Apa yang beberapa hari silam seorang rekan penulis alami, sesama anak Tuhan, adalah satu dari banyak mukjizat masa kini. Tuhan tidak selalu membuktikan keberadaan diri-Nya lewat hal-hal besar atau ajaib. Bisa selamat dari kejadian tak terduga, dilindungi dari malapetaka atau musibah, itu juga bukti kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Rekan penulis itu percaya jika peristiwa pagi itu (agar tidak membuat keluarganya khawatir, penulis diminta untuk tidak menceritakannya secara detail) adalah cara Tuhan berkata: “Kamu tidak boleh lengah. Hari ini masih Kuberi kamu perlindungan sekaligus peringatan…” bahwa rekan penulis tidak selamanya jadi ‘si paling waspada’ atau ‘si paling hati-hati’. Sebagian dari apa yang terjadi bukan hanya kekhilafan orang lain, kurang waspadanya rekan penulis juga ‘berperan’ di dalamnya.
Apabila Tuhan tidak turun tangan, mungkin saat ini rekan penulis sudah tidak dapat membagikan kisah nyata ini. Beliau mengumpamakan dirinya ibarat seekor unta berhasil lolos dari lubang jarum, atau tokoh film yang nyaris kebagian sad ending. Intinya, rekan penulis nyaris celaka, namun… ia selamat. Bukan karena keberuntungan, hoki, kebetulan bahkan kesigapannya. Hanya sepersekian detik saja ibarat sebuah adegan film laga diterjang anak panah namun luput, sekian sentimeter dari maut, sepersekian detik yang sangat menentukan.
Kami percaya, di balik layar kejadian tersebut, ada kuasa tak terlihat yang melindungi. Rekan penulis sudah berusaha untuk berhati-hati. Merasa semuanya aman terkendali. Ternyata, itu tak selalu benar. Sewaspada apapun, sepiawai apapun berkelit bak tupai melompat, kita bisa jatuh, makhluk hidup hanyalah sekeping jiwa lemah yang bisa lengah.
Trauma? Kapok? Barangkali ada yang pernah mengalami. Rekan penulis tersebut, syukurlah tidak. Hikmah yang berhasil ditariknya; ia berusaha untuk lebih berhati-hati. Membagikan kisah ini, rekan penulis tak bermaksud menakut-nakuti kita, melainkan agar kita mau belajar untuk tidak hanya mengandalkan kata ‘biasanya’ serta pengalaman rutin/sehari-hari kita. Andalkanlah Tuhan.
Saat kejadian itu, seakan-akan ada ‘rem tak terlihat’ yang tiba-tiba bekerja. Ada tembok tak kasat mata yang menghalanginya, meng-cancel alias membatalkan kemalangan yang seharusnya menimpa. Apa yang seharusnya menjadi malapetaka, secara ajaib diluputkan-Nya. Bukan semata-mata kebetulan, melainkan karena selama ini percaya pada pemeliharaan dan penjagaan Tuhan.
- Anak-anak Tuhan bukan orang spesial alim rohani luar biasa, sama saja dengan semua manusia pada umumnya; bisa lupa berdoa, kadang kurang bersyukur, bahkan jatuh ke dalam dosa. Syukurlah Tuhan kita bukan hanya Maha Pengampun, Dia juga Maha Mengawasi. El Roi (The God Who Watches), demikianlah lewat semua mata yang ada, Dia menjaga langkah-langkah kita.
- Kita tidak kebal dari musibah, sakit-penyakit atau kemalangan. Akan tetapi dengan iman-keyakinan yang semakin kuat setiap kali mengalami/membuktikan, semakin jarang pula kita mengalami ‘masa-masa roda berputar ke bawah’. Ingatkah pada lirik sebuah lagu rohani masa kanak-kanak? Apabila kita jatuh, tak sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangan kita.
- Kewaspadaan dan kehati-hatian tetap diperlukan dan harus terus diasah. Jika terlalu abai, santai, lengah, mengandalkan diri semata-mata, kita cenderung merasa lucky, bahkan berkata (dalam hati): Ah, saya bisa sendiri. Di sanalah malapetaka sering datang tiba-tiba.
Kesimpulan: Kita hidup dalam pemeliharaan Tuhan dan hanya atas izin-Nya, akan tetapi tetap harus berjaga-jaga. Seperti halnya kejadian baik, kejadian kurang baik masih bisa terjadi. Tuhan bukannya ‘jahat’ atau ‘kurang adil’, melainkan sedang menguji apakah kita (masih) ingat kepada-Nya, apakah kita terus mengandalkan-Nya, serta apakah kita bersyukur apabila Dia meluputkan?
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 7 April 2026











