dimiliki Kesultanan Utsmani setelah Pasukan Janissary.

“Hamzah, Salur, bawa ia, dan masukkan ke dalam penjara bawah tanah. Biar Şehzade Mehmed yang memutuskan nasib si pengkhianat Orhan saat nanti naik tahta nanti” Perintah Bali Bey yang tak mau bertele-tele.

Orhan Çelebi tak mampu berkata-kata, apalagi berbuat banyak.

Maka, tubuh Şehzade Mehmed, dan Orhan Çelebi dibawa ke Edirne oleh Bali Bey, dan Pasukan Akinji dengan kecepatan penuh. Şehzade Mehmed langsung dibawa ke ruang penyembuhan, sementara Orhan Çelebi dibawa ke ruang penjara bawah tanah. Mengetahui Şehzade Mehmed terluka tak sadarkan diri, sontak Mara Hatun begitu terkejut. Ia memerintahkan para tabib untuk menyembuhkan dengan segera.

Setelah itu, berbekal informasi dari Daye Hatun, Mara Hatun memerintahkan kepada Şahabettin Pasha untuk menemui para pasha secara rahasia, yaitu mereka yang pernah ditemui oleh Çandarlı Halil Pasha. Ternyata, Daye Hatun adalah mata-matanya Mara Hatun. Ia menyadari betul bahwa kondisi seperti ini pasti banyak yang hendak memanfaatkan situasi, oleh karena itu Mara Hatun memerintahkan kepada Daye Hatun untuk berpura-pura memihak İshak Pasha—seorang pasha veteran yang selalu berlawanan arah dengan Şehzade Mehmed.

Benar saja dugaan Mara Hatun, titik akhir dari dugaannya adalah Şehzade Ahmed agar naik tahta dengan melibatkan banyak orang. Maka, orang-orang yang berperan sebagai kerikil-kerikil tajam itu harus dibersihkan.

“Rayhan Ağha, beritahu Gülbahar Hatun secara rahasia untuk menjaga Şehzade Mehmed tanpa diketahui oleh Beyazid. Lalu ceritakan kondisi Şehzade Mehmed, dan bersikap tenang.” Perintah Mara Hatun kepada pengawal para harim.

“Baik, Mara Sultan.” Jawab Rayhan Ağha.

Selepas itu, Mara Hatun menemui Zağanos Pasha yang berada di halaman istana.

“Zağanos Pasha, bagaimana situasi di luar istana?” Tanya Mara Hatun.

“Situasinya sudah dapat dikendalikan, Mara Sultan.” Jawab Zağanos Pasha.

“Lalu, bagaimana dengan Şehzade Ahmed?”

“Aku mendengarnya perihal Şehzade Ahmed. Lagi-lagi Çandarlı Halil Pasha memanfaatkan situasi, dan bersikeras untuk menaikkan Şehzade Ahmed untuk naik tahta lagi.” Jawab Zağanos Pasha.

“Bagaimana pendapatmu, Zağanos Pasha?”

“Menurutku, satu-satunya yang paham terhadap tradisi Oghuz Khan, nenek moyang kita adalah Evrenosğlu Ali Bey. Beliau seorang Bey veteran yang masih mendalami akar sejarah Turki dengan sangat baik.”

“Baiklah, aku akan menemui Evrenosğlu Ali Bey secara pribadi, kau awasi İshak Pasha, dan Çandarlı Halil Pasha.”

“Lalu, bagaimana dengan Halime Hatun?” Tanya Zağanos Pasha.

“Ia sedang diurus oleh oleh Daye Hatun yang masih berpura-pura memihaknya.”

“Baik, Mara Hatun. Aku jalankan perintahmu.”

*
Mara Hatun menemui Evrenosğlu Ali Bey untuk meminta pendapat. Meski ia mendukung Şehzade Mehmed, tapi Mara Hatun tetap ingin bersikap objektif demi kelangsungan Kesultanan Utsmani. Lalu, jawaban Evrenosğlu Ali Bey begitu mengejutkan Mara Hatun.

“Menurut tradisi Oghuz Khan, tidak ada 2 pedang dalam 1 sarung. Jika ada 2 pedang yang ingin masuk dalam sarung itu, maka salah satu pedang harus dikorbankan.” Jawab Evrenosğlu Ali Bey.

Dengan rasa percaya, Mara Hatun bertanya lagi.

“Itu berarti salah satu dari şehzade harus dikorbankan? Apakah tak ada jalan lain?”

“Tidak ada, Mara Sultan.” Jawab Evrenosğlu Ali Bey tegas.

Mara Hatun tertegun dalam waktu yang tak sebentar. Ia memahami bahwa bahasa dikorbankan, adalah dihilangkan nyawanya, dan dirinya merasa tak kuasa untuk mengorbankan salah satunya. Karena, baik Şehzade Mehmed maupun Şehzade Ahmed adalah putra-putranya mendiang Sultan Murad.

“Aku tahu perasaanmu, Mara Sultan. Tapi, inilah aturan yang sudah ditetapkan oleh leluhur kita demi kelangsungan negara.” Tegas Evrenosğlu Ali Bey.

“Penerus mendiang Sultan Murad Han, harus yang lebih tajam diantara keduanya. Aku tahu siapa yang lebih tajam, dan aku akan mengikuti pilihanmu, Mara Sultan.” Lanjut Evrenosğlu Ali Bey.

Mendengar kata-kata seorang Bey veteran, meski dengan perasaan sakit dan dilema, Mara Hatun memantapkan pilihannya siapa yang pantas untuk naik tahta meneruskan perjuangan Sultan Murad Han.

“Ini untuk negara, maka kepentingan negara lebih tinggi dibanding kepentingan pribadi. Untuk negara, kami siap berkorban.” Kata Mara Hatun dalam hati.

Muhammad al-Fatih

4. Kursi Kesultanan Memanas 6. Naik Tahtanya Sang Penerus Sultan Murad

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Antologi KompaK’O

Random image