Kira-kira, apa yang tidak akan habis diwariskan bagi anak-cucu kita? Harta benda, tanah atau rumah? Investasi, bisnis atau perusahaan? Semua itu banyak dimiliki serta ditinggalkan oleh orang-orang di dunia ini, dianggap luar biasa penting atau bernilai tinggi. Akan tetapi patut diingat, semua itu barangkali dirintis dan dibangun dengan susah payah, namun dapat habis pula dalam sekejap mata. Jadi, apa lagi yang dapat kita wariskan?
Seringkali pikiran kita melayang ke masa lalu berusaha mengingat-ingat kenangan atau nasihat orang tua atau kakek-nenek kita. Kadang kita berhasil mengingatnya, namun kita patut mengakui jika kita lebih sering lupa. Akhirnya seperti kain kanebo kering yang berusaha diperas demi memperoleh air; tiada tersisa apa-apa. Bukankah itu hal yang miris serta menyedihkan?
Penulis mencoba menawarkan alternatif yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita selama ini; literasi kesaksian! Mengapa kita sebagai Orang Percaya sebaiknya mencoba mulai menulis, meskipun barangkali hanya berupa tulisan sederhana saja, beberapa patah kata atau kalimat?
- Harta benda bisa habis, namun kata-kata itu abadi. Seperti halnya Alkitab/Kitab Suci yang telah eksis selama ribuan tahun, sebuah bukti nyata jika Firman-Nya hidup dan menjelma jadi Manusia dalam hidup Kristus serta menerangi hidup kita. Kita tidak perlu langsung jadi penulis hebat seperti halnya Musa, Daud hingga Paulus (indah, puitis, sesuai kaidah dan sebagainya), akan tetapi setiap kita tentu memiliki kata-kata.
Setiap manusia memiliki kisah perjalanan hidup masing-masing, maka kisahkanlah! - Kata-kata (lisan) bisa dikatakan (dan berlalu), namun tulisan dapat dibaca siapa saja, kapan saja meskipun kita sudah pulang ke Rumah Bapa. Tulisan kesaksian kita barangkali tidak viral, bukan hal bombastis, hanya biasa-biasa saja. Akan tetapi coba bayangkan beberapa dekade lagi saat anak-cucu membacanya, mereka seakan mendengar suara Anda sendiri. Tidak perlu mesin waktu atau teknologi ajaib bak kisah fiksi. Tulisan tangan sederhana saja ibarat surat tua dalam botol yang terdampar di pasir pantai, bisa ‘tak ternilai’ harganya.
Pemikiran indah serta pengalaman bersama Tuhan yang diwariskan semoga mampu memberikan petunjuk serta kekuatan. - “Bagaimana cara memulainya? Saya awam dalam bidang tulis-menulis. Saya belum berpengalaman sama sekali.” Semua itu bukan masalah. Mengapa lebih baik dituliskan daripada hanya dibicarakan? Rekaman suara bisa hilang, video bisa terhapus, akan tetapi kata-kata yang tertulis tidak mudah lenyap. Gunakanlah, manfaatkanlah teknologi zaman now sebaik mungkin. Ada banyak blog bebas biaya seperti blogspot dan wordpress. Belum percaya diri mempublikasikan tulisan? Menulis dengan tangan di buku tulis atau diary juga bisa dilakukan. Apabila sudah yakin/sreg, cobalah menelurkan tulisan yang bisa dibagikan kepada keluarga hingga teman-teman seiman.
Puji syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan, doa yang dikabulkan-Nya, pandangan serta harapan kita, semua itu bisa jadi ide dan inspirasi tiada habis-habisnya. - Sebuah pengalaman pribadi penulis, menuliskan kesaksian hidup barangkali masih dalam mode sukarela alias gratisan, akan tetapi menulisku diberi imbalan oleh Tuhan. Imbalannya bukan berupa uang/materi, akan tetapi berupa berkat, kesehatan, kecukupan, kedamaian, cinta-kasih sayang serta kehidupan.
Jika dalam melakukan pekerjaan duniawi saja, untuk setiap karya kita diberikan hasil luruh keringat, apalagi karya untuk Tuhan! - Apa saja contoh bentuk tulisan dalam literasi kesaksian? Bisa berupa puisi, kisah nyata sketsa kehidupan atau slice-of-life, hingga opini. Apabila juga ingin mencoba menulis dalam bahasa kedua/bahasa lain semisal Bahasa Inggris atau Mandarin, mengapa tidak?
Kesaksian bisa dilakukan dengan bermacam-macam bentuk mulai pelayanan hingga persembahan. Apabila memiliki talenta meluruhkan kata, mari mencoba bersaksi lewat tulisan. Setiap kata-kata ibarat bibit pohon yang ditabur/ditanam di tanah subur alias hati pembaca, berakar, bertumbuh , berbuah manis dan lebat dalam hidup sesama.
Semoga bermanfaat dan selamat mencoba, Tuhan memberkati.
Tangerang, 25 November 2025









