Palestina, 5 Desember 2023
Kota-kota di negeri yang berkah ini porak poranda lagi. Tak sedikit warga sipil yang syahid, begitu pun yang terluka sudah menginjak angka 500 lebih. Bangunan, baik rumah-rumah dan lainnya rata dengan tanah.
Di markas, kami mempersiapkan strategi. Sepeninggal Komandan Jaber Mehfooz, karena syahid dalam mempertahankan tanah air, Hurriyat Az-Zawaid memimpin dalam rapat perang kali ini, dan mengangkat Abu Latif Jabarin sebagai wakilnya.
“Abu Latif, kau dan pasukan 3 Jundullah berada pada front pertahanan.” Kata Komandan Hurriyat Az-Zawaid.
“Namun kau takkan sendiri, nanti akan dibantu oleh Zahratul Widad di pasukan 2 Jundullah sebagai pasukan pendukung.” Lanjutnya.
“Sementara aku dan pasukan 1 Jundullah berada pada posisi front penyerangan sendiri.”
Akan tetapi, Wakil Komandan Abu Latif tidak setuju dengan keputusan Komandan Hurriyat Az-Zawaid. Ia mengkhawatirkan nyawa sang komandan seperti yang sudah-sudah. Hampir semua komandan yang berada di front penyerangan kembali dengan jasad tanpa nyawa.
“Abu Latif, jika aku syahid dalam medan tempur, itu adalah cita-cita tertinggi sebagai umat Islam. Aku percayakan pasukan Jundullah kepadamu.” Jawab Komandan Hurriyat Az-Zawaid, dengan menatap mata Abu Latif penuh percaya diri dan keyakinan.
Melihat sikap Hurriyat Az-Zawaid, Abu Latif terpaksa menyetujui rencana komandannya, meski perasaannya tidak terima.
Setelah rapat perang selesai, seluruh pasukan Jundullah berada pada posisinya masing-masing. Sementara aku, dan teman-teman membuat tenda darurat di samping markas.
Oh, iya. Setelah pertempuran dahsyat beberapa waktu lalu, kenapa markas Jundullah tidak hancur? Itu dikarenakan bangunannya berbentuk seperti bunker. Tak hanya itu, di bagian atasnya dipasang anti deteksi radar, sehingga rudal-rudal yang dilancarkan oleh tentara zionis tak mampu membaca posisi markas. Aku sempat bertanya kepada Hurriyat tentang markas ini, dan Hurriyat menjawab, markas ini dibuat oleh ilmuwan besar yang cerdas. Ilmuwan tersebut lulusan di sebuah universitas terkenal di Mesir. Lalu, aku bertanya lagi tentang keberadaannya. Hurriyat menjawab, ilmuwan itu sedang melakukan melakukan koalisi untuk dirinya setelah penelitian panjang. Yaitu bergabung dengan tentara militan Hayat Tahrir Asy-Syam, untuk menggulingkan rezim Bashar Assad. Hurriyat pun berkata, tentara militan Hayat Tahrir Asy-Syam memiliki kesamaan dengan Pasukan Jundullah. Maka aku bertanya tentang nama ilmuwan tersebut, Hurriyat menjawab, ia adalah Abdul Gamal An-Nakith. Setelah paham, aku pun hanya mengangguk.
Bertepatan hari ini, Halil dan Joseph akhirnya tiba dengan membawa begitu banyak bantuan dari Indonesia. Semuanya dikumpulkan di markas terlebih dahulu.
“Esok kita bagikan, ya.” Kataku kepada Hurriyat Az-Zawaid.
“Baik. Agar lebih aman, mari kita kumpulkan warga sipil ke markas ini.” Jawab Hurriyat.
Aku pun setuju.
Palestina, 6 Desember 2023
Fajar mulai menyingsing, di tengah porak porandanya negeri ini. Namun semangat untuk berjuang tak pernah lelah. Seluruh Pasukan Jundullah mengatur warga sipil untuk berkumpul di markas. Dengan menggunakan kendaraan operasi, mereka menjemput warga sipil untuk bersama-sama menunaikan sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu bertahan hidup dengan sekuat tenaga.
Setelah seluruh warga sipil berkumpul, bantuan pun dibagikan. Tak ada satupun warga yang tak kebagian, baik pakaian, makanan, selimut, dan kebutuhan lainnya. Mereka begitu senang menerima bantuan kami. Dari pria, wanita hingga anak-anak senyum mereka begitu lepas. Mataku berkaca-kaca, melihat senyum mereka. Lalu, seluruh warga sipil bersorak,
“Panjang umur Indonesia, panjang umur Indonesia, panjang umur Indonesia!”
Mendengar sorakan itu, aku tak dapat membendung lagi air mataku. Aku menangis haru sekaligus pilu dan nyeri. Bahagia, sedih dan marah jadi satu. Tak hanya aku, Ridwan, Yudha, Azmi, Halil dan Joseph pun menangis. Hingga kami menghampiri mereka untuk memeluknya—sebuah isyarat “Kami ada disini bersama kalian” Komandan Hurriyat Az-Zawaid, melihat kami dengan haru, namun tegar.
Suasana di tanah Palestina ini sejenak berubah menjadi melankolis. Warna merah cekam seketika membiru bahagia.
“Kalian adalah bangsa yang luar biasa, Allah takkan mengingkari janji kepada kalian.” Aku berkata lirih kepada mereka. Tak ada kata kuatlah kalian, sebab mereka sudah begitu kuat menghadapi penjajahan ini selama bertahun-tahun.
Selepas itu, mereka kembali dengan diantar oleh Pasukan Jundullah. Baik ke rumah mereka maupun ke tenda pengungsian. Meski hancur, akan tetapi masih ada beberapa rumah yang berdiri tegak, dan layak untuk dihuni. Apalagi tidak hanya kami yang datang sebagai relawan, namun beberapa negara pun sudah mengirimkan relawan untuk membantu Palestina. Meski tak mampu memulihkan seperti sedia kala, paling tidak membantu untuk menjaga moral warga Palestina, bahwasanya semangat masih ada.
Palestina, 29 Januari 2024
Selama 1 bulan ini, setelah 7 hari dari rapat perang, zionis melancarkan lagi serangan yang sangat brutal dan membabi buta. Jalur Gaza dalam posisi benar-benar genting—statusnya melebihi siaga 1. Tentara Jundullah merespon dengan sekuat tenaga, akan tetapi kalah di persenjataan. Maka, tak sedikit dari Pasukan Jundullah yang syahid sehingga dalam posisi tertekan. Namun syukur, Komandan Hurriyat Az-Zawaid, dan Wakilnya, Abu Latif Jabarin selamat.
Dengan kondisi seperti ini, Komandan Hurriyat Az-Zawaid, memerintahkan kepada Wakilnya, Abu Latif Jabarin untuk mengevakuasi warga sipil ke Raffah dan berjaga disana. Sementara ia dan adiknya, Zahratul Widad tetap di Jalur Gaza. Tidak hanya itu, Hurriyat Az-Zawaid menugaskan Ridwan, Joseph dan Yudha menemani Abu Latif, sementara aku, Azmi dan Halil tetap di Jalur Gaza.
Kondisi Palestina semakin hancur lebur. Akan tetapi, Pasukan Jundullah tetap melakukan perlawanan tanpa sedikit pun gentar. Zahratul Widad bersama Pasukan 2 berada di pos depan ribath untuk membantu beberapa Pasukan 1 yang ditugaskan oleh Komandan Hurriyat Az-Zawaid. Zahratul Widad adalah seorang wanita yang cerdas dan sangat berani. Meski belum dapat mengusir sepenuhnya penjajah zionis, namun beberapa strateginya mampu menghalau tentara zionis agar tak masuk lebih dalam lagi ke tanah yang suci ini. Kali ini, Zahratul Widad membuat formasi pertahanan penuh—sesekali menghabisi 1, 2 tentara zionis yang menginjak tanah Gaza. Strateginya bisa dibilang efektif untuk menekan pergerakan invasi zionis.
Sementara aku, Azmi dan Halil seperti biasa membuat tenda darurat bagi Pasukan Jundullah. Sebagai warga yang tidak terbiasa di lingkungan peperangan, tentunya ada perasaan takut berada di tengah-tengah konflik. Namun, dengan keyakinan penuh dan hati yang tulus, kami menepis rasa takut itu. Terlebih, keberadaan kami disini membuat moral mereka bertambah. Sebab mereka, tidak merasa berjuang sendirian. Maka, kami pun mengokohkan azam kami disini.
Palestina, 17 Mei 2024
Setelah intensitas peperangan yang tidak terlalu tinggi—dimana ada jeda gencatan senjata, kami fokus pada pemulihan di Rafah. Hanya Komandan Hurriyat Az-Zawaid, dan pasukan 1 yang berada di jalur Gaza untuk melakukan Ribath. Sebab, selama bertahun-tahun jalur itu adalah jalur yang sering mendapatkan serangan tentara zionis.
Akan tetapi, pada malam hari tanggal 17 Mei 2024, Rafah mendapatkan serangan rudal yang begitu dahsyat, brutal, dan paling berdarah yang dilakukan oleh tentara zionis. Banyak yang berhamburan keluar dari tenda pengungsian, juga tak sedikit yang meninggal di tempat tanpa terkecuali.
Tak sedikit balita-balita Palestina sudah terbujur kaku berselimut kafan bermotif putih merah. Jasad-jasadnya berjejer di atas tanah menuju tempat pembaringan terakhir. Aku dan teman-teman yang mendirikan tenda di paling pojok, masih selamat dari serangan itu. Namun, alangkah pilunya melihat warga sipil Palestina diperlakukan tak manusiawi oleh kebiadaban zionis.
Beruntungnya, Zahratul Widad dan sebagian besar pasukan 2 Jundullah masih selamat dari serangan itu. Hanya beberapa yang terluka, dan hanya 2 orang yang meninggal. Begitu pun Wakil Komandan Abu Latif Jabarin dan pasukan 3 Jundullah. Dengan situasi seperti ini, maka Abu Latif Jabarin memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiaga, sementara Zahratul Widad diperintahkan untuk mengirim kabar kepada Komandan Hurriyat Az-Zawaid.
“Semua pasukan bersiaga penuh! Tidak hanya mereka yang punya rudal, kami pun punya. Maka, berjuanglah dalam mempertahankan tanah air kita.” Kata Abu Latif Jabarin memberi semangat kepada para pasukannya.
Semua pasukan pun berjaga dan melakukan pembalasan kepada tentara zionis yang berada di dekat Rafah. Warga sipil yang masih tersisa, diungsikan ulang tepat ke pojok-pojok Rafah agar tidak terlalu mendapatkan dampak yang berarti. Selepas mengirim kabar, Zahratul Widad membantu kami membuat tenda pengungsian baru bagi warga sipil Palestina.
Setelah beberapa lama—pada waktu dini hari, Komandan Hurriyat Az-Zawaid dan beberapa pasukan 1 tiba di Rafah, lalu bertanya tentang keadaan terkini.
“Tentara zionis sedikit mundur setelah kami melakukan serangan balasan. Sehingga warga sipil yang tersisa masih bisa terselamatkan.” Jawab Abu Latif Jabarin.
“Baiklah. Pasukan 2 dan 3, buatlah benteng perlindungan berbentuk huruf U di dekat tenda pengungsian menghadap ke arah barat. Sementara aku dan pasukan 1 berganti untuk melakukan penjagaan dan penyerangan.” Kata Hurriyat Az-Zawaid memberi instruksi.
Serentak semuanya bergegas untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Palestina, 18 Mei 2024
Tepat pukul 11.00 siang waktu setempat, kami mendapatkan berita bahwa puluhan tentara zionis mati, ratusan tentara zionis luka-luka, dan beberapa pesawat tempur mereka hancur lebur. Tak hanya itu, sekitar 6 tank baja mereka pun rusak. Ditambah puluhan tentara lainnya mengalami depresi berat.
Setelah diselidiki, ternyata tentara zionis digempur oleh tentara militan Hayat Tahrir Asy-Syam, yang dibantu oleh pasukan militan Iran dengan menggunakan rudal balistik. Kami terkejut sekaligus senang, karena mendapatkan bantuan. Akan tetapi, bagi Iran, mereka punya urusan tersendiri terkait serangan mereka terhadap tentara zionis.
“Abdul Gamal An-Nakith, akhirnya kau berhasil memenangkan pertempuran politik melawan rezim Bashar Assad.” Kata Komandan Hurriyat Az-Zawaid.
“Saudara-saudaraku, akan aku ceritakan siapakah Abdul Gamal An-Nakith.” Lanjutnya kepada kami relawan Indonesia.
Dengan demikian, setelah serangan tersebut tentara zionis menandatangani gencatan senjata yang kesekian kalinya selama rentang waktu 6 bulan lamanya. Maka, kondisi ini dapat kita maksimalkan untuk melakukan pemulihan kembali bagi Pasukan Jundullah dan warga sipil Palestina. Situasi pun kembali damai, dan warga sipil dapat kembali ke kediamannya mereka masing-masing—meski tempat tinggal mereka belum sepenuhnya pulih.
Palestina, 23 Mei 2024
5 hari ini situasi benar-benar damai. Tak ada serangan-serangan kecil dari tentara zionis apalagi serangan besar. Ini membuktikan perjanjian damai kali ini memiliki peran yang begitu kuat. Hari-hari damai ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk pemulihan dengan sebaik mungkin. Maka, Komandan Hurriyat Az-Zawaid segera memberi instruksi kepada pasukannya untuk segera bergerak mendatangi warga. Pemerintah Palestina telah menyerahkan penuh keamanan negara kepada Pasukan Jundullah, sementara mereka hanya berada di posisi birokrasi dan diplomasi.
Wakil Komandan Abu Latif Jabarin, Zahratul Widad dan sebagian besar Pasukan Jundullah melakukan recovery terhadap warga sipil Palestina. Sementara aku dan teman-teman berada di markas bawah tanah, bersama Komandan Hurriyat Az-Zawaid.
Di markas bawah tanah, Hurriyat Az-Zawaid menceritakan seorang ilmuwan yang bernama Abdul Gamal An-Nakith. Ternyata ilmuwan itu adalah Muhammad Zayed Al-Fatteh. Kami terkejut, karena kami tahu bahwa Zayed menjadi seorang ilmuwan sekaligus agen yang dikirim oleh Kesatuan Pasukan Jundullah. Hurriyat Az-Zawaid menceritakan, bahwa selepas Komandan Mahmoud Anam, yang meneruskan tampuk kepemimpinan adalah Muhammad Zayed Al-Fatteh. Namun, karena sikap yang terlalu berani Zayed kepada tentara zionis, ia terluka parah hingga kakinya mengalami cedera permanen. Itulah satu-satunya kesalahan Komandan Mahmoud Anam yaitu membiarkan Muhammad Zayed Al-Fatteh melakukan tindakan sendiri. Karena pikirnya, dengan kecerdasan Zayed, Pasukan Jundullah akan mampu menghentikan tentara zionis. Namun, takdir berkata lain, Zayed salah memperhitungkan timing pergerakan sehingga ia mengalami luka berat. Dengan sikap yang terlalu berani itu, Zayed menjadi incaran tentara zionis. Inilah alasannya kenapa markas bawah tanah ini dibuat.
Sebelum markas ini berdiri, seluruh pasukan berpindah markas ke bawah tanah ini, dan markas yang sebelumnya dihancurkan. Hingga sampailah pada insiden Muhammad Zayed Al-Fatteh, awalnya markas ini pun hendak dihancurkan juga. Akan tetapi, Hurriyat Az-Zawaid tidak setuju, sebab keberadaan markas bawah tanah ini masih aman dari deteksi tentara zionis. Maka, setelah pulih, Muhammad Zayed Al-Fatteh diberi pengertian, bahwasanya dirinya tidak dapat meneruskan lagi sebagai Anggota Kesatuan Pasukan Jundullah. Demi keamanan dirinya—karena sedang diincar oleh tentara zionis, juga keamanan seluruh pasukan, maka Muhammad Zayed Al-Fatteh dikirim secara diam-diam melalui jalur laut ke Mesir bersama Komandan Mahmoud Anam. Dengan bantuan intelijen Turki yang ada di Palestina, mereka membuat paspor dan nama baru di identitasnya, yaitu Abdul Gamal An-Nakith agar dapat berangkat dengan aman. Beruntungnya, tanpa harus melakukan penyamaran, Komandan Mahmoud Anam dan Muhammad Zayed Al-Fatteh dapat pergi ke Mesir dengan selamat. Akhirnya, mereka menetap disana. Komandan Mahmoud Anam melepaskan jabatannya, dan menjadi warga sipil Mesir. Jabatan komandan ia berikan kepada Jaber Mehfooz. Sementara Muhammad Zayed Al-Fatteh dengan identitas barunya melanjutkan perjuangannya sebagai pelajar, dan lulus sebagai pelajar terbaik di Mesir.
Setelah kelulusannya, 2 bulan berselang Mahmoud Anam meninggal dunia. Ia adalah sang mentor, sekaligus ayah bagi Zayed. Meski merasa kehilangan yang mendalam, Zayed tak patah semangat dalam melanjutkan hidupnya. Ia memulai karirnya sebagai ilmuwan di salah satu departemen di Mesir hingga membawahi satu diantara kontraktor ternama disana.
1 tahun berselang, Muhammad Zayed Al-Fatteh mengirim kontraktor tersebut kesini untuk melakukan pembangunan markas yang lebih baik, dan membuat alat anti deteksi. Lagi-lagi dengan bantuan intelijen Turki, mereka menyeberang dari Mesir. Hingga sampailah dimana markas ini, yang kalian lihat sekarang.
Mendengar cerita Komandan Hurriyat Az-Zawaid, kami tertegun dan terpaku. Perjuangan Muhammad Zayed Al-Fatteh begitu luar biasa, pun perjuangan Hurriyat Az-Zawaid, adiknya, Zahratul Widad, dan para komandan lainnya. Mereka semua adalah para pewaris deru intifada. Meski kemerdekaan tanah Palestina masih belum pasti, namun semangat mereka tak pernah padam.
Atas perintah Komandan Hurriyat Az-Zawaid, kami harus kembali ke Indonesia. Ia merasa dukungan kami sudah lebih dari cukup.
“Ini adalah masa damai. Kalian harus pulang ke tanah air kalian. Ini adalah kesempatan kalian, karena—untuk saat ini zionis tak akan menghalang-halangi jalur transportasi.” Kata Komandan Hurriyat Az-Zawaid kepada kami.
Bahkan, ia mengucapkan banyak terima kasih, karena jika bukan melalui kami, mungkin ia takkan pernah menjadi pejuang, dan berjumpa dengan adiknya yang tercinta. Dengan perasaan penuh haru, kami harus meninggalkan tanah yang suci ini. Pukul 14.00 siang waktu setempat, kami pun terbang ke tanah ibu pertiwi.
Tangerang, 14 Desember 2025











