Home / Fiksi / Cerbung / 1. Segenggam Harap

1. Segenggam Harap

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
1
This entry is part 2 of 25 in the series Sebiru Langit Casablanca

Di ruang kerjanya, Leon d’Oro sedang berbincang-bincang dengan seseorang dengan nada bicara santai  penuh keakraban. Caranya bernegosiasi sangat disukai rekannya.

“Jadi, bagaimana dengan keputusan kerjasama kita ini, Tuan Leon?” Pria paruh baya yang duduk di depannya menanti dengan harap-harap cemas. Terbayang di pelupuk mata, nominal besar yang akan diterimanya jika Leon mau bekerja sama dengannya.

“Saya belum bisa mengambil keputusan untuk saat ini, Tuan Paul. Kemungkinan lusa baru saya beritahukan kepada Anda. Tempo hari sudah kami bicarakan dengan dewan pemegang saham. Saya hanya bertindak sebagai pengawas di sini. Tidak punya wewenang penuh. Yang memiliki kuasa penuh adalah pemilik perusahaan ini, Tuan Charles. Saya hanya pelaksana saja.” Leon menjelaskan kepada Paul, membuat pria itu harus sedikit bersabar.

“Baiklah, Tuan Leon. Saya akan menunggu jawaban dari Anda sesegera mungkin.” Binar kecewa itu sedikit ada, tapi kemampuan Leon meyakinkannya membuatnya berpikir lebih panjang untuk tetap ikut berinvestasi di perusahaan itu.

“Baik. Terima kasih, Tuan. Semoga kerjasama ini masih tetap berlanjut.” Leon menjabat tangan Paul sebelum meninggalkan ruangannya.

Paul Lazarete meninggalkan ruangan itu diiringi seorang pria yang diketahui sebagai ajudannya. Sementara Leon, dia duduk termenung memikirkan seseorang. Diambilnya benda kecil itu di laci meja kerjanya.

“Mungkinkah itu dirimu? Dirimu yang sekarang?” gumamnya seorang diri. Bayangan wajah seorang gadis kecil yang pernah dikenalnya membuatnya kini terasa hidup.

Leon bukanlah Leon yang dulu. Dia adalah seseorang dari seseorang, dan masa lalu itu mengubahnya secara cepat.

Leon bukanlah seorang penyair, tetapi beberapa torehan pena di atas kertas putih itu menjadi saksi betapa hatinya merindukan seseorang. Dia mencoba menuliskan beberapa baris puisi meski dia yakin itu bukanlah puisi. Hanyalah sebagai pelampiasan ungkapan kata hati. Ungkapan kegelisahan dan kekosongan yang menyelimutinya.

Bunga-bunga kembali bermekaran

setelah lama layu

 tertimpa gerahnya sang surya

yang tiada pernah mengerti kegersangan hati.

Rinai-rinai hujan telah menemani sepenggal masa

 yang kujalani, bersama bayangmu. Apakah kau akan kembali padaku?

 Bagai elang yang kembali pada pasangannya,

bagai singa betina yang tak pernah gentar diterpa ganasnya gelombang kehidupan.

 Kuyakin, ada-mu itu nyata.

Beberapa kata dan kalimat tertulis di sana dengan senyum mengembang. Hatinya berbunga, entah kepada siapa. Yang jelas, Leon kini tengah berusaha lepas dari hidup yang selama ini seolah-olah membelenggu dirinya. Dia ingin bebas, tidak seperti hidup-hidup sebelumnya. Mungkin bibirnya bisa tersenyum, meski terkadang hatinya teriris dan terluka mengingat beberapa kejadian di masa lalu.

***

Sore itu, Karima berjalan bersama Youssef, hanya berdua. Mereka menuju arah yang berbeda.

“Karima, jika tidak keberatan, aku ingin mengundangmu ke acaraku minggu depan.”

“Acara apa, Youssef?”

“Penggalangan dana untuk kemanusiaan.” Mata tajam Youssef begitu menusuk hati Karima. Ada binar kejujuran di sana.

“Di mana?”

“Di kampus kita. Acaranya di sebelah ruangan Daniel.”

Tanpa pikir panjang, Karima menyetujui.”Baiklah, aku ikut! “

“Terima kasih, Karima. Sampai besok.”

“Sampai besok, Youssef.”

Mereka berpisah berlainan arah. Youssef menuju sudut kota  menemui seseorang di sana. Dia ingin mengajak sahabatnya itu ke acara amal dan penggalangan dana. Youssef sangat kagum dengan seniornya yang selalu rendah hati, meski dia seumuran dengannya, tetapi pengalaman Leon jauh lebih banyak dibandingkan dengan dirinya. Hidupnya yang nomaden telah membuat Leon mempelajari banyak hal.

“Mengapa kau harus memakai dan memiliki nama Leon? Apakah kau terobsesi dengan kedudukan?”

Kegiatan penggalangan dana berlangsung lancar. Mereka akan mendonasikannya ke beberapa tempat. Youssef menunjuk Karima sebagai koordinator di kegiatan itu. Hal ini membuat Sabrina merasa tersisihkan dengan keberadaan anak baru itu. Sabrina memandang sinis ke arah Karima yang tengah berbicara dengan Daniel dan Youssef.

“Akhir tahun ini, kami akan ke Maroko, Karima. Jadi, kami menjadikanmu sebagai koordinator mewakili negaramu.” Youssef adalah pemuda Prancis keturunan Tunisia. Dia lahir dan besar di Marseille. Keluarganya adalah pendatang yang memiliki usaha restoran khas Timur Tengah di salah satu sudut kota Marseille. Tetapi, Youssef adalah pribadi yang sangat misterius, dia sangat menyukai kegiatan penggalangan dana kemanusiaan.

Sedangkan Daniel, dia warga asli Marseille. Kedua orang tuanya memiliki usaha di bidang pertanian hidroponik. Meskipun begitu, Daniel selalu bekerja membantu orang tuanya. Youssef dan Daniel bersahabat karib sejak kecil, meski mereka banyak perbedaan tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkannya.

Pada hari yang ditentukan, Karima pulang ke tanah kelahirannya bersama ayah dan neneknya. Bertepatan dengan akhir tahun ajaran baru. Dan bertepatan pula dengan Yannayer atau tahun baru Amazigh, suku Berber.

Karima merasa bahagia bisa kembali ke tanah kelahirannya. Dia bertemu dengan sahabat yang juga saingannya sewaktu kecil. Nouhaila. Gadis itu kian cantik dengan busana adat suku Berber yang dikenakan.

“Aku sangat merindukanmu dan juga teman-teman sekolah kita dulu.” Karima memeluk sahabatnya itu dengan derai air mata bahagia.

“Aku pun begitu, Karima. Bagaimana kabar pendidikanmu di sana?”

“Alhamdulillah, lancar, Nouhaila. Banyak orang-orang baik di sekitarku.

“Alhamdulillah, Allah selalu bersama kita, Karima.”

Kedua gadis cantik itu pun duduk di ruang keluarga Nouhaila. Di sana ayah, ibu, dan saudara-saudaranya tengah berkumpul.

“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” imbuh Nouhaila.

“Ke mana?”

“Ke desa nenekku. Kami akan merayakan Yannayer di sana. Aku harap kau tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Nouhaila. Dengan senang hati, aku akan ikut denganmu.”

Perjalanan  menuju desa nenek Nouhaila ditempuh selama kurang lebih dua jam perjalanan. Cukup jauh. Karena desa itu berada di kaki bukit, dengan pemandangan yang masih alami. Udara di sana masih sejuk dan indah.

“Subhanallah, Allaahu Akbar. Maha Karya Allah terbentang luas.” Mulutnya tiada henti berucap memuji Allah.

Nouhaila mengajaknya melihat tarian-tarian yang di gelar di salah satu tempat di pusat desa. Di tempat itu, semua orang bersuka ria merayakan tahun baru. Berbagai hidangan dan aneka kudapan khas tersaji di sana. Mereka saling mengunjungi rumah kerabat dan berbagi kebahagiaan.

Assegaz Amegez(Selamat Tahun Baru).” Nouhaila dan Karima mengucapkannya kepada orang-orang yang mereka jumpai. Kedua gadis itu tampak bahagia. Karima teringat beberapa tahun lalu, ketika ayah dan ibunya mengajaknya merayakan Yannayer bersama dengan nenek serta saudara-saudaranya. Hati Karima berdesir, ingatan tentang ibunya tidak pernah hilang.

Sore itu, Nouhaila mengajaknya ke suatu tempat menuju bukit.

 Hutan kecil.

Di hutan itu ada sebuah danau kecil dengan air yang tenang dan menyejukkan. Mereka menghabiskan beberapa menit waktu kebersamaan. Karima berjalan agak jauh, meninggalkan Nouhaila menuju bukit. Keindahan perbukitan telah menghipnotisnya. Apalagi di sekitar danau itu banyak sekali pemandangan indah.

Dia kian mendaki jalan yang menanjak. Nouhaila sudah memperingatkannya agak kembali. Tetapi Karima bersikeras ingin melihat pemandangan dari atas.

Nouhaila terus meminta Karima kembali. Dia sangat khawatir jika hari kian gelap dan dia tersesat. Karima tetap pada pendirian.

“Kembalilah, Karima! Hari akan mulai gelap, kau bisa tersesat.” Teriakan Nouhaila tidak diindahkan oleh Karima. Justru dia semakin bersemangat dengan usahanya. Memang dia naik tidak terlalu tinggi, hanya ingin melihat danau dari atas saja. Airnya terlihat indah berkilau tertimpa mentari yang mendekati senja dan hampir tenggelam. Dia mengambil gawainya dan membidik pemandangan indah itu. Beberapa titik yang menurutnya terindah menjadi sasarannya. Setelah puas, dia turun menuju tempat Nouhaila berada.

“Untunglah, kau cepat kembali. Hari kian gelap.”

“Aku tahu waktu, Nouhaila, jangan khawatir,” sungging senyum manis terpampang di bibir tipisnya,”ayo kita pulang. Bukankah nanti malam masih ada perayaan lagi?”

“Iya. Ayo!”

Kedua gadis itu pulang dengan wajah yang begitu senang. Sesekali terdengar tawa mereka yang menandakan keceriaan dan kebahagiaan.

***

Malam datang menyapa. Perayaan tahun baru Amazigh berlangsung hingga larut.Beberapa muda-mudi dan juga orang tua ikut menari dan bergembira di sana. Karima dan Nouhaila pun menyaksikannya.

Dari sudut suatu tempat, sepasang mata mengawasi Karima dan Nouhaila. Matanya tak pernah lepas memandang gadis itu. Beberapa kilasan masa lalu kembali menghampirinya. Senyum diwajahnya kembali mengembang.

“Besok kita sudah harus kembali, dan kau ada tugas kemanusiaan. Kita akan berpisah lagi, ” wajah Nouhaila berubah sendu. Karima memeluk sahabatnya itu.

“Kita masih bisa bercakap-cakap lewat video call. Jangan khawatir.” Keduanya menghabiskan waktu bersama karena  esok hari Karima sudah harus ke Casablanca, merayakan tahun baru bersama orang tuanya.

***

Ifrane-Maroko

Sepasang mata tajam nan sendu masih mengawasi sebuah bangunan lama. Ada kerinduan dirasakannya ketika menginjakkan kakinya kembali di sini, seperti beberapa tahun lalu. Saat ia masih kecil.

“Yazid… ! Masuklah, Nak!” teriakan seorang qnaita mengalihkan perhatiannya.

“Iya, Ibu.” Yazid mendatangi ibunya yang terlihat menahan dinginnya udara.” Ibu sebaiknya jangan terlalu lama di luar, sesak ibu akan kumat lagi.”

Pemuda itu memapah ibunya masuk ke dalam rumah. Didudukkanntya wanita itu pelan-pelan.

“Aku akan buatkan lemon madu untuk Ibu. Tunggu sebentar.” Gerakannya sangat cekatan mengolah lemon dan madu, ditambah roti yang telah diolesi mentega dan minyak zaitun. Kesukaan ibunya.

“Minumlah, Bu.” Perlahan-lahan wanita itu meminum lemon madu hangat buatan putranya. Badannya bersandar pada  kursi kayu lama yang sudah mulai rapuh.

“Kau merindukan ayahmu, Yazid?” Tiba-tiba kata-kata itu meluncur dari bibir ibunya.

Hati pemuda itu merasa perih, ada kerinduan terdalam pada sosok ayahnya yang pergi beberapa waktu lalu.

“Iya. Tentu saja. Seharusnya, liburan kita akan seperti dulu, ketika aku masih kecil. Aku dan Ismail akan lari berkejaran sambil melemparkan bola-bila salju.”

Yazid terdiam. Dia merasakan kehilangan sosok pahlawan baginya.

‘Tentu saja aku akan merindukan tempat ini karena liburan beberapa tahun lalu telah membuat kita bertemu. Dan hingga detik ini aku masih berharap bisa bertemu denganmu meski dalam bentuk lain.’

Hati Yazid begitu merindukan seseorang. Seseorang yang tidak bisa dilupakannya saat pertama kali bertemu, di masa itu.

‘Aku yakin, bahwa yang kulihat selama ini adalah dirimu. Dirimu yang dulu. Yang suatu hari kan kujadikan ratuku.’

“Apa yang kau pikirkan, Nak?”

Yazid menggeleng. Hatinya masih menggenggam harapan terbaiknya.

Sebiru Langit Casablanca

Sebiru Langit Casablanca . Ungkapan Cinta

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image