Beranda / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 66

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 66

CINTA KEDUA & TERAKHIR
This entry is part 67 of 68 in the series Cinta Kedua & Terakhir

“Oh, iya. Bu. Ba-Bapak baik-baik saja, kok.”

Pak Herman tampak gugup. Dan gelagatnya itu diketahui oleh Bu Desi. Bu Desi yakin kalau dia sudah mengetahui maksud dari kedatangannya. Sedangkan Bu Iyes benar benar tidak tahu tentang apa yang akan dibicarakanya.

Pada saat menjelang pertunangan Silvia, dia memang menemuinya dan mengatakan kalau dia akan mengambil kembali anaknya. Itulah penyebab Bu Iyes menjadi pemurung saat acara pertunangan itu berlangsung.

“Jadi, kedatangan saya ke sini, ingin meluruskan sesuatu.”

Dia menjeda ucapannya, kemudia melanjutkan lagi ucapannya yang tertunda.

” Sebenarnya begini.”

“Katakan saja Bu Desi. Jangan merasa sungkan. Apa lagi kalau mengenai Silvia. Dia juga putri kami. Kamu akan lakukan apapun untuk kebahagiaannya,” ucap Bu Iyes dengan lembut.

Mendengar itu membuat Bu Desi semakin berat untuk bicara.

‘Apakah jika aku bicara yang sebenarnya tidak akan melukai perasaan wanita sebaik Bu Iyes? Semoga saja dia bisa menerima kenyataan ini,’ batinnya bermonolog.

“Tidak lama lagi, pernikahan Silvia akan berlangsung. Saya ingin ayah kandungnya menjadi wali nikahnya nanti.” Ibu Desi mengucapkan itu dengan satu tarikan napas. Tapi dia belum merasa lega, karena dia masih belum memberi tahukan siapa sebenarnya ayah kandung Silvia.

“Ya, memang sudah seharusnya seperti itu, Bu. Apa Ibu sudah memberitahu ayah kandungnya tentang rencana pernikahan putrinya?”

“Saya sedang berusaha mengatakannya, Bu.” Bu Desi menatap Pak Herman, seolah memberitahukan bahwa dialah orang yang menjadi ayah kandung putrinya.

“Lalu, apa dia bersedia, Bu?”

“Bu, Iyes. Sebelumnya maafkan saya atas apa yang akan saya katakan ini.”

Bu Iyes mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan permintaan maaf yang tidak beralasan dari ibu kandung Silvia. Dia memilih diam dan mendengarkan penuturan selanjutnya dari Bu Desi.

” Sebenarnya, Pak Herman Syahputra adalah ayah kandungnya Silvia.” Lagi-lagi dia mengucapkan itu dengan satu tarikan napas.

Pak Herman tidak terlihat terkejut dengan penjelasan dari ibu kandung Silvia. Karena dia sadar betul kalau dia memang sering melakukan hubungan badan dengan wanita itu saat masih berpacaran.

Bu Iyes tampak sangat terkejut dengan pernyataannya.

“Bagaimana mungkin? Bukankah saat bertemu di rumah sakit dengan Silvia, Bapak sama sekali tidak mengenal Silvia? Dan saat Ibu datang ke rumah kami untuk menitipkan Silvia Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Lalu bagaimana mungkin sekarang Bapak menjadi ayah kandung Silvia? Ada apa ini? Kenapa jadi membingungkan begini. Dan Ibu jangan main-main dengan penjelasan Ibu. Jangan Ibu menganggap kebaikan kami adalah sebuah kebodohan, jadi Ibu memanfaatkannya.”

Bu Iyes tak kuasa menahan amarahnya hingga dia mengucapkannya dengan nada tinggi. Dia menatap suaminya bergantian dengan Bu Desi.

Bu Desi menunduk dan menangis, lalu berkata dengan lirih. “Saya tidak berbohong, saya tidak berusaha memanfaatkan kebaikan Ibu.”

Bu Iyes menatap suaminya lagi. Dia mencari jawaban di mata suaminya. Dan dia menemukan jawaban yang dia cari. Namun tak sedikit pun air matanya mengalir.

“Pak, aku sudah mendapatkan jawaban dari matamu. Tapi aku ingin mendengar penjelasanmu tentang apa yang dikatakan oleh Bu Desi itu benar atau tidak dari mulutmu langsung.” Sebelumnya Bu Iyes tidak pernah bicara secara tegas seperti saat ini.

Pak Herman mulai bicara setelah menarik napasnya beberapa kali dan menghembuskannya secara perlahan.

“Iya, Bu. Desi memang masa laluku. Dulu dia adalah mantan pacar Bapak. Dia meninggalkan Bapak saat Bapak bangkrut. Dan itu jauh sebelum Bapak bertemu dengan Ibu. Dia juga tidak pernah mengatakan kalau dia sedang hamil waktu dia meninggalkan Bapak.”

“Maafkan saya.” ucap Bu Desi lirih.

“Sudahlah. Saya tidak menyalahkan kamu. Justru saya berterima kasih karena berkat kamu meninggalkan saya, saya bisa bertemu dengan bidadari surga yang sangat saya cintai.”

Bu Iyes yang tadinya sangat kecewa sekarang menjadi berbinar karena disebut sebagai bidadari surga oleh suaminya. Lagi pula tidak ada alasan baginya juga untuk marah, karena Bu Desi cuma masa lalu, jauh sebelum dia mengenal suaminya.

Bu Desi sendiri merasa lega karena Pak Herman sudah mengakui Silvia sebagai putri kandungnya. Namun ada luka di relung hatinya saat Pak Herman mengatakan kalau dia berterima kasih karena dia sudah meninggalkannya.

Ternyata dia bukan lagi orang yang penting semenjak dia pergi meninggalkannya waktu itu. Dulu Pak Herman tergila-gila dengan kecantikannya. Kina dia sadar ternyata bukan kecantikan yang membuat seorang laki-laki bertekuk lutut.

Pak Herman memandang Bu Iyes dengan tatapan lembut dan penuh rasa cinta. Tanpa dia sadari ada satu orang yang merasa cemburu.

Silvia memeluk Bu Desi. Dia sadar kalau sekarang ibunya sangat sedih melihat kemesraan ayah dan ibu tirinya. Dia berharap dengan memeluk ibunya dapat sedikit mengurangi rasa sedih dan penyesalan yang sedang melandanya.

Hari berganti Minggu, sehingga tibalah saatnya yang ditunggu-tunggu. Acara pernikahan Silvia digelar disebuah hotel berbintang lima. Semua keluarga sudah hadir di pesta yang digelar dengan sangat meriah. Tamu undangan datang dari berbagai daerah bahkan negara.

Silvia tampak cantik dengan balutan busana pengantin dari rancangan terkenal. Acara dilakukan tanpa ada halangan sedikit pun. Para bodyguard mengawal jalannya pesta dari berbagai arah. Sehingga tidak memungkinkan untuk orang yang tidak memiliki undangan untuk dapat memasuki ruangan pesta dan akad nikah.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 65 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 67

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *