Beranda / Fiksi / Cerbung / 6. Kisah Kita

6. Kisah Kita

DEMI WAKTU 1600X900
This entry is part 7 of 8 in the series Demi Waktu (Der Zeit)

“Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, semua sudah menjadi kehendak-Nya. Kita hanya tinggal menjalani.”


Hans dan Liona berpelukan. Mereka menangis.

Liona merenggangkan pelukannya, duduk di sebelah Hans.

“Maafkan aku, adikku. Aku …,” Hans menjeda ucapannya, “aku ternyata belum bisa menerima keadaan jika ternyata akulah yang menjadi penyebab orang tua kita tiada.” Hans tertunduk. Perasaannya masih belum benar-benar pulih. Wajahnya tegang. Pipinya memanas. Air matanya merebak.

Liona bisa memahami. Butuh waktu bagi Hans untuk menata kembali hidupnya setelah kegagalannya. Dia harus didukung dengan kasih sayang dan perhatian. Selain itu, Hans harus sering diajak bercerita dan bertukar pikiran. Mengembalikan rasa percaya diri yang memudar dan menyusunnya kembali terasa sangat tidak mudah. Semua orang di rumah itu berusaha membuat Hans untuk kembali bangkit.

“Sudahlah, Kak. Jangan salahkan dirimu. Semuanya sudah takdir. Kita manusia hanya bisa menjalani kehidupan ini.”

Hans mengangguk. Meski terkadang emosinya tidak terkontrol dan belum stabil, dia berusaha untuk mengendalikan dirinya.

“Beristirahatlah, Kak. Kau harus banyak melonggarkan pikiranmu. Jangan salahkan dirimu terus. Kami semua sangat menyayangimu. Bahkan kini, paman, bibi, serta Müller juga tinggal bersama kita. Begitu juga dengan  Ningrum.”

Hans menoleh mendengar satu nama asing yang baru saja disebutkan oleh Liona. “Siapa, Ningrum?” tanyanya.

“Dia temanku, orang Indonesia. Gadis yang waktu itu aku ceritakan kepadamu.”

“Oh, iya. Aku senang kau  memiliki teman yang baik.”

“Tentu saja, Kak. Ningrum tidak hanya cantik dan menarik. Dia juga  cerdas dan pekerja keras. Aku salut sekali dengan caranya memperlakukan orang lain. Dia juga gemar menolong orang dan sangat ramah.

Hans terdiam. Dia teringat gadis berwajah eksotik yang beberapa waktu sempat berdebat dengannya. Dia ingin tahu siapa sebenarnya gadis itu.

***

Keesokan harinya, Ningrum mendatangi rumah Liona. Gadis itu ternyata sedang pergi bersama Müller dan kedua orang tuanya. Hanya Hans yang ada di rumah. Dia menyambut kedatangan Ningrum dengan tatapan dingin dan acuh.

“Duduklah!”

Ningrum tersenyum. Dia melihat ada  perubahan pada diri Hans. Dia pun menanyakan kabar Hans, “Bagaimana kabarmu, Hans?”

“Seperti yang kau lihat. Aku baik.” Hans menanggapinya lagi dengan dingin. “Apa kau mau bertemu Liona?”

“Iya.Tentu saja.”

“Dia baru saja pergi.”

“Aku tahu. Dia baru saja memberitahuku. Aku akan menunggunya.”

Hans berlalu meninggalkan Ningrum sendiri, menuju tempat di mana dia biasa menenangkan diri. Tanpa sepengetahuan Hans, Ningrum diam-diam mengikutinya. Dia teringat cerita Dietrich dan Liona beberapa waktu lalu, jika kondisi kejiwaan Hans belum begitu stabil dan masih harus dalam pengawasan. Melalui satu celah kecil di sebelah pintu, Ningrum memperhatikan setiap gerak-gerik Hans. Pemuda itu tampak merangkai beberapa potongan-potongan puzzle menyerupai pesawat. Setelah beberapa saat, dia berhenti. Memperhatikan apa yang baru saja telah dilakukannya.

Hans terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba saja dia mengobrak-abrik puzzle  itu. Ningrum terkejut. Dia segera berlari masuk ke kamar Hans.

“Hans, hentikan! Apa yang kau lakukan, Hans?” Ningrum mencekal tangan Hans, mencegah pemuda itu agar tidak bertindak lebih anarkis.

“Mengapa kau mencegahku? Apa pedulimu?” sergahnya dengan tatapan mata kebencian. Ditepisnya tangan Ningrum engan kasar.

“Hans, sadarlah! Kau telah membuat kamarmu kotor. Harusnya kau bisa menyimpan hasil rancanganmu ini agar kelak bisa kau pajang di sini.”

“Untuk apa? Semuanya sia-sia!” tegasnya sinis.

“Sebagai rasa kebanggaanmu, Hans. Hasil perjuanganmu. Kau harus hargai hasil karyamu sendiri! Tidak seharusnya kau lakukan hal ini!” Ningrum memunguti keping demi keping puzzle  yang berserakan di lantai. Menyimpamnya kembali le tempatnya.

“Tidak perlu kau bersihkan! Biarkan saja. Ich mochte nich[1]!” sentaknya lagi. Dia tidak suka ada orang lain ikut campur dengan urusannya.

“Hans, aku tahu apa yang kau rasakan. Setidaknya, singkirkanlah semua kenangan buruk itu dari pikiranmu.” Ningrum berusaha setenang mungkin membuat suasana hati Hans melunak.

“Kau takkan tahu, Ningrum! Kau takkan pernah bisa merasakan apa yang kurasakan saat ini!” ucapnya dengan nada tinggi.

“Aku bisa merasakannya, Hans. Seperti yang dirasakan Liona juga. Dia pun merasa kehilangan, tetapi tidak berlarut-larut begini.”

“Tapi akulah penyebab orang tuaku tiada.” Hans tetap menyalahkan dirinya.

“Tidak. Bukan begitu, Hans. Semuanya sudah takdir. Itu bukan salahmu. Itu takdir, Hans. Jalan hidup yang kita jalani. Jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri. Itu murni kecelakaan.”

Seumur hidup, baru kali ini Hans mendengar seseorang berbicara dengan bijak. Namun, dia belum mengerti dengan kata-kata; takdir.

“Takdir? Apa yang kau maksud dengan takdir? Selama ini aku jauh dari pemikiran dan kata-kata seperti itu.” Hans mendekat ke arah Ningrum dengan sedikit lebih tenang. “Duduklah! Maafkan aku.”

Ningrum duduk berhadapan dengan Hans di dekat jendela kamarnya. Dia ingin memberitahu Hans sesuatu.

“Kau tidak bersalah padaku, Hans. Janganlah terlalu menyalahkan diri sendiri. Inilah jalan hidupmu.”

“Kau berkata ini takdir?”

“Iya. Ini adalah takdir. Ketentuan dari Tuhan  kepada setiap hamba-hambaNya.”

Hans tertegun mendengar kata-kata Ningrum. Baru kali ini dia mendengar seseorang menyebut nama Tuhan dengan penuh penekanan. Hans mulai tertarik dengan setiap ucapan Ningrum. Dia memintanya untuk bercerita.

“Ceritakanlah! Siapa dirimu sebenarnya? Bagaimana kau bisa sampai di sini? Bisakah kau ceritakan?” pinta Hans setengah meninggi nadanya.

Ada kesungguhan terpancar dari mata Hans. Dia menelisik setiap wajah Ningrum dengan saksama. Ada keteduhan dari mata gadis itu. Begitu memesona dirinya. Ada sesuatu tersembunyi yang dimiliki Ningrum.

Ningrum bercerita, “Aku menjalani hidupku dengan tidak mudah. Aku sudah yatim piatu sejak kecil, Hans. Aku sudah tidak memiliki orang tua sejak bayi,” tutur Ningrum. Kedua matanya mengembun. Genangan itu akhirnya meluncur membasahi pipinya. Tenggorokannya tercekat menahan tangis. Hans merasa bersalah.

“Maaf, jika aku menguak luka-lukamu.”

Ningrum menggeleng, “Tidak, Hans. Tidak apa-apa. Kau berhak bertanya.”

“Teruskanlah!”

“Sejak kecil aku hidup di panti asuhan. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah kedua orang tuaku. Dari cerita orang tua asuhku, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan ketika aku masih bayi. Mereka baru saja pulang dari luar kota bersama perawat yang mengasuhku. Tapi naas, mobil yang dikendarai almarhum ayahku mengalami kerusakan mesin dan rem blong hingga akhirnya kecelakaan tak terelakkan. Kedua orang tuaku dan pengasuhku meninggal seketika. Sedangkan aku ditemukan selamat tak kurang suatu apapun.” Ningrum menjeda kisahnya. Menahan sesak di dada yang membuatnya larut dalam kesedihan.

“Maafkan aku, Ningrum.” Berulang kali, Hans meminta maaf padanya. Dia merasa beruntung sekarang karena bisa menjalani kehidupan dengan kedua orang tuanya hingga dewasa.

“Teruskanlah! Aku akan mendengarkannya,” pinta Hans. Menatapnya lekat.

“Pihak keluarga  kerabatku tidak ada yang mau mengasuhku. Entah apa alasannya. Akhirnya seseorang di antara mereka membawaku ke panti asuhan dan menitipkanku di sana. Aku bersyukur Hans, orang tua angkatku sangat menyayangiku, seperti anak mereka sendiri. Aku  memiliki saudara-saudara di panti. Kami tumbuh bersama dalam suka dan duka.”

Ningrum mendongakkan wajahnya. Menatap Hans sembari menghapus sisa-sisa air matanya.

“Aku belajar dan berusaha keras agar memiliki prestasi membanggakan. Berharap  bisa mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan pendidikanku. Dengan doa tiada henti dan usaha belajarku akhirnya aku terpilih menjadi salah satu siswa yang mendapatkan bea siswa. Aku memilih di negaramu ini.”

Hans makin tertarik. Dia bertanya kepada Ningrum, “Adakah keterkaitan antara doa dan keberhasilan?”

Hans begitu penasaran dengan Ningrum.


[1] Aku tidak mau

Demi Waktu (Der Zeit)

. Gestanden Aus Ruinen (Bangkit dari Reruntuhan) . Dekatlah denganku

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *